Bed Friend

Bed Friend
Bantu Aku


__ADS_3

Laurie kemudian menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Iya Dokter Alvaro," jawab Laurie.


"Alvaro saja!"


"Maaf aku lupa."


Alvaro kemudian membantu Laurie melepas peralatan medis yang menempel pada tubuhnya, lalu mematikan alat-alat itu dan melepaskan infus pada tangannya. Dia kemudian membantu Laurie turun dari brankar untuk duduk ke kursi roda.


"Pakai maskernya Laurie!" perintah Alvaro. Laurie kemudian memakai masker dan syal yang diberikan oleh Alvaro. Alvaro tersenyum melihat penampilan Laurie, meskipun wajahnya tak terlihat, tapi wajah wanita itu tetap saja imut dan menggemaskan baginya.


"Kenapa kau menatapku seperti itu Alvaro?" tanya Laurie saat Alvaro memperhatikannya sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa, kau hanya terlihat cantik."


"Cantik?"


"Ya, maaf kalau aku sudah lancang mengatakan cantik pada istri orang. Tapi kau memang sangat cantik." Lauri kemudian terkekeh.


"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"


"Bukankah tadi kau mengatakan hal yang sama pada Nala? Kau juga mengatakan kalau Nala cantik kan?"


"Kalau itu, Nala yang terlebih dulu bertanya padaku."


"Tapi menurutmu Nala cantik kan?"


"Kenapa kau bertanya seperti itu? Bukankah semua wanita di dunia ini cantik?"


"Kau benar Alvaro, semua wanita di dunia ini cantik."


"Kalau begitu kita pergi sekarang?" tanya Alvaro untuk menghilangkan rasa gugupnya kerena saat ini Laurie tampak sedang menatapnya. Entah kenapa, tatapan dari Laurie terlihat begitu mengintimidasi dirinya. Tatapan itu seolah membuat Alvaro hanyut ke dalam lamunan indahnya. Sebuah lamunan yang sebenarnya tabu dirasakan. Namun tak dapat dipungkiri, ada sebuah rasa di dalam hatinya yang begitu menginginkan wanita yang ada di hadapannya, sebuah rasa salah yang timbul di dalam hatinya, dan rasanya sangat sulit untuk dikendalikan.


Laurie kemudian menganggukkan kepalanya, Alvaro lalu mendorong kursi roda Laurie keluar dari ruang perawatan itu menuju ke tempat parkir mobil. Saat melewati ruang perawat jaga, Alvaro tampak begitu santai karena sudah mengatakan kalau yang dia bawa adalah pasiennya yang ada di kamar samping Laurie.

__ADS_1


"Kita mau kemana? Kupikir kau mau mengajakku jalan-jalan di dalam rumah sakit?"


"Berjalan-jalan di dalam rumah sakit itu justru sangat berbahaya Laurie. Nanti banyak perawat dan dokter yang tahu kalau ternyata kau sudah sadar."


"Jadi kita mau kemana?"


"Ikut saja, kau pasti menyukainya."


Mereka kemudian masuk ke mobil milik Alvaro. Alvaro lalu mengemudikan mobilnya perlahan menyusuri jalanan malam ibukota yang mulai sedikit lengang.


Sesekali, Alvaro melirik pada Laurie. Raut wajahnya kini terlihat bahagia. "Kau sudah jarang keluar seperti ini kan Laurie?" tanya Alvaro.


Lauri kemudian menganggukkan kepalanya. "Ya, sejak menikah dengan Zack, aku sangat jarang keluar rumah. Zack tidak memperbolehkanku keluar rumah karena takut aku akan melarikan diri."


"Dia sangat mencintaimu."


"Tapi aku tidak mencintainya Alvaro, dan caranya mencintaiku itu salah. Bukankah mencintai seseorang juga perlu sebuah keikhlasan?" tanya Laurie.


"Ya, cinta adalah ketulusan dan keikhlasan."


"Kau benar Laurie."


"Sama sepertimu, merelakan wanita yang kau cintai bersama pria lain."


"Kau sudah mendengarnya?"


