
Melihat respon dari Laurie, Alvaro merasa begitu bahagia, sebuah senyuman pun tersungging di bibirnya. Meskipun hanya sebuah respon kecil berupa setetes air mata yang keluar dari salah satu sudut mata Laurie.Tapi baginya ini adalah sebuah perkembangan yang bagus."
"Jadi kau sudah mau meresponku? Jika kau saat ini mulai mendengar suaraku, aku akan memperkenalkan diriku. Laurie, perkenalan namaku Alvaro. Aku yang akan menemanimu dan merawatmu sampai kau sembuh. Kamu mau kan kembali sembuh sama seperti dulu?"
Laurie tampak terdiam kembali. "Laurie, aku akan sabar menunggumu sampai kau mau membuka matamu. Aku akan terus menantimu sampai kau mau membuka mata dan mau bicara padaku. Laurie, saat ini aku sudah bercerita tentang kisah cintaku dan semua kesedihanku padamu. Saat kau bangun, kau juga harus bercerita padaku tentang kesedihan yang kau rasakan. Suatu saat akan kutagih padamu ketika kau membuka matamu, dan aku akan sabar menunggu saat-saat itu."
Alvaro kemudian menghapus sisa air mata di wajah Laurie. "Laurie, aku yakin suatu saat nanti kau pasti mau membuka matamu dan menceritakan semua kisah sedihmu padaku. Tolong jangan takut membuka matamu yang indah itu, Laurie. Dunia ini terlalu indah kalau kau lewatkan begitu saja hanya untuk meratapi kisah sedihmu. Kau percaya kan akan ada pelangi setelah hujan? Itulah dirimu, dan kisahmu. Kau harus memiliki harapan untuk membuka lembaran baru di dalam hidupmu."
Saat masih asyik bermonolog, tiba-tiba Olivia masuk kedalam ruangan itu. "Alvaro! Kau kenapa Alvaro? Kenapa kau terlihat begitu bahagia?"
"Tante ada perkembangan bagus dari Laurie, ada sedikit respon yang ditunjukkan Laurie dari salah satu bagian tubuhnya."
"Benarkah?" teriak Olivia. Raut bahagia dan haru kini tergambar di wajahnya.
"Iya Tante, tadi saat aku mengajak Laurie bercerita, dia tampak meneteskan air matanya. Dia meneteskan air matanya saat mendengar kisah sedihku."
"Kisah sedihmu? Apa kau memiliki kisah sedih? Tentang apa Alvaro? Apa itu tentang kisah cintamu?" tanya Olivia.
"Semua orang pasti memiliki kisah sedih, Tante. Hanya saja setiap orang memiliki kisah yang berbeda."
"Kau benar Alvaro, dan saat ini Laurie terpenjara dalam kisah sedihnya, hingga dia memilih untuk tertidur seperti ini."
"Iya Tante, aku tahu itu dan aku akan berusaha untuk bisa menyembuhkan Laurie."
"Terimakasih Alvaro."
"Emh, Tante Olivia aku pamit dulu, ini sudah sore. Aku harus pulang sekarang."
"Iya Alvaro, hati-hati di jalan."
"Terima kasih banyak sudah merawat Laurie dengan baik."
__ADS_1
"Iya Tante aku berjanji tidak akan mengecewakan kalian, karena kalian sudah menjadi bagian dari keluargaku."
"Sekali lagi, terima kasih banyak Alvaro. Semoga kesedihan yang kau alami bisa berganti dengan kebahagiaan."
"Iya Tante Olivia, terima kasih."
Alvaro kemudian keluar dari ruang perawatan Laurie untuk pulang ke rumahnya, meskipun dia sebenarnya masih ingin berada di samping Laurie.
Tak berapa lama setelah Alvaro keluar dari ruangan itu, tampak seorang wanita masuk ke dalam ruang perawatan Laurie.
"Nala!" panggil Olivia saat melihat wanita muda yang saat ini masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Tante Olivia," jawab Nala. Dia kemudian mendekat ke arah Olivia, lalu memeluknya.
