Bed Friend

Bed Friend
Mengunjungi Panti


__ADS_3

Dea kemudian mengutak-atik ponselnya untuk menelepon Kenzo. Kenzo yang masih bercengkrama di dalam selimut bersama Cleo pun terkejut saat ponselnya berbunyi.


"Kenzo, ponselmu berbunyi Kenzo!"


"Biarkan saja, Sayang!"


"Tapiiii Kenzoooo...."


Belum sempat Cleo menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba Kenzo membalik tubuh Cleo dan melummat habis bibirnya kembali.


"Kenzo!!! Kau mengagetkanku!" teriak Cleo setelah Kenzo melepaskan ciumannya.


"Jangan keras-keras, Cleo! Nanti Shane bangun!"


"Hahahahaha, Kenzoooo!"


"Cleo, sebenarnya ada yang ingin kuceritakan padamu."


"Emhhh, ada apa?"


"Cleo, bagaimana kalau akhir pekan ini kita pergi ke Panti Asuhan."


"Panti Asuhan?"


"Ya, kau tahu kan sekretaris baruku? Yang tadi siang kuceritakan padamu."


"Dea? Apa hubungannya Dea dan Panti Asuhan, Kenzo?"


"Dea tinggal di Panti Asuhan, Cleo. Bukankah selama ini kita belum pernah memberikan santunan pada Panti Asuhan? Aku ingin memberikan beberapa oleh-oleh untuk anak-anak yang ada di Panti Asuhan itu, Cleo. Apa kau mau membantuku?"


"Tentu saja, Kenzo. Tentu saja!"


"Terima kasih, Sayang!" ujar Kenzo sambil menciumi tengkuk Cleo kembali.


"Hahahaha, Kenzooo! Kenzooo!"


"Jangan keras-keras Cleo, ada Shane! Dan juga ada Mama... "


Belum sempat Kenzo menyelesaikan kata-katanya tiba-tiba terdengar teriakan dari Vallen. "CLEOOOO!! BERISIK! INI SUDAH MALAM!"


Kenzo kemudian menatap Cleo. "Benarkan ada yang protes?" bisik Kenzo.


"Mama memang seperti itu. Bagaimana kalau kita pindah rumah saja? Kita membeli sebuah rumah saja?"


"Jangan Cleo, kasihan orang tua kita. Mereka sudah terbiasa hidup dengan Shane, terutama Mama Amanda yang saat ini sudah menyerahkan sepenuhnya urusan perusahaan padaku. Dia selalu menghabiskan waktunya bersama Shane. Apa kau tega memisahkan mereka berdua?"


Cleo menautkan alisnya dan tampak berfikir. "Kau benar juga, yang penting kau selalu tahan dengan kecerewetan Mamaku."


"Hahahahaha, tidak ada mertua terbaik selain Mama Vallen, dan tidak ada istri paling luar biasa seperti dirimu. Apa kau mengerti?"


"Harus seperti itu, Kenzo! Sekarang cium aku lagi!" ujar Cleo sambil memonyongkan bibirnya, dan dibalas lumattan yang begitu rakus oleh Kenzo.

__ADS_1


"HAHAHAHA KENZOOOO!" teriak Cleo.


"CLEOOOOO!! BERISIKKKKK!"


Sementara Dea di ujung sambungan telepon, tampak menatap ponselnya. "Pak Kenzo tidak menjawab panggilanku, mungkin dia susah tidur," ujar Dea sambil menatap layar ponselnya. Baiklah, kalau begitu sekarang aku tidur saja. Aku ingin menutup mataku, dan saat kubuka mata ini, aku bisa melihat senyum Pak Kenzo di depanku," ujar Dea sebelum akhirnya dia terlelap.


Keesokan Harinya...


Dea memasuki kantor dengan langkah yang begitu tergesa-gesa, serta senyuman yang tersungging di bibirnya. Dia tampak cemas dan berulang kali melihat arloji di tangannya.


"Sudah hampir pukul sembilan dan Pak Kenzo belum juga datang?" gerutu Dea.


Hingga jam di kantor menunjukkan pukul sembilan pagi, Kenzo baru mulai terlihat berjalan ke arah ruangannya.


"Selamat pagi Pak Kenzo," sapa Dea.


"Selamat pagi Dea," jawab Kenzo sambil berlalu begitu saja masuk ke dalam ruang kerjanya.


Namun, baru saja Kenzo akan membuka pintu ruangannya. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya kembali.


"Dea, besok hari minggu sepertinya aku ingin berkunjung ke Panti Asuhan. Kau ada waktu kan?"


"Pak Kenzo ingin berkunjung ke Panti?"


"Ya, aku ingin berkunjung ke Panti. Bagaimana? Apa kau ada waktu?"


"Oh ya, tentu saja Pak Kenzo. Tentu saja!" jawab Dea.


"Ya, aku masuk dulu, kerjakan pekerjaanmu, dan jangan lupa beritahu aku kalau ada perubahan jadwal mendadak."


Kenzo lalu masuk ke dalam ruangannya, meninggalkan Dea yang masih tersenyum ke arahnya, sebuah senyuman yang sangat sulit terlepas dari bibirnya.


"Pak Kenzo ingin berkunjung ke Panti di hari minggu? Astaga, aku tidak menyangka jika dia sepertinya juga tertarik padaku. Oh Tuhan, tidak sia-sia perjuanganku untuk bisa bekerja di kantor ini. Sungguh aku tidak menyangka jika semuanya akan seperti ini," ucap Dea sambil menyunggingkan senyumnya.


