
Kenzo pun memberanikan diri membuka suaranya. "Mama, Papa, maafkan kami jika kami telah melakukan kesalahan dan membuat kalian bingung seperti ini, tapi sebenarnya apa yang telah terjadi? Ada apa sebenarnya dengan Om Leo dan Tante Calista?"
"Kenzo, Cleo. Semua ini tidak semudah yang kalian pikirkan, Leo dan Calista bukanlah orang sembarangan," jawab Rayhan.
"Lalu kami harus bagaimana Pa? Apakah kami harus menemui Om Leo dan Calista?"
"TIDAK JANGAN!" teriak Amanda yang membuat Kenzo dan Cleo semakin keheranan dengan sikap orang tua mereka.
"Emh begini Kenzo, begini maksud Mama, sebaiknya kami saja yang berbicara dengan mereka. Kami akan bicara sebagai sesama orang tua agar mereka bisa mengerti posisi kalian jika sebenarnya kalian sudah menikah."
"Ma, sebenarnya aku juga tidak yakin Tante Calista dan Om Leo yang mengirimkan pesan itu."
"Apa maksudmu, Kenzo?"
"Mama, nomor yang mengirim pesan itu berasal dari nomor asing, bukan dari nomor ponsel Om Leo dan Tante Calista."
Semua orang yang ada di ruangan tersebut lalu memelototkan matanya. Amanda dan Rayhan pun saling bertatapan. "Benarkah itu bukan berasal dari nomor ponsel Leo ataupun Calista?" tanya Rayhan lagi.
"Iya Pa, itu berasal dari nomor asing."
Rayhan lalu menatap Amanda. "Amanda, kita masih memiliki harapan jika yang mengirimkan pesan itu bukan Leo ataupun Calista."
"Iya Rayhan, bagaimana kalau besok kita menemui mereka?"
"Kami ikut!" teriak Vallen dan Firman bersamaan.
"Amanda, Rayhan, hal ini juga ada hubungannya dengan putri kami, sudah seharusnya kami juga ikut menyelesaikan semua masalah ini. Kami juga ingin memberikan penjelasan pada mereka berdua," sahut Firman yang membuat Amanda dan Rayhan menganggukkan kepalanya.
"Tidak Pa! Ma! Ini masalahku, sebaiknya aku yang menyelesaikan semua masalahku sendiri, aku sudah dewasa, sudah tidak pantas aku bergantung pada kalian semua, apalagi ini menyangkut masalah pribadiku, tolong biarkan aku bicara pada Om Leo dan Tante Calista sendirian. Biarkan aku menyelesaikan masalahku sendiri sebagai seorang kepala keluarga yang mempertahankan rumah tangganya," ucap Kenzo sambil memandang orang-orang yang ada di sekelilingnya.
__ADS_1
Cleo lalu memeluk Kenzo dengan begitu manja. "Awwww, kau manis sekali Kenzo. Aku jadi ingin menciummu!" ucap Cleo sambil memonyongkan bibirnya lalu tersenyum pada Kenzo.
"CLEO! INI BUKAN WAKTUNYA UNTUK MELAKUKAN ITU!" teriak Vallen.
"Aku setuju dengan Kenzo, aku yakin kau pasti bisa menyelesaikan semua masalah ini, Kenzo. Bicarakan baik-baik dengan Leo dan Calista, aku harap mereka mau membantumu menyelesaikan semua yang terjadi diantara kalian bertiga," ucap Firman sambil menatap Rayhan dan Amanda.
"Tapi Firman, aku takut, aku cemas jika ternyata Leo dan Calista lebih mengedepankan perasaan Nathan, bagaimanapun juga Nathan anak kandung mereka, bukankah kalian semua juga tahu bagaimana Leo dan Calista sangat sulit mendapatkan keturunan. Dan saat mereka mendapat keturunan, mereka menuruti semua yang diinginkan oleh anak kembar mereka."
"Amanda, kau tidak perlu merasa takut. Kau harus percaya pada putramu, dia sudah dewasa. Benar kata Kenzo, biarkan dia menyelesaikan masalahnya sebagai seorang kepala keluarga, tidak usah takut jika putra kita tidak melakukan kesalahan apapun pada mereka," sahut Rayhan yang kemudian dijawab anggukan kepala dari Amanda, meskipun anggukan kepala tersebut terasa begitu berat.
