
KARENA DI SINI BANYAK YANG GA PAHAM APA ITU ARTI POV DAN DIKIRA SAYA MEMUTAR KEMBALI CERITA JADI SAYA TERANGKAN SEDIKIT APA ARTI POV YA!
KAN SUDAH PERNAH OTHOR SAMPAIKAN YA, CERITA TENTANG SHAKILA DAN DARREN ITU PAKE POV ALIAS SUDAH PANDANG, EPISODE 173 - 184 ITU POV SHAKILA, YANG SEDANG SAYA CERITAKAN ITU POV DARREN. JADI BUKANNYA CERITANYA YANG MUTER² ATAU KEMBALI LAGI KARENA MEMANG DICERITAKAN DARI SUDUT PANDANG YANG BERBEDA!
MUNGKIN DI NOVELTOON GA BANYAK YA PENULIS YANG PAKE POV ALIAS SUDUT PANDANG JADI KALIAN GA TERLALU PAHAM APA ITU POV, KALAU DI PLATFORM LAIN PEMBACA MUNGKIN SUDAH BANYAK PAHAM APA ITU POV KARENA DI PLATFORM LAIN BANYAK PENULIS YANG MEMAKAI POV, JADI POV ITU DICERITAKAN DARI SUDUT PANDANG DARI DUA ORANG YANG BERBEDA.
SUATU SAAT JUGA KEMBALI KE POV AUTHOR KALAU DARI KEDUA BELAH PIHAK SUDAH DICERITAKAN.
SEKALI LAGI OTHOR TEGASKAN INI "POV DARREN!"
Okay, Terima kasih 😘
❣️POV DARREN / SUDUT PANDANG DARREN❣️
Menjelang sore saat aku sedang berenang untuk sedang menghilangkan rasa gundah di dalam hatiku. Shakila mendekat padaku, sebenarnya aku sedikit merasa cemas jika dia tahu apa yang kulakukan padanya. Melihat dirinya, hatiku pun kembali bergejolak. Spontan, aku menyuruhnya untuk ikut berenang bersamaku, dan dia pun menurut padaku.
Kami berdua begitu larut dalam suasana yang penuh dengan kebahagiaan, hingga akhirnya secara tidak sadar, kami pun berciuman. Memang terdengar konyol tapi kami memang melakukan itu, entahlah kami begitu menikmati saat-saat seperti ini, hingga tiba-tiba Shakila tersadar dari perbuatan yang kami lakukan. Dia mendorong tubuhku dan menjauh, namun aku berusaha untuk meyakinkannya agar mau mendengar penjelasan dariku.
__ADS_1
Aku akhirnya mengutarakan perasaanku padanya, awalnya dia memang sangat terkejut, dan menolakku, menolak semua perasaanku dan memintaku untuk menjauhinya. Namun entah mengapa aku yakin jika dia sebenarnya juga mencintaiku, hanya saja dia belum menyadari itu.
Setelah kejadian itu, selama beberapa hari kami tidak saling bertegur sapa, hingga pada suatu hari Jane yang merupakan mantan kekasihku saat SMA datang ke rumahku untuk menyatakan perasaannya kembali padaku, dan tentu saja aku menolaknya. Namun, saat itu aku yakin jika Shakila cemburu pada Jane.
Setelah Jane pulang, aku masuk ke dalam kamar Shakila dan melihatnya tidur di atas lantai dengan kue pemberian Jane yang berceceran di sampingnya. Aku kemudian mengangkat tubuh molek itu ke atas ranjang, kupandangi wajah cantiknya hingga aku tertidur di samping ranjangnya.
Aku terbangun saat mendengar suara Shakila membangunkanku. Setelah itu kami sempat berdebat dan dia tidak mau mengakui jika dia cemburu pada Jane. Aku pun pasrah, mungkin kami memang tidak ditakdirkan untuk bersama.
Saat itulah kami mendengar suara klakson mobil. Ya, orang tuaku akhirnya pulang. Di saat itulah aku mengutarakan keinginanku untuk pergi melanjutkan pendidikan ke Australia, ya setidaknya itulah satu-satunya cara yang bisa kulakukan untuk mengubur dalam-dalam rasa ini, meskipun aku sebenarnya tidak yakin cara ini akan berhasil.
Aku mengutarakan maksudku, dan tentu saja Papa sangat menyetujuinya. Namun, kulihat Shakila tampak kesal. Dia pamit ke dalam kamarnya saat kami belum selesai bicara. Aku tahu dia terluka, begitupula aku. Aku juga sangat terluka. Dan mungkin yang akan lebih membuatnya jauh lebih terluka adalah saat dia tahu yang sebenarnya jika kepergianku bukan satu minggu lagi, tapi besok. Ya, besok aku akan pergi ke Australia. Aku sengaja mempercepat kepergianku agar aku lebih cepat menjauh darinya karena aku tidak mau hatiku semakin terluka.
