
"Pa... Papa," ucap Nala sambil menelan ludahnya dengan kasar, jantungnya kini berdegup semakin kencang, perasaannya begitu tak menentu apalagi saat melihat Leo yang menatap tajam ke arahnya. Calista pun ikut terheran-heran melihat Leo yang tampak begitu marah.
"Kau pikir Papa tidak dengar semua yang kau katakan di telepon tadi Nala? Kalian juga membicarakan tentang Kenzo kan?"
"A... Apa maksud Papa?"
"Calista, lihat putrimu, putrimu sudah berani membohongi kita, Calista," ucap Leo sambil memandang pada Calista. Calista lalu menatap Nala disertai tatapan penuh tanda tanya.
"Nala, sebenarnya apa yang telah terjadi? Apa kau menutupi sesuatu? Apa yang sebenarnya telah Nathan lakukan? Apa ini benar ada hubungannya dengan Kenzo seperti yang papamu katakan tadi?" tanya Calista pada Nala yang kini terlihat semakin panik.
"Ini pasti ada hubungannya dengan Kenzo kan, Nala?"
"Emhh.. E.. I.. Iya Pa."
"S*ITTTT!"
"Leo, kendalikan emosimu!"
"Nala, cepat katakan apa yang sebenarnya telah terjadi? Apakah Nathan sudah tahu tentang siapa Kenzo sebenarnya?"
Calista lalu menatap Nala sambil menggenggam tangannya. Nala lalu balas menatap Calista yang kini sedang menganggukkan kepalanya. "Ya, dia sudah tahu siapa Kenzo sebenarnya. Dia tahu Kenzo pernah tinggal bersama dengan kita, dia juga tahu alasan Kenzo tinggal bersama kita karena dia pernah dibuang oleh ayah kandungnya saat itu," jawab Nala.
"Darimana Nathan tahu semua itu?" tanya Leo. Namun Nala hanya terdiam.
"Nala! Papa bertanya padamu, Nala! Jangan diam saja! Cepat jawab Nala!"
"Jawab saja pertanyaan Papamu, Nala," sahut Calista.
"Aku takut Ma," bisik Nala.
"Jangan takut, ada Mama disini!"
"NALAAAAAA!!"
"Oh, iya Pa. Nathan tahu semua itu dariku, maafkan Nala Pa, aku tidak sengaja menceritakan semua itu pada Nathan, aku benar-benar tidak sengaja menceritakan semua itu, aku pikir dia tidak akan berbuat nekad. Tolong maafkan aku Pa, maafkan aku Ma. Aku sudah berusaha berulangkali mengingatkan Nathan tapi dia tidak mendengar kata-kataku," jawab Nala sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"HAH KENAPA KAU CEROBOH SEKALI NALA! BUKANKAH DULU SUDAH KUPERINGATKAN PADAMU AGAR TIDAK MENCERITAKAN PADA SEMBARANG ORANG TERMASUK PADA NATHAN!" teriak Leo. Nala pun hanya bisa menangis dalam dekapan Calista.
"Leo sudahlah, tanpa ada kejadian seperti ini, cepat atau lambat Nathan juga pasti akan tahu kebenarannya. Bukankah beberapa hari yang lalu sudah kukatakan padamu agar kau menceritakan semua itu pada Nathan tapi kau malah menolaknya. Jika saja kau mau menerima saranku dan mengawasi gerak-gerik Nathan tentu kita bisa mencegah semua kejadian ini!"
"Calista, apa kau lupa? Saat itu Nathan juga sedang sangat emosi, menceritakan hal seperti ini saat dia sedang emosi hanya akan memperkeruh suasana!"
"Sama saja, Leo. Nala pun menceritakan semua tentang Kenzo saat Nathan sedang marah, kau tahu sendiri bagaimana saat Nathan marah."
"Ya, sama seperti dirimu di waktu muda Calista, sifat kalian sama persis, kau selalu berusaha untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, sama seperti Nathan, meskipun itu harus menyakiti orang-orang terdekatmu," jawab Leo sambil tersenyum kecut. Mendengar perkataan Leo, Calista pun terlihat salah tingkah, apalagi kini Nala melihat dirinya sambil menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Leo, tolong jangan berkata seperti itu, aku sudah menyadari semua kesalahan di masa laluku," jawab Calista dengan sedikit canggung. Leo kemudian mengambil ponselnya lalu tampak menelpon seseorang.
