Bed Friend

Bed Friend
Hubungan Keluarga


__ADS_3

Zack yang kini merasa begitu penasaran lalu melihat penampilan Nala dari atas sampai bawah, menatapnya dengan begitu lekat hingga baru menyadari kalau penampilan Nala memanglah tidak tampak seperti orang miskin. Dia bahkan baru menyadari jika pakaian yang Nala kenakan adalah barang-barang branded, dan sialnya Zack baru menyadarinya sekarang. Belum lagi wajah cantik Nala yang yang begitu terawat.


'Sialll! Kenapa aku baru memperhatikan penampilan gadis ini? Apa selama ini aku terlalu benci dengan sikapnya hingga keanehan yang begitu nyata seperti ini saja aku tidak tahu! Aku yakin semua yang dikatakan oleh gadis ini pasti bohong! Aku yakin, dia bukanlah orang tidak mampu! Lalu mobil yang dia gunakan untuk menyerempet mobilku pasti juga mobil miliknya sendiri! Bukan mobil milik temannya seperti apa yang dia ceritakan sebelumnya! Shitttt, aku benar-benar dibodohi oleh wanita ingusan seperti dia! Belum lagi sikapnya yang begitu menyebalkan! Selama ini aku sudah dipermainkan oleh gadis seperti ini?' batin Zack yang mulai dihinggapi emosi, rahangnya mulai mengeras dan sorot matanya memerah .


Dia kemudian menatap ponsel Nala kembali, dan ingin berusaha mencari tahu tentang siapa Nala sebenarnya. Namun, saat dia akan membuka kunci ponsel itu, ternyata Nala mem-pasword ponselnya. Zack pun hanya berdecak kesal sambil melirik pada Nala.


"Siapa sebenarnya wanita menyebalkan ini? Apa dia anak buah dari musuhku?" gumam Zack, untuk saat ini tampaknya dia harus bisa mengekang egonya dan bersikap tidak terjadi apa-apa pada Nala. Ya, Zack sebenarnya baru menyadarinya hari ini saat mulai merasa sedikit curiga, dan itu pun baru dia sadari saat tadi pagi melihat semua tingkah Nala, bahkan menyuapi dia pun tak bisa. Tapi Zack benar-benar tak menyangka jika Nala ternyata lebih dari apa yang dia duga.


Perlahan, dia pun melangkahkan kakinya menuju ke brankar dan merebahkan kembali tubuhnya ke brankar itu. Zack kemudian menghembuskan nafasnya lalu mengambil ponselnya di atas nakas untuk menghubungi anak buahnya.


[Halo Juan.]


[Iya Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?]


[Tolong kau cari tahu siapa wanita yang beberapa hari ini menjadi asisten pribadiku.]


[Maksud Tuan Nyonya Caca?]


[Bukan, nama aslinya Nala.]


[Baik Tuan, akan saya cari tahu siapa dia sebenarnya.]


[Jangan lupa cari tahu juga apa motifnya mendekatiku.]

__ADS_1


[Siap laksanakan, Tuan.]


Zack kemudian menutup teleponnya, lalu menatap wajah polos Nala yang kini tertidur lelap di atas sofa. Terlintas kembali dalam benak Zack, semua sikap manja dan menyebalkan wanita itu. Saat mengingat semua itu, rasanya begitu sulit untuk diterima oleh nalar jika Nala memiliki niat buruk padanya. Semua sikap polos Nala, sangat alami, dan tidak dibuat-buat, dan Zack merasa jika Nala bukan anak buah dari musuhnya yang menginginkan kematiannya. Karena dia sadar, jika Nala menginginkan kematiannya, dia bisa saja membunuh Zack kemarin saat dia pingsan. Zack kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, sambil beberapa kali menghembuskan nafas panjangnya untuk mengontrol amarah yang menyelimuti dadanya.


Setengah jam kemudian, Nala pun tampak membuka matanya dan begitu terkejut saat melihat dia telah mengenakan selimut. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Zack yang saat ini tengah sibuk memainkan ponselnya.


"Tuan, apa anda yang memakaikan selimut pada saya?"


"Kau pikir siapa lagi? Bukankah cuma ada aku di sini?"


"Tapi anda sedang diinfus, Tuan. Pasti bukan hal yang mudah turun dari atas brankar hanya untuk memberikan saya selimut."


"Memangnya kenapa? Bukankah itu artinya aku sangat baik?"


"Tapi sayangnya kebaikanku banyak disalah gunakan oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan diriku saja. Bahkan karena kebaikan diriku ini, bisa saja dengan mudahnya aku dibohongi orang lain yang ingin memanfaatkanku saja, Cih!"


"I-iya Tuan."


'Baik hati darimana? Mana ada mafia yang baik hati?' batin Nala. Meskipun dia pun sebenarnya tak mengerti mengapa Zack mengatakan seperti itu, Nala hanya menduga kalau apa yang dikatakan oleh Zack karena pengaruh patah hatinya pada Laurie. Dan, dia masih berkeyakinan kalau Zack belum curiga padanya. Tiba-tiba saja, ponsel Zack pun berbunyi. Zack kemudian menatap Nala untuk mengalihkan perhatiannya.


"Emh Caca, bisakah aku minta tolong padamu?"


"Oh tentu saja, anda mau minta apa Tuan?"

__ADS_1


"Caca, bisakah kau membelikan aku jus alpukat di kantin? Sepertinya aku ingin sesuatu yang segar. Kau tahu kan badanku sangat lemas, jadi aku ingin mendapat tambahan tenaga."


"Oh, iya Tuan. Akan saya belikan jus alpukat untuk anda."


"Terima kasih."


Nala kemudian keluar dari ruang perawatan Zack menuju ke kantin. Sedangkan Zack tampak kembali menghubungi anak buahnya.


[Iya Juan, bagaimana?]


[Tuan, mobil yang dikendarai oleh Nona Caca atau Nala, beberapa hari yang lalu ternyata bukanlah mobil cicilan, dan dari STNK mobil tersebut, diketahui kalau pemiliknya bernama Leo. Dia salah seorang pengusaha yang sangat terkenal dan memiliki dua orang anak, mereka kembar. Yang laki-laki bernama Nathan, sedangkan anak perempuannya bernama Nala.]


'Oh shitttt!' batin Zack.


[Nala?]


[Iya Tuan, salah seorang anak kandung Leo bernama Nala.]


[Juan, apakah Leo yang kau maksud adalah Leo yang masih memiliki hubungan keluarga dengan Laurie?]


[Iya Tuan, anda benar. Ibu kandung Nala yang bernama Calista adalah kakak dari Olivia, mantan mertua anda, dan ini artinya Nona Nala adalah sepupu Laurie.]


"OHHHH SHITTTTT!!!"

__ADS_1


__ADS_2