
Pagi ini terasa begitu cerah, tapi tidak dengan hatiku yang kelam. Sudah dua hari sejak kejadian itu berlangsung, semenjak itulah kami saling menjauh. Sama seperti saat Kak Darren menjauhiku dulu, bahkan hanya untuk sekedar tersenyum ataupun bertegur sapa pun kami tidak pernah.
Lalu bagaimana dengan perasaanku? Sakit, sangat sakit. Rasanya jauh lebih sakit dibandingkan dengan yang aku pikirkan, kupikir ini mudah tapi ternyata lebih sulit daripada yang kubayangkan. Dan aku merasa sangat tersiksa.
Suara bel tiba-tiba membuyarkan lamunanku, hingga terdengar beberapa kali. 'Apa tidak ada yang membukakan pintu? Di mana Bi Ani? Ah, lebih baik kubuka saja pintu itu. Mungkin Bibi sedang sibuk di belakang,' gumamku.
Aku kemudian keluar dari kamar lalu berjalan ke arah ruang tamu untuk membuka pintu tersebut. Namun, saat aku baru saja turun dari tangga. Tiba-tiba Kak Darren sudah berjalan ke arah pintu, dan saat pintu itu terbuka, sosok wanita cantik langsung memeluk dirinya.
Mendapat pelukan mesra dari seorang gadis cantik, Kak Darren langsung membalas pelukan itu sambil sesekali melirik padaku. Sedangkan aku? Aku sibuk menata hatiku yang hancur berkeping-keping agar tidak menangis di depan mereka berdua.
"Shakila!" sapa wanita itu saat sudah melepas pelukan pada Kak Darren. Aku pun terpaksa menarik kedua sudut bibirku meskipun rasanya hati ini sungguh tak ikhlas aku memberikan senyum yang begitu manis padanya.
"Kak Jane," balasku pada wanita itu yang merupakan mantan pacar Kak Darren saat mereka masih duduk di bangku SMA.
"Shakila, ini kubawakan kue kesukaanmu," ucap Kak Jane padaku sambil memberikan sekotak cheese cake padaku.
"Terima kasih," jawabku.
"Shakila, tolong masuk ke kamar. Kami sedang tidak ingin diganggu!" sela Kak Darren yang membuatku benar-benar merasa terkejut.
Jantungku seakan berhenti berdetak. Sakit, hanya itu yang kurasakan. Bahkan rasanya jauh lebih sakit dibandingkan dengan kejadian tempo hari itu. Aku pun menganggukan kepalaku lalu tersenyum pada mereka berdua sambil menahan getaran yang begitu menyesakkan dada.
Aku kemudian membalikkan tubuhku berjalan menjauhi mereka, bukankah seharusnya aku bahagia? Bukankah ini artinya dia mulai bisa melupakan aku dan membuka lembaran baru dengan wanita lain? Meskipun wanita itu adalah bagian masa lalunya, tapi setidaknya dia sudah berusaha untuk mengubur rasa cintanya padaku? Tapi kenapa rasanya hati ini sungguh tak ikhlas? Bukankah aku yang menginginkan semua ini?
Aku yang sudah ada di lantai atas lalu melihat ke bawah dan melihat Kak Jane dan Kak Darren yang terlihat begitu mesra, keduanya tampak saling bercanda. Kenapa rasanya hatiku tak terima? Apalagi saat ini aku melihat Kak Darren tampak memiringkan kepalanya. Aku yang tak kuasa menahan sakit di dalam hatiku lalu berlari ke dalam kamar dan menutup pintu kamar itu kemudian menjatuhkan tubuhku ke atas lantai, bersamaan dengan jatuhnya kue yang diberikan oleh Kak Jane.
__ADS_1
Aku meremas dadaku, sungguh sakit hingga membuat seluruh tubuhku bergetar dan terasa begitu lemas, untuk berdiri saja rasanya bahkan tidak sanggup. Aku pun hanya bisa merebahkan tubuhku di atas lantai sambil menangis dengan begitu terisak.
Tubuhku hanya bisa diam membeku di atas lantai, rasanya aku begitu lemah, hatiku saat ini juga terasa begitu rapuh. Lelah, itu yang kurasa hingga akhirnya mataku terpejam.
