
Kenzo dan Cleo yang terkejut mendengar teriakan Ibu Panti lalu bergegas masuk ke dalam panti kembali. Saat mereka memasuki panti tersebut, tampak Dea sudah tersungkur di atas lantai.
"Dea!" panggil Cleo dan Kenzo.
"Ada apa Ibu Panti?" tanya Kenzo dan Cleo bersamaan.
"Saya juga tidak tahu, Tuan Kenzo. Tiba-tiba dia jatuh pingsan seperti ini," jawab Ibu Panti.
"Kenzo, sebaiknya cepat bawa Dea ke rumah sakit!" pinta Cleo.
"Iya Cleo," jawab Kenzo. Dia kemudian mengangkat tubuh Dea ke dalam gendongannya.
"Ibu Panti, biar kami yang mengurusnya. Sebaiknya Ibu di sini saja, menjaga anak-anak."
"Iya Nyonya Cleo, terima kasih banyak."
Cleo lalu mengikuti langkah Kenzo masuk ke dalam mobil untuk membawa Dea pergi ke rumah sakit. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah sakit, dan saat ini tampak menunggu Dea di depan ruang UGD.
"Kenzo, apa Dea memiliki riwayat penyakit?"
"Sepertinya tidak. Sepertinya saat pihak HRD mewawancari dia, dia tida mengatakan apapun."
"Kenapa dia tiba-tiba pingsan seperti ini?"
"Entahlah, Cleo."
Seorang dokter yang keluar dari ruangan UGD kemudian keluar dari ruangan itu. "Dengan keluarga Nona Dea?" tanya dokter tersebut.
"Ya, kami kelurga Dea," jawab Kenzo, sambil mendekat ke arah dokter tersebut.
"Emh begini, Nona Dea sebenarnya memiliki gangguan pada jantungnya. Sejak kecil, dia sudah memiliki penyakit jantung bawaan. Sebenarnya penyakit ini tidak terlalu parah, hanya saja dia akan kambuh jika mengalami suatu keadaan yang membuatnya sedikit tertekan, jika dia tertekan maka penyakit itu akan kambuh dan membuat kondisinya menurun seperti ini."
"Astaga, jadi Dea mengalami penyakit jantung bawaan sejak kecil?"
"Iya Nyonya. Saat ini dia sudah siuman, kalian bisa bertemu dengan Nona Dea sekarang, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, tapi sebaiknya diusahakan agar dia tidur mengalami kondisi seperti ini lagi, usahakan agar dia tidak mengalani tekanan, agar kondisinya tidak menurun seperti ini.
__ADS_1
"Iya dokter, lalu apakah dia harus dirawat inap?" tanya Cleo.
"Tidak, jika infusnya sudah habis, kalian bisa membawanya pulang."
"Baik dokter."
Dokter tersebut lalu pergi meninggalkan Kenzo dan Cleo yang saat ini masih saling berpandangan. "Cleo, aku benar-benar tidak tahu jika Dea ternyata menderita penyakit jantung bawaan seperti ini. Cleo, bagaimana ini? Apakah sebaiknya kita mengganti dia dengan sekretaris baru saja?"
Cleo lalu menatap tajam Kenzo. "Kenzo, apa yang sedang kau katakan? Tidak sepantasnya kau berkata seperti itu! Saat ini Dea sedang membutuhkan pekerjaan, bisa-bisanya kau berkata seperti itu!"
"Tapi kondisi kesehatannya sepertinya tidak memungkinkan, Cleo!"
"Kenzo, apa kau tidak mendengar apa yang dikatakan dokter? Bukankah tadi dokter mengatakan jika kondisi jantung Dea sebenarnya baik-baik saja, dan aku yakin, dia pasti bisa sehat seperti sedia kala kalau dia sudah beristirahat. Kenzo, aku yakin jika kondisinya seperti ini pasti karena dia kelelahan. Bukankah tadi sudah kukatakan jika jarak kantor dengan Panti Asuhan tempat dia tinggal itu sangat jauh. Aku yakin, dia pasti kelelahan dan membuat dia tertekan. Karena itulah aku menyuruhnya untuk tinggal di rumah Mama Amanda. Kenzo, aku mohon jangan ganti Dea dengan sekretaris baru, aku yakin dia pasti membutuhkan pekerjaan itu, Kenzo. Apa salahnya kau ikut mengurangi bebannya, bukankah dengan mempekerjakan Dea itu sama saja kau sekaligus membantu keuangan Panti?"
