
"Baik Nona Sachi, silakan masuk ke dalam," kata pembantu rumah tangga tersebut.
Dea lalu masuk ke dalam rumah itu, dan duduk di ruang tamu rumah mewah tersebut. "Wow rumah yang sangat bagus dan mewah, aku sangat menyukai rumah ini. Sebenarnya rumah Papa Dimas juga mewah tapi aku tidak terlalu nyaman tinggal di rumah itu karena ada Kak Shakila yang menyebalkan. Sedangkan kalau aku menikah dengan Devano, pasti aku akan menjadi penguasa rumah ini karena Devano adalah anak satu-satunya di keluarga ini," ucap Dea sambil tersenyum menyeringai. Dia kemudian memperhatikan seisi rumah itu, dan berdecak kagum melihat barang-barang yang ada di dalam rumah tersebut.
Sementara itu, pembantu rumah tangga keluarga Devano, saat ini tampak berjalan menghampiri Viona yang sedang berada di taman belakang sambil merawat kebun bunga miliknya.
"Nyonya Viona, maaf mengganggu."
"Ada apa, Bi?"
"Di depan ada tamu yang mencari anda, Nyonya."
"Ada tamu? Siapa ya? Sepertinya aku tidak sedang ada janji dengan siapa-siapa hari ini," ucap Viona.
"Dia seorang wanita muda, Nyonya. Namanya Nona Sachi," sambung pembantu rumah tangga tersebut.
"Sachi?" ucap Viona sambil mengerutkan keningnya.
"Astaga, Sachi? Apakah Sachi yang datang adalah Sachi anak dari Dimas tunangan dari Devano? Ahhhh iya, siapa lagi kalau bukan dia. Yang datang adalah Sachi, tunangan sebenarnya dari Devano. Aku harus bergegas menemui Sachi sekarang juga," ucap Viona. Dia kemudian masuk kedalam rumahnya, setelah mencuci tangannya terlebih dulu.
Setelah Viona sampai di ruang tamu rumah itu, tampak di depannya seorang wanita muda yang sangat manis duduk di ruang tamu itu sambil memainkan ponselnya.
"Sachi!" panggil Viona.
Mendengar nama Sachi yang dipanggil oleh sebuah suara yang ada di belakangnya, Dea kemudian membalikkan tubuhnya, dan melihat seorang wanita paruh baya yang berdiri dan menatapnya sambil tersenyum.
"Selamat sore, Tante Viona," sapa Dea.
"Kau Sachi? Cucu dari Oma Fitri? Tunangan dari Devano?"
"Iya Oma, aku Sachi cucu dari Oma Fitri, tunangan dari Devano."
"Astaga Sachi, akhirnya aku bisa bertemu juga denganmu," ucap Viona sambil mendekat ke arahnya lalu memeluk dan mencium pipinya.
"Iya Tante Viona, maaf saya baru saja pulang. Jadi, saya baru bisa bertemu dengan Tante sekarang."
"Aku tahu itu, Nak. Orang tuamu dan nenekmu sudah mengatakan pada Tante kalau kemarin saat pertunangan kau sedang ada di luar negeri."
"Iya Tante, saat itu aku masih berada di Singapura."
__ADS_1
"Singapura? Bukankah kau kuliah di Australia? Oma Fitri mengatakan kalau kau berkuliah di Australia, bukan di Singapura."
"Oh iya maksud saya begini Tante, saat itu memang saya sedang di Singapura karena saya sedang mengambil sample data di Singapura untuk menyelesaikan tugas akhir saya. Jadi sebenarnya, saya memang kuliah di Australia."
"Oh begitu..."
"Iya Tante."
"Oh iya Sachi, kenapa kau tidak memberitahu Oma atau orang tuamu saja, agar tante dan Devano bisa datang ke rumahmu. Jadi, kau tidak perlu repot-repot datang ke sini."
"Oh kalau itu, karena untuk saat ini Oma dan Papa sedang sibuk mengurusi bisnis mereka. Sedangkan Mama Delia sedang sibuk mengurus pernikahan Kak Shakila dan Kak Derren, jadi aku tidak mau merepotkan mereka dan berinisiatif ke rumah ini sendiri untuk bisa berkenalan dengan Tante."
"Astaga Sachi, ternyata kau memang sangat baik. Devano sangat beruntung memiliki seorang istri sepertimu."
"Ah Tante bisa saja," ucap Dea sambil tersipu malu.