🍒🍒🍒
Celah sinar matahari yang menembus dari celah gorden membuat Clarissa perlahan membuka matanya. 'Ternyata sudah pagi,' gumam Clarissa sambil mengucek matanya. Dia kemudian melihat ke arah sampingnya dan melihat Nathan yang masih terlelap di samping ranjangnya.
'Kenapa dia tidur di sini? Bukankah dia bisa tidur di sofa?' gumam Clarissa kembali. Dia kemudian mengguncang-guncangkan tubuh Nathan.
"Kak Nathan, bangun!" panggil Clarissa sambil mengguncang-guncangkan tubuh Nathan. Nathan pun membuka matanya. Dia kemudian menegakkan tubuhnya pada bangku di samping ranjang Clarissa.
"Kenapa kau tidur di sini? Bukankah kau bisa tidur di sofa?"
"Kalau aku tidur di sofa, aku takut tidak mendengarmu saat kau membutuhkan bantuanku."
"Oh, kalau begitu tolong kau ikatkan rambutku lagi, aku mau mencuci mukaku," ucap Nala sambil memberikan ikat rambutnya.
'Oh tidak, aku harus melihat tengkuknya yang seksi lagi? Bagaimana kalau aku tidak bisa mengendalikan hasratku? Apalagi kami hanya berdua di kamar ini,' gumam Nathan sambil menelan ludahnya dengan kasar.
"Kenapa kau diam, Kak Nathan!"
"Oh iya," jawab Nathan, dia kemudian mulai menyatukan rambut Clarissa lalu mulai mengikatnya. Melihat tengkuk jenjang Clarissa yang terlihat sangat mulus jantung Nathan pun berdegup kian kencang. Sesuatu yang ada di bawah mulai terasa sedikit menegang, deru nafasnya pun semakin tidak karu-karuan, dia kemudian mendekatkan wajahnya pada tengkuk Clarissa hingga tiba-tiba bunyi suara ponsel pun terdengar.
"Sudah selesai?" tanya Clarissa.
"Oh.. E...Iya," jawab Nathan kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celananya.
__ADS_1
'Tolong mengempislah jangan sampai Clarissa melihatmu membesar seperti ini,' gumam Nathan saat mengambil ponselnya sambil melirik pada asetnya yang terlihat sedikit menegang. Dia kemudian mengangkat panggilan di ponselnya sambil duduk di atas sofa.
[Halo Nala, ada apa lagi? Memangnya kau tidak bisa memberikan alasan pada Papa dan Mama kalau aku sedang bersama dengan teman-temanku?]
[Nathan, tidak sesederhana itu masalahnya, kau tahu sendiri kan Papa sangat sulit untuk dibohongi!]
[Lalu?]
[Papa sudah tahu semuanya, Nathan!]
'Astaga!' gumam Nathan sambil menutup teleponnya.
'SIAL!' umpat Nathan di dalam hati. Dia kemudian menghembuskan nafas panjangnya lalu memejamkan matanya, pikirannya kini begitu kacau hingga membuatnya kembali berteriak dan melempar bantal sofa yang ada di sampingnya.
"BREN*SEK!" umpat Nathan. Setelah itu teriakkan yang cukup keras pun kembali terdengar.
"KAK NATHAN! APA MAKSUDMU MENGUMPAT SAMBIL MELEMPARKAN BANTAL SOFA INI LAGI PADAKU!"
🍒🍒🍒
Seorang laki-laki keluar dari sebuah mobil mewah berwarna hitam. Dia kemudian berjalan menghampiri seorang laki-laki yang sedang membaca koran di bangku taman yang ada di halaman rumahnya.
"Selamat Pagi, Om Leo."
Laki-laki itu lalu menurunkan korannya kemudian tersenyum pada laki-laki muda yang kini berdiri di hadapannya. "Selamat pagi Kenzo, aku sudah menunggu kedatanganmu."
"Apa Papa dan Mama sudah memberitahu Om Leo kalau aku akan datang ke sini?"
"Tidak ada yang memberitahuku, Kenzo. Tapi aku tahu kau pasti akan datang untuk bertemu denganku."
Kenzo kemudian tersenyum. "Silahkan duduk, Kenzo."
"Terimakasih Om," jawab Kenzo kemudian duduk di depan Leo.
"Bagaimana apa kau sudah bersedia mengalah pada Nathan sebagai wujud balas budimu padaku?" ucap Leo sambil tersenyum menyeringai.
__ADS_1