
"Kau mau kemana, Kak?" tanya Sharen saat berpapasan dengan Vansh di depan pintu kamarnya.
"Aku harus pergi sebentar, Sharen. Aku ada urusan penting, aku hanya pergi sebentar, kau tidak usah cemas. Jika ada sanak saudaramu yang bertanya, jawab saja aku sedang ada urusan pekerjaan."
"Hahahaha iya kau tenang saja, Kak. Lebih baik kau pergi sekarang, hati-hati di jalan."
Vansh pun tersenyum lalu pergi meninggalkan Sharen dan keluar dari rumah itu, kemudian bergegas mengendarai mobilnya ke rumah Queen. Setengah jam kemudian, dia pun sudah sampai di sebuah rumah dua lantai dengan model bangunan minimalis. Dia kemudian turun dari mobil itu lalu berjalan ke arah pintu dan memencet bel yang ada di pintu tersebut.
TETTTT TETTTTT
Tak berapa lama, pintu itu pun terbuka.
"Selamat siang Tuan Vansh," sapa seorang pembantu rumah tangga yang membuka pintu tersebut.
"Selamat siang, apa saya bisa bertemu dengan Mama Reni?"
"Oh Nyonya Reni sedang pergi ke makam."
"Pergi ke makam Queen?" tanya Vansh.
"Iya Tuan, mereka belum lama pergi."
__ADS_1
"Mereka?" tanya Vansh sambil mengerutkan keningnya.
"Iya, tadi ada salah seorang teman lama Nyonya Queen yang datang. Nyonya Reni dan wanita itu lalu pergi ke makam almarhum Nyonya Queen."
"Oh, baiklah. Aku tunggu saja mereka di sini," ucap Vansh.
"Silahkan Tuan," jawab pembantu rumah tangga tersebut lalu mempersilahkan Vansh masuk ke dalam rumah itu. Vans kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu, lalu duduk di kursi ruang tamu.
Dia kemudian mengambil ponselnya lalu mengutak-atik ponsel tersebut. Setelah merasa bosan memainkan ponsel yang ads di tangannya. Vansh lalu mengamati sekeliling rumah itu.
'Masih sama seperti dulu, masih sama seperti satu tahun lalu. Di tempat ini, kau tiba-tiba jatuh ke atas pangkuanku saat aku baru saja mengucap ijab qabul pernikahan kita,' gumam Vansh sambil tersenyum kecut. Satu butir air mata pun lolos dari sudut matanya lalu jatuh di atas pipinya.
"Silahkan Tuan. Silahkan jika Tuan Vansh ingin memakan kue itu, teman Nyonya Queen yang membawa kue itu," kata pembantu rumah tangga tersebut lalu berjalan masuk kembali ke dalam rumah setelah menaruh secangkir teh di meja untuk Vansh.
Vansh pun tampak mengamati fudge brownies yang baru saja dibuka olehnya. Perlahan, dia mengambil kue itu lalu memasukkan ke dalam mulutnya dan mengunyah dengan perlahan.
"Rasanya, rasanya aku pernah memakan kue seperti ini. Rasanya sungguh tidak asing bagiku," ujar Vansh sambil memakan brownies itu lagi hingga beberapa potong kue dilahapnya begitu saja.
"Astaga, aku benar-benar tidak sopan. Teman Queen mengirimkan kue ini untuk Mama Reni tapi aku malah memakannya tanpa sepengetahuan mereka. Aku benar-benar lancang," gerutu Vansh.
'Lancang?' gumam Vansh.
__ADS_1
"Lancang? Bagaimana kalau aku menemui gadis lancang itu saja? Barangkali Mama Reni ada urusan yang lebih penting dengan teman Queen itu, aku bisa menemui Mama lain kali. Sebaiknya sekarang aku menghubungi gadis lancang itu, bukankah tadi malam dia mengatakan sudah membuatkan kue untukku?" ucap Vansh sambil tersenyum. Vansh kemudian mengambil ponselnya kembali lalu menghubungi Maya.
...***...
Maya menatap gundukan tanah yang ditumbuhi rumput berwarna hijau yang ada di depannya dengan tatapan nanar. Dia kemudian menyiram gundukan berselimut rumput yang penuh taburan bunga mawar berwarna merah itu dengan sebotol air yang ada di tangannya.
'Queen, apapun kisah kelam yang pernah terjadi diantara kita, bagiku kau adalah sahabatku. Kau tetap menjadi sahabatku. Sahabat yang pernah menemaniku di saat duka, di saat aku merasa dikucilkan saat kita masih anak-anak dulu, hanya yang ada di sampingku, menjadi sahabatku, dan menemani hari-hariku. Lalu kau pikir, hanya dengan satu kesalahan yang pernah kau lakukan padaku, aku akan marah padamu dan membencimu? Tidak Queen, aku tidaklah senaif itu. Karena bagiku, kebaikanmu itu jauh lebih banyak dan berharga dari satu kecurangan yang kau lakukan padaku. Aku tidak marah padamu, Queen. Semoga kau bisa beristirahat dengan tenang dan mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya,' gumam Maya kemudian mengusap wajahnya setelah menutup doa untuk Queen.
'Queen, hari ini mama sudah bisa menepati janji mama padamu. Mama sudah menceritakan semua rahasia masa lalumu yang selalu menghantui hidupmu. Semoga setelah ini, kau bisa beristirahat dengan tenang Queen,' gumam Reni sambil menghapus air matanya.
Maya lalu menatap Reni sambil tersenyum. "Semoga Queen bisa beristirahat dengan tenang, Tante."
"Iya Maya, terimakasih banyak."
Maya kemudian menganggukkan kepalanya lalu menghapus air matanya yang mulai menetes membasahi pipinya.
"Tante, saya permisi pulang dulu," ucap Maya. Reni kemudian menganggukan kepalanya lalu tersenyum melihat Maya yang sudah berjalan pergi meninggalkannya. Saat Maya keluar dari komplek pemakaman tersebut, tiba-tiba ponselnya pun berbunyi.
Maya lalu mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya. Dia pun begitu terkejut saat melihat nama Vansh di layar ponselnya.
"Astaga Vansh? Tuan Vansh meneleponku? Apa yang harus kulakukan?" gerutu Maya sambil mengigit bibir bawahnya.
__ADS_1