"Memang kenyataannya seperti itu, Sachi. Devano pasti sangat beruntung memiliki calon istri sepertimu," ucap Viona yang membuat Dea tersipu.
'Sachi sudah pulang, dan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Aku harus bisa memisahkan Devano dan Luna secepatnya,' batin Viona didalam hati.
"Tante, aku hanya melakukan apa yang seharusnya kulakukan karena aku adalah tunangan dari Devano. Saat itu, sebenarnya aku ingin menghadiri pertunangan tersebut. Tapi pengambilan data yang tidak bisa kutunda untuk tugas akhir, memaksaku untuk tetap berada di Singapura. Jadi, aku tidak bisa pulang dan terpaksa digantikan oleh kak Shakila. Saat itu, aku sebenarnya merasa sangat bersalah. Karena itulah, setelah aku sampai di Indonesia aku langsung datang ke sini dan ingin berkenalan dengan Tante..."
Belum sempat Dea melanjutkan kata-katanya tiba-tiba Viona sudah menimpali. "Bertemu dengan tante atau ingin berkenalan dengan Devano?" potong Viona.
"Iya Tante, Mama sudah pernah memperlihatkan foto Devano padaku."
"Lalu, bagaimana menurutmu? Devano laki-laki yang tampan kan?"
"Ya, Devano sangat tampan dan sepertinya dia juga laki-laki yang baik dan bertanggung jawab," jawab Dea.
'Dan juga terlihat sedikit mesum,' batin Dea.
"Oh tentu saja Sachi, Devano adalah laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab, tante yakin kalian pasti akan jadi suami-istri yang sangat serasi nantinya."
"Tante bisa saja, tante memang sangat pintar merayu."
"Ya begitulah Sachi, sebenarnya tante sudah tidak sabar, tante ingin kau dan Devano menikah secepatnya," kata Viona.
'Pucuk dicinta ulam pun tiba,' kata Dea di dalam hati.
__ADS_1
"Kenapa kau diam, Sachi? Apa ada yang salah dengan kata-kata tante?"
"Oh tidak, Tante. Aku hanya sedikit terkejut karena ternyata kita memiliki perasaan yang sama.
"Apa? Jadi kau juga sudah ingin menikah secepatnya dengan Devano?"
Dea pun tersenyum, sambil tersipu malu. "Kau juga sudah ingin menikah dengan Devano, Sachi?" Perlahan, Dea menganggukkan kepalanya.
"Bagus sekali!"
"Emh, begini Tante. Terus terang saja, aku ingin memiliki sebuah keluarga kecil. Aku juga ingin memiliki suami yang baik sebagai imamku di dunia ini, Tante."
"Astaga, kau memang benar-benar wanita yang sholehah."
"Tante ada-ada saja."
"Memang di mata tante, kau adalah wanita yang sangat baik Sachi. Kau sempurna, kau memang menantu idamanku."
"Tante, jangan membuatku malu seperti ini."
"Itu karena Tante sudah sangat ingin kau menikah dengan Devano."
Dea hanya bisa tersenyum mendengar sanjungan Viona, dia benar-benar tidak menyangka kalau rencananya untuk menarik simpati dari Viona, mendapatkan sambutan hangat seperti ini.
"Kenapa kau diam dan hanya tersenyum, Sachi?"
"Memangnya, aku harus berkata apa? Sejak tadi Tante terus menerus memujiku."
Viona kemudian menggenggam tangan Dea. "Kau mau kan menjadi istri dari Devano secepatnya?"
"Tentu saja, Tante. Kami sudah bertunangan dan memang alangkah baiknya pernikahan ini dilangsungkan secepatnya."
"Kta memang sehati Sachi, tante pun memiliki pemikiran yang sama denganmu yaitu mempercepat pernikahanmu dengan Devano. Kalau begitu, kau setuju kan untuk mempercepat pernikahanmu dengan Devano?"
"Iya Tante, tentu saja aku setuju."
"Bagus sekali Sachi, Tante akan bicarakan ini dengan Devano secepatnya."
"Iya Tante, terima kasih banyak," jawab Dea sambil tersenyum.
__ADS_1
'Kalau aku memaksa Devano untuk menikah dengan Dea, pasti Devano akan meninggalkan wanita miskin itu,' batin Viona.
'Rencanaku berhasil, ternyata Tante Viona sangat menyukaiku dan ingin mempercepat pernikahanku dengan Devano ini sangat bagus. Pernikahan ini harus dipercepat, sebelum tes DNA itu keluar dua minggu lagi,' batin Dea