Bed Friend

Bed Friend
Berani Patah Hati


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian...


Alvaro menatap Laurie yang saat ini sedang terlelap di sampingnya. Lalu mengelus pipi wanita cantik itu. "Sayang, kita sudah sampai."


Laurie pun perlahan membuka kelopak matanya. "Emh, sudah sampai?"


"Iya sayang, kita sudah sampai di rumahmu."


Laurie lalu mendekat ke arah Alvaro, dan memeluknya dari arah samping. "Jadi setelah ini kita pisah?"


"Kita bisa bertemu setiap hari, Sayang. Setelah pulang kerja, aku bisa ke sini. Aku juga ingin bertemu dengan kedua orang tuamu, untuk membahas pernikahan kita setelah kau bercerai dari Zack."


Laurie pun tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya. "Kau mampir dulu ke dalam kan?"


"Tidak sayang, aku harus pulang. Lagipula tidak ada orang tuamu di rumah, tidak enak Laurie. Apalagi mereka belum tahu hubungan kita."


Laurie kemudian menganggukan kepalanya. "Hmmm, mereka sedang pergi ke Bandung. Nanti malam mereka baru pulang."


"Kalau begitu turunlah, lalu istirahat. Besok aku ke sini kalau orang tuamu sudah di rumah."


Laurie menganggukkan kepalanya kembali. "Iya Alvaro, hati-hati," ucap Laurie kemudian melepaskan pelukannya pada Alvaro, lalu menatap wajah tampan kekasihnya sambil tersenyum, Alvaro pun membalas senyuman itu kemudian mendekatkan wajahnya dan menempelkan bibirnya ke bibir Laurie, lalu memaggut bibir mungil itu dengan begitu lembut. Laurie pun menutup matanya sambil membalas paguttan bibir Alvaro. Setelah cukup lama mereka berciuman, Alvaro pun melepaskan paggutan bibir mereka.


"Sekarang istirahatlah di dalam, Sayang."


Laurie menganggukkan kepalanya lalu turun dari mobil Alvaro, dan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan Alvaro, tampak tersenyum sambil menatap Laurie yang berjalan melewati halaman rumahnya yang besar. Dia tampak menarik kedua sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman yang menghiasi wajah tampannya.


Alvaro benar-benar merasa begitu bahagia, dia tidak menyangka sebuah rasa yang dia pikir hanya sebatas kekaguman semata, sekarang berubah menjadi cinta. Lebih tepatnya sebuah cinta yang terbalas, dan dia merasa sangat beruntung dicintai oleh wanita secantik Laurie.


Laurie, wanita tercantik yang pernah dia temui, bahkan dia menyebut jika wanita itu secantik bidadari. Tak heran jika seorang mafia besar seperti Zack sampai begitu tergila-gila padanya, dan mau berbuat apa saja untuk mendapatkan cinta dari Laurie. Dan saat ini, Alvaro merasa sangat beruntung dicintai oleh wanita cantik dan kaya seperti Laurie, ya meskipun usia Laurie beberapa tahun lebih tua darinya, bagi Alvaro itu sama sekali bukan masalah besar. Ya, meskipun usia Laurie lebih tua darinya, tapi mereka terlihat seperti seumuran, mungkin karena wajah Laurie begitu cantik dan imut, sehingga dirinya tetap terlihat muda. Setelah Laurie masuk ke dalam rumah, Alvaro lalu melajukan mobilnya. Namun, tanpa dia tahu, sebuah sedan warna hitam juga tampak sedang mengikutinya.


***

__ADS_1


Sementara itu, Laurie yang saat ini sudah ada di dalam rumah tampak sedang mengutak-atik ponselnya, lalu menempelkan ponsel itu di samping telinganya.


[Halo Nala.]


[Oh iya, Laurie. Ada apa?]


[Nala, aku sudah sampai di rumah. Maukah kau datang ke rumahku?]


[Tentu saja Laurie, aku akan ke rumahmu sekarang.]


[Baik Nala, aku tunggu.]


Nala menutup panggilan telepon dari Laurie. Dia kemudian menghembuskan nafas panjangnya, sambil menutup matanya. Entah mengapa, rasanya begitu berat bertemu dengan Laurie. Membayangkan wajah Laurie saja begitu sakit baginya.


Entah mengapa rasanya juga begitu berat saat berhadapan dengan Laurie, rasanya begitu sakit saat bertemu dengan wanita yang dicintai oleh laki-laki yang dicintai olehnya. Dan sialnya, wanita itu adalah saudara sepupunya sendiri, yang membuat Nala semakin sulit untuk menghindar darinya.


Nala sudah menduga kalau Alvaro pasti menceritakan tentang dirinya pada Laurie, tentang ungkapan cinta yang dia katakan pada Alvaro beberapa saat yang lalu. Dan Nala tahu, alasan Alvaro menceritakan itu semua pada Laurie, bukan sebagai bentuk sikap jumawanya. Tapi karena dia sadar jika dirinya dan Laurie bersaudara, dan Alvaro pasti tidak mau sesuatu hal yang buruk atau kesalahan pahaman terjadi diantara mereka berdua.


