
Calista pun begitu terkejut mendengar perkataan Sharen. "A.. Apa.. Apa? Nathan menodaimu?" tanya Calista.
Sharen pun kembali menangis dengan begitu terisak. "Sharen, tenangkan dirimu, nanti Tante akan bicarakan semua ini dengan Nathan."
"Maafkan aku Tante, aku hanya tidak terima Nathan melakukan semua ini padaku. Setelah dia mengucapkan kata talak, dia dengan mudahnya berbuat sesuka hatinya padaku, bukankah selama ini aku sudah banyak diam dan mengalah pada Nathan? Tapi kenapa dia semakin berbuat semena-mena padaku? Bahkan aku tidak mengatakan kejadian yang sebenarnya terjadi di malam itu hanya untuk menjaga perasaan kalian semua!"
"Kejadian yang sebenarnya di malam itu? Apa maksudmu yang sebenarnya, Sharen?"
"Iya Tante. Selama ini aku sudah menyembunyikan kejadian yang sebenarnya di malam itu karena Nathan yang memintaku."
"Aku benar-benar tidak mengerti, Sharen. Tolong ceritakan semuanya padaku, apa yang sebenarnya telah terjadi diantara kalian? Apa ada yang kalian sembunyikan?"
"Tante, malam itu Nathan memang menolongku saat aku sedang dihadang oleh beberapa preman, setelah preman-preman itu pergi, dia memang menenangkanku dan memberikan aku minum di sebuah pos kamling. Namun aku juga tidak tahu setan apa yang tiba-tiba merasuk ke dalam diri Nathan hingga tiba-tiba dia memaksaku untuk bermesraan dengannya, dia terus memaksaku dan aku terpaksa menuruti keinginan Kak Nathan hingga aku kehilangan keperawananku," jawab Sharen dengan begitu terisak.
__ADS_1
Calista pun hanya terdiam mendengar perkataan Sharen. Kata hatinya berkata jika Nathan tidak mungkin melakukan hal tersebut tapi melihat raut wajah depresi dan isak tangis yang begitu menyayat hati membuat dirinya pun tidak bisa mengabaikan perkataan Sharen begitu saja.
Calista lalu memeluk Sharen. "Sharen, tolong tenangkan dirimu. Tante minta maaf jika malam itu, Nathan telah melakukan hal di luar batas padamu, tapi Tante tidak bisa membuat keputusan sepihak tanpa mendengar penjelasan dari Nathan."
"Jadi Tante tidak mempercayaiku?"
"Bukannya seperti itu, Sharen. Tante tidak bermaksud membela Nathan tapi rasanya tidak adil jika hanya mendengar penjelasan sepihak saja darimu."
"Sekarang coba Tante pikir, jika aku berbohong mana mungkin tiba-tiba warga tersebut mengeroyok kami berdua, jika malam itu kami tidak melakukan apapun, mana mungkin ada tanda merah di dada Nathan, jika malam itu kami tidak melakukan apapun mana mungkin ada beberapa sobekan pada pakaian yang aku kenakan. Selama ini aku sudah diam dan menuruti semua yang Nathan inginkan karena dia tidak ingin kehilangan Clarissa, aku tahu itu, dan aku menghormati keinginannya karena aku memiliki hutang budi pada Mama Amanda dan Papa Rayhan, aku juga tidak ingin Clarissa kecewa jika suaminya pernah berbuat hal yang tidak-tidak dengan wanita lain tapi aku tidak mungkin bisa terima jika Nathan kembali menodaiku setelah dia mengucapkan kata talak padaku, memangnya dia anggap aku ini apa? Wanita yang bisa dia tiduri dan dia permainkan kapanpun dia mau?"
"Tante, aku masih bisa terima semua perlakuan Nathan yang tidak pernah memberikan kasih sayangnya padaku selama menjadi istrinya dan menganggap pernikahan ini palsu baginya, aku tahu dia sangat takut kehilangan Clarissa, tapi apakah aku tidak memiliki hak sama sekali sebagai istrinya? Apakah dia pikir aku hanya sebagai pelampiasan nafsunya saja? Lalu dengan mudahnya dia membuangku layaknya sampah? Memangnya kalian pikir aku ini apa?" tangis Sharen disertai isakan yang begitu menyayat hati Calista.
Calista kemudian memeluk Sharen. "Sharen, tolong maafkan putraku jika dia telah banyak menyakitimu tolong maafkan putraku, aku berjanji akan membicarakan penyelesaian hal ini dengan Nathan dan suamiku, aku tidak mungkin mengambil keputusan ini sendiri. Maafkan Tante, tolong bersabarlah."
__ADS_1
"Aku hanya ingin keadilan Tante, aku hanya ingin keadilan setelah selama ini aku diam. Aku juga ingin mendapatkan keadilan dan hak yang seharusnya kudapatkan. Bukannya diperlakukan layaknya sampah seperti ini. Aku sadar siapa diriku, aku memang berbeda dengan Clarissa yang terlahir dari kalangan terpandang, aku juga tidak ingin mendapatkan pengakuan dan perlakuan seperti yang kalian berikan pada Clarissa tapi apa aku tidak diperbolehkan mendapatkan hakku bahkan hanya untuk sedikit saja? Kita sama-sama wanita, dan Tante pasti bisa merasakan bagaimana sakitnya sebagai sesama wanita jika diperlakukan seperti ini oleh suaminya. Tolong Tante, tolong berikan keadilan padaku."
"Sharen, maaf Tante tidak bisa memberikan keputusan apapun, lebih baik sekarang kau masuk ke kamarmu terlebih dulu. Nanti akan Tante bicarakan terlebih dulu dengan Om Leo dan Nathan. Tante berjanji akan memberikan keputusan yang adil untuk kalian berdua."
"Terimakasih banyak Tante, terimakasih banyak, hanya Tantelah satu-satunya harapan bagiku untuk mendapatkan keadilan," ujar Sharen sambil memeluk Calista.
"Iya Sharen, sekarang beristirahatlah."
Sharen pun melepaskan pelukannya pada Calista, dia kemudian bangkit dari atas sofa lalu berjalan dengan langkah lunglai disertai raut wajah yang begitu sendu menuju ke kamar Nathan. Sedangkan Calista kini sibuk menelpon seseorang.
[Halo Leo, kau harus pulang secepatnya.]
[Ada apa Calista?]
__ADS_1
[Ini sangat penting Leo, cepat pulang.]