"Sebaiknya kita semua istirahat, ini sudah malam," tambah Firman. Semua orang yang ada di ruangan tersebut lalu menganggukan kepalanya, mereka kemudian berjalan memasuki kamar mereka dengan perasaan yang begitu campur aduk. Rayhan pun menuntun Amanda keluar dari rumah Vallen sambil menggenggam tangannya. "Putramu sudah dewasa, biarkan dia menyelesaikan semua masalahnya."
"Sebenarnya bukan itu yang kutakutkan, tapi rahasia tentang Kenzo dan Abimana bisa saja terkuat saat dia bertemu dengan Leo dan Calista," jawab Amanda sambil mengigit bibirnya.
🍒🍒🍒
Nathan menghembuskan nafas panjangnya saat melihat Clarissa yang kini sudah terlelap di depannya. Dia kemudian menutup komik Doraemon yang ada di tangannya sambil menyenderkan tubuhnya pada bangku yang ada di samping ranjang di ruang perawatan tersebut.
"Nala! Astaga aku lupa memberitahu Mama kalau malam ini aku tidak pulang ke rumah," gerutu Nathan. Dia kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
[Halo Nala.]
[Nathan!!! Kau sebenarnya ada dimana?]
[Nala tolong katakan pada Mama malam ini aku tidak pulang ke rumah, aku sedang ada urusan penting yang tidak bisa kutinggalkan.]
[Urusan penting apa, Nathan? Apa itu ada hubungan dengan Kenzo?]
[Itu bukan urusanmu, Nala!]
__ADS_1
[Nathan, bukankah sudah kuperingatkan agar kau jangan mengusik hidup Kenzo! Dia adik kita, Nathan!]
[Nala, sebaiknya kau tidak usah ikut campur urusanku! Lebih baik kau urusi saja hidupmu dengan tunanganmu yang pemalas itu!]
[Nathan dengarkan aku, tolong jangan berbuat seperti ini, Nathan!] teriak Nala. Nathan kemudian menutup panggilan dari Nala sambil mendengus kesal.
'Kau memang kembaranku tapi kau tidak berhak mengatur hidupku dan perasaanku!' gumam Nathan. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Hari yang melelahkan, mengurus wanita galak yang menyebalkan ini sungguh sangat melelahkan dan membuat moodku buruk, tidak hanya itu saja, semua rencanaku juga ikut berantakan karena wanita ini! Sungguh aku tidak menyangka akan direpotkan oleh wanita seperti ini!" gerutu Nathan kemudian menidurkan kepalanya di atas ranjang Clarissa.
Sementara di ujung sambungan telepon tampak Nala terlihat begitu cemas, perasaannya kini begitu campur aduk, berbagai pikiran kini menari di dalam benaknya. Dia tampak berjalan mondar-mandir di dekat sofa yang ada di dalam ruang keluarga, hingga tiba-tiba lamunannya buyar saat sebuah suara memanggilnya.
"Nala!"
"Ohhhh.. O..Ya!" jawab Nala. Dia kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat Calista yang kini berdiri di depannya.
"Kenapa kau terlihat panik dan berjalan mondar-mandir seperti orang kebingungan, Nala? Apa kau sudah menelepon Nathan?"
"Emh.. E...Iya Ma, aku sudah menelepon Nathan."
"Lalu dimana Nathan? Ini sudah malam tapi kenapa dia belum juga pulang ke rumah."
"Oh Nathan, Nathan dia ada di rumah temannya bernama teman-temannya yang lain. Malam ini dia akan menginap di salah satu rumah temannya tersebut, mereka sudah lama tidak bertemu jadi mereka ingin mengobrol dan menghabiskan waktu semalaman untuk begadang."
"Benarkah? Teman yang mana? Mama mengenal semua teman dekat Nathan, biar nanti Mama hubungi orang tuanya untuk meminta ijin kalau Nathan akan menginap di rumah mereka."
"Oh...O..Itu, E.."
"Teman Nathan yang mana, Nala? Kenapa kau terlihat sangat gugup?"
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Calista, Nala hanya tersenyum sambil meringis. "Nala, apa kau sudah berbohong pada Mama? Apa yang sebenarnya telah terjadi pada Nathan, Nala?"
"Nala!" teriak Leo yang membuat Calista dan Nala terkejut.