
Maya yang begitu terkejut mendengar pengakuan dari Vansh pun hanya bisa terpaku. Meskipun perasaannya begitu campur aduk antara haru dan bahagia, tapi rasanya begitu sulit menghentikan air mata yang jatuh dari sudut matanya.
Apalagi saat Vansh menatapnya dengan tatapan begitu dalam, Maya pun terlihat begitu salah tingkah dan hanya bisa diam terpaku. Tubuhnya pun seolah bergetar begitu hebat saat Vansh merengkuh wajahnya lalu mencium bibirnya dengan begitu lembut.
'Oh Tuhan, rasanya ini semua seperti mimpi. Apakah dia benar-benar mencintaiku? Apakah benar yang semua dia ceritakan jika dia sudah memperhatikanku sejak dulu. Bagaimana jika dia membohongiku? Tapi ah rasanya tidak mungkin. Bagaimana dia tahu jika dulu aku selalu membawa kotak kue saat melewati sekolahnya jika dia tidak pernah mengamatiku? Oh Tuhan, terima kasih. Terima kasih karena ternyata selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan,' gumam Maya yang kini mulai membalas ciuman Vansh. Setelah berciuman cukup lama, mereka pun melepaskan ciuman mereka satu sama lain.
"Gadis lancang! Ayo cepat masuk mobil! Tubuhmu sangat mungil, bisa-bisa kau kedinginan dan masuk angin, aku tidak mau kau merepotkanku terus menerus. Apa kau mengerti?" omel Vansh.
Maya pun memonyongkan bibirnya. "Dasar, ketus sekali! Seharusnya kau bisa bersikap lebih manis padaku!" gerutu Maya pada Vansh. Vansh pun tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya sambil mengambil koper milik Maya lalu memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
"Ayo cepat masuk, Sayang!" ucap Vansh kemudian menarik tangan Maya untuk memasuki mobilnya. Maya pun tersenyum mendengar perkataan Vansh. Dia pun berjalan mengikuti langkah Vansh lalu masuk ke dalam mobil milik Vansh.
"Dingin sekali!" gerutu Maya saat berada di dalam mobil, pakaiannya yang basah ditambah dengan AC yang ada di dalam mobil tersebut pun semakin membuat tubuhnya menggigil.
Vansh yang baru saja duduk di sampingnya pun tersenyum kecut saat melihat Maya yang terlihat kedinginan. "Dasar gadis lancang, kalau tidak kuat dingin sebaiknya kau tidak usah hujan-hujanan, kau memang selalu merepotkanku!" gerutu Vansh.
Dia kemudian mengambil jaket yang ada di jok belakang mobilnya lalu memberikan jaket itu pada Maya.
"Pakai ini!" ujar Vansh sambil memberikan jaket berwarna merah pada Maya. Maya yang melihat jaket itu pun hanya bisa tersenyum getir sambil menatap Vansh dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Tenang saja, ini bukan pemberian dari Queen. Mommy yang membelikannya untukku," kata Vansh pada Maya. Maya pun tersenyum kemudian mengambil jaket itu, lalu menyelimuti tubuhnya dengan jaket milik Vansh.
Lima belas menit kemudian, mereka pun sudah sampai di sebuah rumah besar tiga lantai dengan halaman yang cukup luas. Namun, rumah itu terlihat kosong dan sepi. Hanya ada seorang petugas security yang berjaga dan bergegas membuka garasi rumah itu saat Vansh membunyikan klakson mobilnya.
"Rumah siapa ini?" tanya Maya saat Vansh menghentikan mobilnya.
__ADS_1
"Tentu saja rumahku, kau pikir aku tidak punya rumah? Selama ini aku tinggal dengan Tante Calista karena Mommy tidak memperbolehkanku tinggal sendirian di rumah ini," gerutu Vansh.
"Oh, jadi ini rumahmu Tuan?"
Mendengar perkataan Maya, Vansh pun memelototkan matanya. "Sampai kapan kau akan memanggilku dengan sebutan Tuan?"
"Memang aku harus menyebut apa?"
"Bukankah aku ini pacarmu? Apa kau belum sadar jika kita sudah berpacaran?"
"Berpacaran? Benarkah? Kenapa kau tidak mengatakan apapun padaku?"