Setelah termenung cukup lama, Nala kemudian beranjak dari tempat duduknya, lalu keluar dari rumah itu, menuju ke rumah Laurie dengan diantar oleh dua orang anak buah Leo. Untuk saat ini, Nala memang belum berani keluar dari rumahnya tanpa pengawalan dari anak buah Leo, karena dia sadar, saat ini dia belum aman, dan Zack pasti tidak akan semudah itu melepaskan dirinya.


"Kau sudah datang Nala?"


"Ya, bagaimana keadaanmu? Apa kau sudah sehat?"


"Seperti yang kau lihat."


Nala kemudian memeluk Laurie, cukup lama dan begitu erat. Rasanya dia juga ingin menumpahkan segala rasa yang ada di dalam hatinya lewat pelukan itu.


"Kau terlihat sangat bahagia, Laurie."


Laurie pun tersenyum. "Tentu saja, kau tahu kan saat ini Zack sudah mau melepaskan aku. Bahkan dia juga sedang mengajukan gugatan cerai padaku."

__ADS_1


"Dan karena Alvaro kan?" sabung Nala. Mendengar nama Alvaro disebut, Laurie pun terlihat salah tingkah.


"Tidak apa-apa Laurie, aku sudah tahu semuanya," ucap Nala yang saat ini melihat Laurie tampak begitu canggung. Laurie pun menatap Nala dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Aku sudah tahu, Laurie. Kau tidak perlu sungkan padaku."


"Sudah tahu? Darimana?"


Nala pun tersenyum. "Beberapa hari yang lalu, temanku masuk ke rumah sakit, dan saat aku sedang menengok temanku di rumah sakit, aku mendengar dari salah seorang perawat yang mengatakan kalau Alvaro sedang pergi bersama kekasihnya."


Nala menghentikan perkataannya, sebenarnya rasanya begitu sakit mengatakan semua itu pada Laurie, tapi dia mencoba menegarkan hatinya. "Kenapa Nala? Are you okay?"


"Sure. Aku hampir tersedak, jadi aku menghentikan kata-kataku."


"Oh baiklah. Lalu, darimana kau tahu?"


"Tante Olivia yang mengatakan kalau kau sedang pergi dengan Alvaro, jadi setelah aku mendengar perkataan perawat dan Tante Olivia, aku mengambil kesimpulan kalau kau sudah menjalin hubungan dengan Alvaro, betul begitu kan Laurie?"


Laurie pun tersenyum. "Laurie, mustahil seorag laki-laki mengambil sikap nekat sampai mempertaruhkan nyawanya jika tidak memiliki rasa cinta. Dan Alvaro melakukan semua ini karena cinta, karena dia mencintaimu, dan kau juga mencintainya kan?"


Laurie terdiam sejenak, lalu perlahan menganggukkan kepalanya. "Apa kau terluka?" tanya Laurie.


"Memangnya aku berhak menghakimi dua orang yang saling mencintai, Laurie? Tidak, aku tidak berhak melakukan itu. Kalian saling mencintai, lalu aku bisa apa? Kalaupun aku pernah merasakan cinta pada Alvaro, dan dia tidak membalas perasaanku, lalu haruskah aku marah? Tidak Laurie, karena sejatinya jika kita berani jatuh cinta, maka kita pun harus berani patah hati. Laurie, aku baik-baik saja. Jangan pernah sungkan padaku, kau berhak bahagia setelah penderitaan yang kau alami. Berbahagialah dengan Alvaro," ucap Nala, dia kemudian tersenyum sambil menggenggam tangan Laurie dan menganggukkan kepalanya.


Melihat sikap tulus Nala, Laurie pun memeluk Nala. "Terima kasih, Nala. Maafkan aku jika aku sudah menyakitimu."


"Jangan berkata seperti itu, Laurie. Cinta tak pernah salah," balas Nala sambil meneteskan air matanya. Namun, dia bergegas menghapus air mata itu agar Laurie tidak melihatnya.


"Sekali lagi, terima kasih banyak."


"Sudah, jangan bahas masalah ini lagi, apa tidak ada pembahasan lain yang lebih menyenangkan daripada masalah ini Laurie?" ucap Nala sambil tersenyum. Sebuah senyuman untuk menutupi luka hatinya. Laurie pun ikut tersenyum, lalu mengalihkan pembicaraan lainnya agar dia tidak lagi melihat raut kesedihan di wajah Nala. Meskipun saat ini Nala tersenyum, Laurie tahu jika sebenarnya Nala sedang terluka.

__ADS_1


Namun, dibalik senyum keduanya. Tanpa mereka sadari, sebuah mobil terlihat sedang mengamati rumah itu, lalu salah seorang laki-laki yang ada di dalam mobil tampak menempelkan ponselnya di telinganya. "Benar Bos, ternyata Nala adalah sepupu dari Nyonya Laurie."


Bersambung...


__ADS_2