Entah sudah berapa lama aku tertidur. Perlahan aku pun mulai membuka kedua mataku. Lagi-lagi aku harus terkejut melihat tubuhku yang saat ini sudah berada di atas tempat tidurku.
'Oh, bukankah tadi pagi aku tidur di atas lantai? Lalu siapa yang menaruh tubuhku di atas ranjang? Pasti Kak Darren,' gumamku.
Aku kemudian bangkit untuk menemui Kak Darren, tapi betapa terkejutnya aku saat aku baru saja duduk di atas ranjang, aku melihat Kak Darren tengah tertidur di atas karpet yang ada di samping ranjangku. Spontan, aku pun menutup mulutku dengan kedua tanganku.
"Kak Darren!" panggilku.
Aku kemudian bangkit dari atas ranjang lalu mendekat pada Kak Darren kemudian mengguncangkan tubuhnya.
"Kak Darren! Kak Darren!" panggilku.
"Dasar anak nakal! Kenapa kau tidur di atas lantai?" gerutu Kak Darren.
"Panas," jawabku singkat.
"Kenapa kuenya juga jatuh dan berceceran seperti itu?"
"Oh itu karena aku menutup pintunya terlalu keras, jadi kuenya sampai terjatuh."
"Alasan," ucap Kak Darren sambil terkekeh. Dia kemudian tersenyum sambil mengacak-acak rambutku.
__ADS_1
"Kau cemburu kan?"
"Tidak, untuk apa aku cemburu. Bukankah dia memang pacarmu?"
"Hanya selama dua hari saat kami masih SMA, itu juga karena aku kasihan padanya. Dia sudah menyukaiku sejak kami kelas 1, tapi aku selalu menolaknya. Jadi aku terpaksa menerima cintanya saat kami kelas 3 SMA, tapi ternyata cinta memang tidak bisa dipaksakan. Hubungan kami hanya berlangsung selama dua hari, tidak lebih."
"Kau memang jahat, Kak."
"Aku tidak jahat, Shakila. Setidaknya aku pernah membuatnya merasa bahagia, meskipun hanya selama dua hari saja."
"Cih, dasar buaya darat. Bukankah tadi malam kau juga sudah mencumbunya? Lalu sekarang kau mengatakan jika kau tidak mencintainya? Munafik," gerutuku.
"Jadi kau mengintip?" tanya Kak Darren yang membuatku begitu gugup.
"A...Aku tidak mengintip. Aku hanya sekilas melihatnya saat sedang naik ke lantai atas," ucapku gugup.
"Bilang saja kau cemburu, kau bahkan menangis di belakang pintu sampai kelelahan dan tertidur kan?"
"Tidak, bukankah sudah kubilang tadi aku kepanasan Kak."
"Panas karena melihatku dengan Jane? Akui saja jika kau cemburu. Perlu kau tahu, aku tidak melakukan apapun dengan Jane, saat aku memiringkan wajahku aku sedang membersihkan matanya yang kemasukan debu."
"Itu bukan urusanku, bukankah sudah kubilang agar kau melupakan aku. Melupakan cintamu padaku, tolong kubur rasa itu dalam-dalam, Kak. Kita tidak sepantasnya begini. Tolong Kak Darren, mengertilah. Mengertilah posisi kita saat ini Kak," ucapku dengan suara yang begitu tercekat, hati ini pun sebenarnya tak rela. Tapi aku harus mengatakan semua ini, demi kebaikan keluarga ini, demi menghindar dari dosa yang begitu besar.
"Baik, baik jika itu maumu. Aku akan pergi dari hidupmu, aku akan menjauh untuk mengubur semua rasa ini. Aku akan berusaha untuk melakukan semua apapun yang kau inginkan. Mari lupakan semua rasa ini, lupakan semua yang telah terjadi, kubur rasa ini dalam-dalam, dan mulailah dengan kehidupan baru. Tanpa cinta diantara kita, semoga aku bisa, Shakila."
__ADS_1
Saat Kak Darren baru saja menutup kalimatnya, tiba-tiba klakson mobil pun terdengar.
TIN TIN TIN