"Dasar cerewet, sebaiknya kau cepat turun lalu ganti pakaianmu!"
"Aku pikir kau akan mengantarkan aku pulang."
Mendengar perkataan Vansh, Maya pun hanya duduk terdiam di dalam mobil. "Kenapa kau belum juga turun?"
"Kau tidak bermaksud buruk padaku kan dengan membawaku ke rumahmu yang kosong ini?"
Vansh pun mengusap wajahnya dengan kasar kemudian menepuk bahu Maya. "Dengarkan aku gadis lancang, aku tahu batasanku. Aku tidak akan melakukan apapun sebelum kau menjadi istriku. Semua yang kulakukan, masih dalam batas kewajaran. Apa kau mengerti?"
Maya pun menganggukan kepalanya. "Ayo sekarang kita turun, malam ini kita menginap di rumahku saja!" perintah Vansh. Mereka kemudian turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam rumah itu setelah sebelumnya Vansh mengambil barang milik Maya di dalam bagasi mobil.
"Ganti bajumu di kamar itu! Itu kamar tamu!" ucap Vansh sambil menunjuk ke sebuah kamar. Maya pun menganggukkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar itu. Sementara Vansh, berjalan masuk ke kamarnya di lantai dua.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Vansh yang sudah selesai mengganti pakaiannya tampak begitu resah menunggu Maya yang belum juga keluar dari kamar tamu itu. "Lama sekali, jangan-jangan dia pingsan di dalam," gerutu Vansh sambil mengutak-atik ponsel yang ada di tangannya.
Sementara Maya di dalam kamar tamu, tampak sedang memantaskan penampilannya di depan cermin. "Sepertinya aku sudah terlihat menarik," ucap Maya sambil terkekeh saat melihat penampilannya di cermin yang terlihat begitu manis dengan mengenakan dress motif floral dan make up minimalis yang tersapu tipis di wajahnya.
CEKLEK
Pintu kamar tamu itu pun terbuka. Perlahan, Maya pun keluar dari kamar itu kemudian mendekat pada Vansh yang sedang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi.
Melihat Maya yang kini sudah berdiri di sampingnya, Vansh pun tersenyum. "Kau mau kemana, gadis lancang? Ini sudah malam, kenapa kau berpakaian seperti itu? Kau juga memakai make up kan? Bukankah sudah kukatakan untuk malam ini sebaiknya kita menginap di rumah ini saja!"
"Dasar tidak peka, aku berdandan seperti ini agar terlihat menarik di matamu," jawab Maya dengan begitu polos dan jujur yang akhirnya membuat Vansh tersenyum. Dia kemudian menarik tangan Maya hingga tubuh Maya duduk di atas pahanya.
"Memangnya kenapa kau berdandan seperti itu? Bukankah kau yang mengatakan jika kau tidak mau jadi pacarku?"
"Kau yang belum mengatakan apapun padaku, bahkan kau sudah lancang mencium bibirku begitu saja."
"Tapi kau menyukainya kan? Buktinya kau membalas ciumanku?" ucap Vansh yang membuat Maya terdiam. Vansh pun membelai rambut Maya lalu memegang wajahnya.
"Gadis lancang, dengarkan aku. Aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu sejak dulu. Bahkan sebelum kau mengenalku dan memberikan kue cokelat buatanmu itu padaku. Aku sudah jatuh cinta padamu. Gadis pembawa kotak kue yang selalu lewat di depan sekolahku yang berjalan dengan riang sambil bersenandung ria yang keluar dari bibir manismu itu," ucap Vansh yang membuat Maya tersenyum.
"Jadi kau sudah menyukaiku sejak dulu?" tanya Maya yang dijawab anggukan kepala oleh Vansh.
"Lalu, apa kau mau menjadi pacarku?" tanya Vansh. Mendengar perkataan Vansh, Maya pun hanya terdiam dan hanya bisa menatap Vansh sambil mengulaskan senyum tipisnya.
"Gadis lancang, apa kau mau jadi pacarku?" tanya Vansh kembali yang hanya dijawab anggukan kepala oleh Maya. Keduanya pun kini sama-sama tersenyum, hingga perlahan mereka pun saling mendekatkan wajah mereka masing-masing. Namun saat mulai menempelkan bibirnya, suara bel pintu pun berbunyi.
__ADS_1
TETTT TETTTT