"Ya, aku mendengar ceritamu beberapa hari yang lalu. Kau mencintai seorang gadis dan kau tidak pernah mendapatkan balasan dari gadis itu kan? Seperti itu kan maksudmu?"


Alvaro kemudian menganggukan kepalanya. "Iya, dulu aku sangat mencintai gadis itu. Bahkan separuh hidupku kuhabiskan untuk mencintai wanita itu. Tapi, aku tidak pernah mendapatkan balasan darinya. Dia tidak pernah membalas cintaku."


"Kenapa dia tidak pernah menerima cintamu?"


"Mungkin aku bukan tipe laki-laki yang diinginkan oleh wanita itu. Laki-laki yang menjadi suaminya saat ini adalah laki-laki yang pribadinya sangat berbeda denganku. Mungkin, itu yang membuatnya merasa nyaman dan merasa sangat dicintai. Tidak seperti aku. Aku memang dingin dan pendiam."

__ADS_1


"Tapi aku merasa nyaman saat bersamamu," jawab Laurie yang membuat Alvaro salah tingkah. Keheningan lalu tercipta diantara keduanya, mereka larut dalam pikiran masing-masing.


Kini Laurie merasa kalau dia terlalu berani mengatakan hal seperti itu pada Alvaro. Sedangkan Alvaro, sebenarnya saat ini begitu salah tingkah dengan apa yang diucapkan oleh Laurie.


Dia sebenarnya merasa bahagia mendengar apa yang diucapkan oleh Lauri, namun Alvaro harus sadar kalau Laurie adalah wanita yang sudah bersuami. Dia harus sadar diri kalau yang diucapkan oleh Laurie hanyalah sebatas kata untuk menenangkan dirinya.


Tak berapa lama, mereka pun sampai di sebuah pantai. "Kita ke pantai Alvaro?"


"Ayo kita keluar!"


Alvaro kemudian membantu Laurie keluar dari mobil, lalu menaikkan tubuh yang masih terlihat lemah itu untuk naik ke atas kursi roda. Mereka lalu mendekat ke arah bibir pantai.


"Laurie, sekarang berteriaklah!"


"Apa?"


"Berteriaklah Laurie, dan buang rasa sedih di dalam hatimu."


Laurie kemudian termenung mendengar perkataan Alvaro. "Kenapa kau diam? Berteriaklah dan keluarkan rasa sedih dan sakit yang ada di dalam hatimu. Aku tahu saat koma kau merasa putus asa dan seolah tidak memiliki keinginan untuk bertahan hidup kan?"


Laurie pun terisak sambil menundukkan kepalanya, merasakan rasa sakit yang begitu menyesakkan dadanya.


"Kenapa kau diam Laurie? Ayo berteriaklah dan keluarkan rasa sedihmu! Setelah kau selesai berteriak, kau harus berjanji untuk memulai kehidupan baru. Kehidupan yang harus membawamu pada kebahagiaan. Laurie ingat, hidup hanya satu kali, dan kau harus memperjuangkan kehidupanmu dan kebahagiaanmu. Kau mau kan hidup bahagia?"


Laurie kemudian menganggukkan kepalanya, setelah itu dia berteriak. Berteriak dengan begitu kencang, namun teriakan itu pada akhirnya juga tertelan oleh deburan ombak.


AAAAAAA AAAAAAA


Setelah merasa cukup untuk berteriak, Laurie pun kemudian menangis dengan begitu terisak. Alvaro lalu bersimpuh di hadapannya.


"Apa kau sudah lega Laurie?"


Laurie kemudian menganggukan kepalanya. "Sekarang berjuanglah untuk mendapatkan kebahagiaanmu. Apa kau mengerti?"

__ADS_1


Laurie menganggukkan kepalanya sambil terus terisak. Entah dorongan darimana tiba-tiba dia memeluk Alvaro yang saat ini masih bersimpuh di hadapannya.


"Alvaro, tolong bantu aku. Bantu aku agar bisa kembali hidup bahagia, bantu aku agar aku bisa lepas dari Zack."


__ADS_2