
Alvaro sebenarnya terkejut ketika Laurie yang tiba-tiba memeluknya. Namun, melihat keadaan Laurie yang tampak begitu sedih, Alvaro kemudian balas memeluk Laurie.
Dia juga mengusap punggung serta membelai rambutnya, berharap tindakannya itu bisa sedikit menenangkan Laurie. Cukup lama, dia membiarkan Laurie menangis dalam pelukannya. Hingga saat Laurie tampak sedikit tenang, Alvaro kemudian melepaskan pelukannya, lalu menghapus sisa air mata yang ada di wajah Laurie.
"Terima kasih," ucap Laurie.
Alvaro kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Maafkan aku Alvaro, maaf kalau tiba-tiba aku memelukmu."
"Tidak apa-apa, Laurie. Mungkin kau memang butuh bahu untuk bersandar. Kapanpun, aku siap untuk menjadi bahumu kalau kau butuh seseorang untuk bersandar."
Laurie pun tersenyum sambil tersipu malu. "Bagaimana keadaanmu? Apa kau jauh lebih tenang?"
Laurie kemudian mengagukkan kepalanya. "Ya, ini jauh lebih baik. Aku merasa sedikit lega."
"Kalau begitu kita kembali ke rumah sakit sekarang?" tanya Alvaro
"Ya, kita ke rumah sakit sekarang saja biar tidak ada yang curiga."
"Dan juga kondisimu belum sepenuhnya pulih, Laurie."
Alvaro kemudian mendorong kursi roda Laurie menuju ke mobilnya untuk kembali ke rumah sakit. Setelah sampai di ruang perawatan Laurie, Alvaro kemudian membantu Laurie tidur di atas brankar. Namun, tanpa sengaja kaki Alvaro terantuk bagian bawah brankar yang membuat keseimbangannya sedikit goyah lalu menimpa tubuh Laurie begitu saja.
Wajah mereka pun tepat berhadapan satu sama lain. Sejenak mereka terdiam, dan hanyut dalam tatapan hangat masing-masing, deru nafas mereka bahkan terdengar begitu menyatu.
Bagi Alvaro, memandang Laurie memang begitu indah. Semua yang ada pada Laurie benar-benar membuatnya begitu terpesona.
"Cantik," ucap Alvaro lirih.
__ADS_1
"Apa?" balas Laurie yang sadar akan lamunannya. Alvaro pun terlihat salah tingkah, dia kemudian bangkit dari atas tubuh Laurie, dengan gestur tubuh yang begitu canggung.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja."
"Iya, aku tahu itu. Tidak apa-apa Alvaro."
"Emh.., oh iya, aku lupa ada sesuatu hal yang ingin kuberikan padamu."
"Memberi padaku? Apa yang ingin kau berikan?"
"Emh, aku mau memberikan ini untukmu," ucap Alvaro sambil memberikan sebuah kantong plastik, yang sejak tadi dibawa olehnya ketika keluar dari mobil. Laurie kemudian membuka kantong plastik itu yang ternyata berisi beraneka macam makanan.
"Apa ini Alvaro? Biskuit, cokelat, makanan ringan? Banyak sekali."
"Bukankah kau sudah jarang makan makanan seperti itu? Selama kau tidur, kau tidak pernah makan makanan seperti itu kan?"
"Sekarang, makanlah. Besok aku juga akan mencari kesempatan agar kau bisa makan makanan seperti biasa. Aku akan mengecoh Tante Olivia agar kau bisa makan dengan bebas. Nanti biar aku yang bawakan makanan untukmu."
Laurie kemudian menatap Alvaro. "Kenapa kau perhatikan sekali padaku?" Alvaro pun tersenyum.
"Laurie, bukankah aku sudah berjanji padamu untuk membantumu? Dan untuk saat ini, hanya ini yang bisa kulakukan untukmu."
"Terima kasih, kau sangat baik. Kelak, istrimu pasti merasa beruntung memiliki suami sepertimu."
"Aku belum memiliki calon istri. Rasanya masih terlalu sakit untuk mengobati jiwa yang sudah patah."
"Aku bisa merasakan Itu, Alvaro. Aku pun pernah patah hati, rasanya memang sakit. Bahkan hanya sekedar tersenyum pun rasanya begitu berat."
__ADS_1
"Dan aku yang akan membuatmu untuk selalu tersenyum."
"Kau bisa saja, seperti sedang merayuku."
"Laurie, aku sebenarnya juga ingin meminta maaf padamu karena aku belum bisa membantumu untuk lepas dari Zack. Tapi, kau tenang saja, aku pasti akan membantumu lepas dari Zack. Aku sadar, melawan Zack bukan hal yang mudah. Dia bukan orang sembarangan Laurie, kita harus memiliki strategi dan rencana yang tersusun rapi. Mungkin aku juga harus membicarakan hal ini dengan kedua orang tuamu."
"Tapi untuk saat ini, tolong kau jangan bilang pada Papa dan Mama kalau aku sudah sadar."
"Tidak Laurie, ini hanya jadi rahasia kita berdua."
"Ya, rahasia kita berdua," jawab Laurie sambil mengajak Alvaro untuk menautkan jari kelingking mereka.
"Janji?"
"Ya, janji. Sekarang makanlah, apa perlu kusuapi?" tanya Alvaro. Laurie pun tersenyum, rasanya hatinya begitu bahagia. Sebuah kebahagiaan yang sudah lama tidak dia rasakan sebelumnya.
'Oh Tuhan, rasa apa ini? Kenapa rasanya aku bahagia sekali? Apa yang sebenarnya telah terjadi? Kenapa rasanya hatiku begitu nyaman saat bersama dengan Alvaro? Rasa apa ini? Apa aku mulai jatuh cinta?' batin Laurie.
'Oh Tuhan, rasa apa ini? Kenapa saat bersamanya hatiku terasa begitu damai? Semua yang ada pada diri Laurie begitu menarik bagiku. Apa rasa tertarik ini, bisa kusebut sebuah cinta? Oh tidak, Alvaro. Wanita yang ada di hadapanmu, adalah seorang wanita bersuami, dan aku harus sadar itu, mimpimu terlalu jauh untuk berharap padanya,' batin Alvaro.
***
Keesokan Harinya...
Seorang wanita berkaki jenjang tampak berdiri di depan sebuah pintu rumah yang begitu mewah. Tak berapa lama, seorang wanita paruh baya yang dia perkirakan sebagai pembantu membuka pintu rumah tersebut.
"Selamat pagi, apakah saya bisa bertemu dengan Tuan Zack?"
__ADS_1