***


Luna yang saat ini sedang berdiri di atas balkon kamar, menatap kepergian mobil Devano yang keluar dari rumah mereka. Dia tampak meneteskan air matanya.


"Sampai kapan? Sampai kapan aku akan bertahan dalam pernikahan ini? Dua bulan lagi jika Devano sudah bertemu dengan tunangannya yang sebenarnya, bagaimana kelanjutan pernikahan ini? Oh Tuhan, aku tidak tahu bagaimana kehidupan kami nantinya, tapi aku hanya berharap yang terbaik bagi anakku. Devano, aku minta maaf jika aku belum bisa melakukan kewajibanku sebagai istrimu. Aku tahu aku sudah berdosa karena tidak melakukan kewajibanku, aku hanya ingin mendapat kepastian dari Devano."


Luna kemudian memejamkan matanya, mengingat kejadian dua minggu silam, saat dia baru saja mendapatkan kenyataan pahit, mengandung benih dari seorang lelaki yang sudah ditakdirkan menjadi milik wanita lain.


DUA MINGGU SEBELUMNYA.


Devano kemudian bangkit dari tubuh Luna, lalu memungut pakaiannya dan pakaian Luna yang tercecer di bawah ranjang dan memberikannya pada Luna.


"Kau sudah selesai?" tanya Devano setelah melihat Luna yang kini sudah mengenakan pakaiannya kembali.


"Sudah," jawab Luna singkat.


"Ayo kuantar pulang!"

__ADS_1


Luna menganggukan kepalanya, mereka lalu keluar dari sebuah kamar pribadi yang ada di ruang kerja Devano di kantornya. Sebuah ruangan yang sudah menjadi saksi bisu pergulatan nafsu antara dua insan yang sama-sama memiliki tujuan yang berbeda.


Beberapa saat kemudian, mobil Devano tampak berhenti di depan sebuah rumah sederhana di komplek pemukiman padat penduduk di ibu kota.


"Terima kasih, Luna."


Luna kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Devano, menatap wajah tampan yang ada di hadapannya dengan tatapan mata manik cokelatnya yang begitu dalam.


'Ahhh, tatapan mata ini? Kenapa dia harus menatapku dengan tatapan mata seperti ini lagi?' batin Devano.


"Semoga acara pertunangan anda besok lancar."


****


Setengah jam kemudian, Luna sudah berdiri di dalam kamar mandi sambil memegang sebuah benda pipih di tangannya.


Meskipun dengan penuh keraguan, dia mencelupkan benda pipih itu ke sebuah wadah kecil yang berisi cairan berwarna kuning.


CLUP


Luna menutup matanya, mata itu pun terpejam beberapa saat sambil mengumpulkan kekuatan untuk menegarkan hatinya.


"Hufttt, aku kuat!" ujar Luna sambil perlahan membuka matanya. Dia pun mengangkat benda pipih itu, seiring dengan matanya yang terbuka.


"Oh tidak!" ucap Luna saat melihat dua buah garis yang tertera di benda pipih itu.


Hatinya terasa begitu sakit, jauh lebih sakit daripada saat dia memendam rasa cintanya pada Devano. Luna pun hanya bisa menangis, sambil memegang perutnya dan memejamkan matanya.


"Keadaan yang membuatku jatuh cinta padamu, lalu aku dihancurkan oleh keadaan itu sendiri karena cinta ini adalah sebuah kesalahan."


Sementara itu, di sebuah rumah mewah tampak Devano sedang tersenyum setelah menyematkan cincin pada seorang wanita cantik yang ada di hadapannya diiringi riuh dan tepuk tangan orang-orang yang ada di sekitarnya.


'Cinta seorang laki-laki dewasa adalah kepalsuan, karena sesungguhnya laki-laki tidak butuh cinta. Just sexxx no love!' batin Devano.


NOTE:


Selamattt, kalian sedang baca cuplikan 😂😂


Di atas itu cuplikan mini novel nya othor, yang menceritakan tentang Devano dan Luna sejak awal mereka ketemu. Terus yang penasaran sama Luna and Dea sebenarnya wajib mampir ke novel sebelah ya. Judulnya Sekedar Pelampiasan, othor sebut mini novel karena bab nya ga banyak. Di situ juga nanti ketauan siapa sebenarnya anak kandung Dimas, Luna atau Dea?


NOTE :


mampir juga ya ke karya Bestie aku novelnya Kak Samy Noer judulnya Jangan Ganggu Istriku



Blurb:


Blurb


Mempunyai istri yang cantik adalah kebanggaan bagi semua laki-laki. Apalagi jika dirinya yang memiliki tampang pas-pasan. Tapi tidak dengan Kabir, mempunyai istri cantik membuat hidupnya tak tenang. Karena sehari-hari kesabarannya diuji menghadapi tingkah laku istrinya. Akhir-akhir ini istrinya gemar sekali berselancar di media sosial, membuat video kemudian di unggah ke sebuah aplikasi yang sedang melejit saat ini.

__ADS_1


Mempunyai suami yang mapan tapi tidak tampan, tidak membuat Sasti berkecil hati. Baginya dengan uang dirinya bisa merombak penampilan suaminya yang minim style menjadi lelaki parlente. Bagi Sasti penampilan adalah nomor satu. Harus paripurna di segala dan setiap kesempatan. Hati tenang nya tiba-tiba terusik oleh kehadiran pria yang bernama Sastra. Awal mula keresahan hatinya yang selalu membanding-bandingkan Kabir dengan Sastra.


Sanggupkah Kabir menjaga Sasti dari gangguan pria lain? Apakah Sasti tetap menjadikan Kabir sebagai pelabuhan pertama dan terakhirnya?


__ADS_2