"Kapan kau pulang?"
"Tadi siang." Dia kemudian mendekat ke arah Laurie dan melihat keadaannya yang terlihat begitu memprihatinkan. Perasaanya terasa begitu sesak saat melihat Laurie yang saat ini tampak begitu menyedihkan, ada beberapa selang yang menempel di atas tubuhnya, wajahnya pun terlihat pucat.
"Kami semua sedih Nala, kami semua sedih melihat keadaan Laurie saat ini."
"Iya Tante, aku tak menyangka kalau hidup Laurie akan seperti ini. Aku juga baru tahu, memiliki anugrah wajah cantik seperti Laurie ternyata tidak hanya mendatangkan kebahagiaan, tapi juga bisa berdampak buruk seperti ini, Tante. Dia sampai dicintai oleh seorang laki-laki tidak waras yang begitu terobsesi pada dirinya."
"Iya Nala, mungkin ini sudah menjadi bagian takdir dari hidup Laurie."
"Iya Tante Olivia. Emh, Tante Olivia, bolehkah aku tahu dimana alamat Zack?"
Mendengar perkataan Nala, Olivia pun menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya seraya mengerutkan keningnya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Nala?"
"Aku hanya ingin tahu alamatnya saja, Tante."
__ADS_1
"Tidak mungkin kalau kau hanya ingin sekedar tahu alamatnya, pasti kau ingin berbuat sesuatu padanya kan?" tanya Olivia. Nala hanya terdiam.
"Aku tahu, Nala. Aku tahu sifatmu sangat mirip dengan Kak Calista, kau pasti tidak bisa menahan emosi di dalam hatimu, apalagi saat melihat orang yang kau sakiti terluka."
Nala pun terlihat menundukkan wajahnya sambil meneteskan air matanya. "Aku tahu ini sangat berat bagi kita semua, tapi saat ini kita tidak bisa berbuat banyak. Papamu dan Om Kenan juga sedang mencari jalan agar bisa menaklukan Zack. Mereka juga tidak ingin saat Laurie sadar, dia harus hidup kembali bersama dengan Zack. Kami semua tidak rela, Nala."
"Iya Tante, aku juga tidak rela wanita secantik dan sebaik Laurie harus hidup dengan laki-laki iblis seperti Zack."
"Iya Tante aku tahu itu."
Saat Nala dan Olivia masih terlibat perbincangan, tiba-tiba pintu ruang perawatan itu terbuka. Tampak dua sosok laki-laki masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Siapa kalian?" tanya Olivia.
"Kami anak buah Tuan Zack, kami ingin mengantarkan makanan ini untuk Nyonya Olivia."
"Taruh saja makanan itu di sana! Aku tidak sudi menerima apapun dari Tuanmu itu."
"Terserah anda Nyonya, yang penting saya sudah mengantarkan apa yang diperintahkan oleh Tuan Zack," ujar kedua laki-laki tersebut.
Setelah menaruh makanan di atas meja, mereka kemudian keluar dari ruangan itu. Nala yang melihat kedua orang itu, lalu terlintas sebuah ide di benaknya. Dia kemudian pamit pada Olivia.
"Tante Olivia, maaf sepertinya aku harus pulang sekarang. Tiba-tiba ada temanku yang datang ke rumah," ujar Nala.
"Oh iya Nayla, hati-hati di jalan ya, Sayang."
"Iya Tante," jawab Nala. Dia kemudian keluar dari ruang perawatan itu dengan langkah yang begitu tergesa-gesa, lalu mengikuti kedua anak buah Zack sambil mengendap-ngendap.
Nala juga mengikuti arah mobil yang dikendarai oleh anak buah Zack itu, hingga setengah jam kemudian, mobil anak buah Zack tiba di sebuah rumah yang begitu mewah. Nala kemudian menghentikan mobilnya.
"Oh jadi ini rumah Zack? Tunggu saja besok, aku akan datang padamu Zack. Aku akan datang padamu dan memulai permainan diantara kita," ujarnya sambil tersenyum kecut.
__ADS_1