Kenzo pun terdiam, dan tampak berfikir sejenak. "Ayolah Kenzo," pinta Cleo.
"Baik, baik Cleo sayang. Aku tetap akan mempekerjakan Dea."
"Hahhahhahaa, bagus. Itu sangat bagus Kenzo sayang, terima kasih banyak!" teriak Cleo kemudian mencium Kenzo.
"Cleo, ini tempat umun!" gerutu Kenzo.
"Hahahaha."
Sementara Dea yang melihat kemesraan Kenzo dan Cleo dari celah pintu hanya bisa tersenyum kecut. "Ini memang sebuah rasa yang salah. Aku sudah salah jatuh cinta pada seorang laki-laki yang hatinya bukan untukku. Tuhan, setragis inilah aku? Orang tuaku sudah membuangku sejak bayi, mungkin karena penyakit jantung yang kuderita. Lalu, saat aku dewasa dan merasakan apa yang disebut dengan cinta, hatiku pun harus patah karena aku jatuh cinta pada orang yang salah. Tuhan, jika aku selalu mengalami nasib buruk seperti ini, untuk apa aku dilahirkan? Untuk apa aku hidup jika sejak aku lahir sampai saat ini aku terus saja mengalami kemalangan yang berulang?"
***
Sebuah mobil BMW berwarna biru tampak berhenti di sebuah rumah dua lantai. Dua orang wanita serta seorang lelaki turun dari mobil tersebut.
"Ayo, Delia. Ayo Dimas!"
"Aini, apa kau yakin?"
Aini lalu menyunggingkan senyuman. "Tentu saja, tentu saja aku yakin. Bukankah kalian tahu Vallen itu sangat baik? Dia pasti bisa membantu kalian. Bukankah kalian ingin Shakila dan Darren bisa menikah tanpa halangan apapun?"
__ADS_1
"Ya, tentu saja. Shakila dan Darren harus menikah tanpa halangan apapun."
"Kalau begitu, ayo!" perintah Aini.
Dimas dan Delia lalu mengikuti Aini berjalan ke arah pintu rumah itu.
TETTT TEETTTT
Tak berapa lama, pintu di rumah itu pun terbuka. Seorang pembantu rumah tangga kini berdiri di depan mereka.
"Apa kami bisa bertemu dengan Vallen?" tanya Aini.
"Oh Nyonya Vallen? Tentu saja. Silahkan masuk!" perintah pembantu rumah tangga tersebut.
Mereka kemudian masuk ke dalam rumah Vallen dan duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah itu.
"Aini!" teriak Vallen saat melihat Aini yang kini duduk di atas sofa.
"Vallen, bagaimana kabarmu?"
"Sangat baik, apalagi setelah aku memiliki seorang cucu," jawab Vallen sambil terkekeh.
Vallen kemudian mengalihkan pandangannya ke arah dua orang yang ada di samping Aini. "De-Delia? Dimas?" ucap Vallen lirih.
"Apa kabar Vallen?" tanya Delia. Sedangkan Dimas tampak tersenyum.
"Baik, seharusnya aku yang menanyakan ini pada kalian. Bagaimana keadaan kalian? Kalian baik-baik saja kan? Dua puluh tahun terakhir, aku yakin itu bukan hal yang yang mudah bagi kalian."
"Iya Vallen, bukan hal yang mudah. Dan akhirnya sekarang kami sudah bisa berkumpul kembali, hanya saja..."
Belum selesai Delia melanjutkan kata-katanya, tiba-tiba sebuah ketukan pintu pun terdengar, dari pintu rumah yang masih terbuka.
TOK TOK TOK
NOTE:
__ADS_1
Anaknya Delia atau Dimas itu Dea atau Luna sih? Yang kepo siapa sebenarnya jangan lupa baca juga novel terbaru othor, SEKEDAR PELAMPIASAN. kalau kalian cuma baca novel ini aja, ga bakalan nemu jawabannya 😂😂😂