Aku pun mendekat padanya, ingin kuceritakan padanya jika esok aku harus pergi, tapi dia malah meminta perpisahan termanis. Aku tahu maksud dari Shakila, tapi aku tidak mau melakukan semua itu. Rasa ini adalah sebuah kesalahan dan dosa termanis, dan aku tidak mau semakin menambah dosa dalam hidupku. Dan kehormatan yang ada dalam diri Shakila, bukanlah untukku tapi untuk suaminya. Aku memang sangat mencintai Shakila, dan cinta bagiku sejatinya adalah menjaga bukan untuk merusak.
Keesokan harinya, setelah kami melewati drama yang begitu menguras tenaga di pagi hari karena ulah Jane, dengan perlahan, aku pun mengatakan yang sebenarnya pada Shakila jika malam ini aku harus pergi. Aku tahu dia pasti akan sangat marah, dan benar saja, dia langsung mendorong tubuhku lalu mengunci pintu balkon kamar dan menangis sejadi-jadinya di dalam kamar.
'Oh Shakila, kenapa dia belum juga sadar jika cinta diantara kita adalah sebuah kesalahan,' gumamku sambil mengintip dari balik jendela balkon di kamar Shakila.
__ADS_1
Cukup lama aku berdiri hingga hari hampir gelap, tapi Shakila tidak mau bertemu denganku. Sehancur itukah dia tanpaku?
Dengan langkah yang berat akhirnya aku meninggalkan balkon kamar Shakila dan bergegas menuju ke kamarku untuk bersiap. Setelah selesai mempersiapkan diri, kudengar suara ketukan pintu. Kupikir itu adalah Shakila tapi ternyata Mama Aini dan Papa Roy untuk membantuku membawa barang-barangku ke dalam mobil. Saat kutanyakan dimana keberadaan Shakila ketika kami sudah memasukkan barang-barang bawaan kami, mereka mengatakan jika Shakila sedang sakit dan tidak bisa ikut mengantarkan aku ke Bandara.
Sakit, ya rasanya sangat sakit saat orang yang sangat kucintai tidak mau bertemu denganku. Saat mobil kami meninggalkan rumah ini, berulang kali aku mencari sosok Shakila di balkon kamarnya, tapi aku tidak pernah menemukan sosok itu lagi.
Hatiku sebenarnya begitu menjerit, aku ingin membatalkan kepergianku tapi itu tidak mungkin. 'Selamat tinggal cinta, selamat tinggal kenangan, dan selamat datang luka, luka yang tak akan pernah kunjung berlalu,'
Setelah tiga jam menempuh penerbangan akhirnya aku sampai di Negeri Kanguru ini, namun belum genap satu hari aku ada di sini, pikiran dan hatiku begitu tak menentu. Apalagi saat Mama Aini memberitahu jika Shakila masuk rumah sakit, hatiku terasa begitu campur aduk, antara sedih dan cemas. Ingin rasanya aku kembali, tapi tak mungkin. Akhirnya kutahan rasa gundah di hati ini meskipun terasa sangat menyiksaku.
Tiga hari telah berlalu, keadaan Shakila tak kunjung membaik, hatiku terasa begitu tak menentu, rasanya aku ingin berteriak dan kukatakan pada dunia jika aku mencintainya, aku ingin memilikinya. Dengan penuh keyakinan, akhirnya aku memberanikan diri mengemasi barang-barangku untuk kembali pulang.
Shakila, tunggu aku. Aku akan pulang sekarang juga dan kukatakan pada dunia jika kita saling mencintai dan tak ada yang bisa memisahkan kita, meskipun seluruh dunia memusuhi kita aku tidak peduli, yang kupedulikan saat ini adalah cinta kita. Aku mengemasi barang-barangku kembali lalu bergegas keluar dari apartemenku dengan begitu terburu-buru. Aku yang merasa panik karena memesan tiket pesawat secara mendadak dan waktu penerbangan yang sudah mepet lalu keluar dari apartemen dan menghampiri taksi pesanku yang ada di seberang jalan dengan begitu terburu-buru, tanpa memandang situasi lalu lintas di jalan raya tersebut.
BUGHHHH BRAKKKKK
Tiba-tiba sebuah benda menghantamku dengan begitu keras, dan selanjutnya aku tak tahu apa yang terjadi, seluruh tubuhku terasa sakit, dan semuanya berubah menjadi gelap.
__ADS_1
'SHAKILAAAAA!' teriakku dalam hati sebelum mata ini sepenuhnya terpejam.