Bed Friend

Bed Friend
Tanpa Gangguan


__ADS_3

"DEA! APA YANG KAU LAKUKAN!"


Dea kemudian memalingkan wajahnya pada sumber suara yang memanggilnya dari arah pintu. Di ambang pintu tersebut, tampak seorang lelaki dan wanita berdiri sambil menatapnya dengan tatapan begitu tajam.


"Dea!" bentak laki-laki tersebut sambil berjalan ke arahnya.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau buat mama terluka seperti ini?"


PLAK


"Kenapa kau menamparku?"


"Kau memang sudah sepantasnya ditampar kareka kau sudah begitu jahat membuat Mama terluka seperti ini!"


"Ini semua bukan salahku."


"Arka, ini bukan saatnya untuk berdebat. Kita obati Mama dulu," ujar wanita yang sejak tadi berdiri di sampingnya.


"Iya Kayla, sekarang kau tolong cepat pesankan taksi!" sambungnya kembali pada wanita yang berdiri di sampingnya.


"Iya Arka."


"Kau siapa?" tanya Dea sambil mengerutkan keningnya.


"Aku Arka, aku adalah adikmu. Dan wanita ini istriku, Kayla," ucap Arka. Dia dan Kayla lalu berjongkok dan menghentikan pendarahan pada Rahma dengan mencabut pisau yang ada di samping perut sebelah kiri. Lalu menekan luka tersebut dengan kain agar darah tidak keluar kembali.


"Jadi, ternyata aku punya adik laki-laki?" sambung Dea, saat melihat Arka yang saat ini sudah menutup luka Rahma.


"Itu tidak penting, sekarang yang terpenting adalah mengobati Mama. Kita harus mengantar Mama ke rumah sakit untuk mengobati lukanya. Kau lihat kan, lukanya sangat parah seperti itu," ujar Arka saat melihat Rahma yang terkapar di hadapannya. Meskipun pisau itu tidak menancap terlalu dalam tapi darah yang dikeluarkan cukup banyak, dan wajah Rahma pun sudah terlihat memucat.


Arka mengambil pisau yang telah dicabutnya, lalu membuangnya ke dalam rumah. Dia kemudian mengangkat tubuh Rahma yang sudah dipenuhi darah saat taksi yang dipesannya sudah datang.

__ADS_1


"Kayla, kau di rumah saja. Ini sudah malam, kau sedang hamil. Udara malam tidak baik untukmu," ucap Arka pada Kayla. Dia kemudian mengalihkan pandangannya pada Dea.


"Kau ikut denganku perintah!" Arka pada Dea. Mereka kemudian menaiki sebuah taksi yang sudah dipesannya, untuk pergi ke sebuah rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.


Beberapa saat kemudian, setelah sampai di rumah sakit tersebut, Rahma lalu dibawa petugas rumah sakit ke ruang IGD. Sementara Arka dan Dea, kini menunggu di depan ruangan IGD tersebut. Arka kemudian menatap Dea dengan tatapan tajam.


"Sekarang tolong katakan, apa yang sebenarnya terjadi, Dea? Kenapa kau tega sekali melukai Mama? Kau benar-benar kurang ajar!"


"Aku tak bermaksud melukai Mama, Arka. Mama sendiri yang melukai dirinya, aku hanya sedang mencegah Mama melukai dirinya sendiri tapi pisau itu tiba-tiba sudah menancap begitu saja."


"Bohong! Mama tidak mungkin berbuat seperti itu!"


"Tapi itulah kenyataannya Arka! Saat itu, Mama sedang meminta maaf padaku tapi aku tetap marah, aku marah karena dia telah membuangku dan memilih untuk merawat Luna. Mama terus-menerus memaksaku agar memaafkannya, tapi rasanya aku begitu sulit memaafkan Mama."


"Dasar tidak tahu diri! Apa sulitnya memaafkan orang tua kandungmu sendiri!"


"Kau bisa mengatakan seperti itu karena kau tidak tahu kan bagaimana rasa sakitnya, kan? Rasanya sangat sakit, Arka. Rasanya sangat sakit saat orang tua kandung kita lebih memilih orang lain orang lain untuk dirawat olehnya, sedangkan anak kandungnya dia titipkan pada sebuah panti asuhan."


"Tapi mama memiliki alasan melakukan itu, Dea! Dan asal kau tahu dia melakukan semua itu agar kau mendapatkan perawatan terbaik, karena kondisi ekonomi kita sangatlah pas-pasan."


"Seharusnya kau bisa lebih dewasa untuk bisa memahami kondisi Mama saat itu! Kau seharusnya bisa memaafkan Mama!"


"Ternyata kau sama saja seperti Mamamu!"


"Sepertinya memang percuma bicara denganmu, Dea. Hentikan perdebatan ini karena aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi tadi hingga pisau itu menusuk perut Mama?"


"Bukankah tadi sudah aku ceritakan padamu. Saat itu, Mama sedang meminta maaf padaku, dan aku tidak mau memaafkan Mama begitu saja. Jadi, Mama memaksaku untuk memaafkannya dan mengancam bunuh diri jika dia tidak memaafkanku."


"Kau jangan bohong! Mama tidak mungkin berbuat hal bodoh seperti itu!"


"Percuma bicara denganmu Arka karena kau dan Mama sama saja!"

__ADS_1


Saat Arka akan menjawab perkataan Dea, tiba-tiba seorang dokter keluar dari ruang IGD tersebut.


"Dengan keluarga Ibu Rahma?"


"Ya, kami keluarga Bu Rahma, bagaimana keadaan Mama saya, Dok?" tanya Arka.


"Sebenarnya lukanya tidak terlalu dalam, pisau itu tidak menembus terlalu dalam perut ibu anda. Hanya saja, luka sobekan itu memang sedikit serius, dan Ibu anda mengalami kehilangan banyak darah, jadi dia tetap harus mendapatkan penanganan intensif di rumah sakit ini, sampai luka robek tersebut sembuh."


"Iya dok, lakukan yang terbaik untuk Mama saya," jawab Arka.


"Iya untuk saat ini kami sudah menjahit lukanya dan sudah memberinya obat-obatan untuk menghentikan pendarahannya. Sebentar lagi kami akan mengantarnya ke ruang perawatan, anda bisa menunggunya di ruang perawatan itu. Mungkin besok pagi Nyonya Rahma sudah sadarkan diri."


"Iya dokter, terima kasih banyak."


Dokter tersebut jawab lalu meninggalkan mereka berdua, sedangkan Arka sekarang menatap Dea dengan tatapan begitu tajam


"Untung luka Mama tidak terlalu dalam, kalau sampai sesuatu terjadi pada Mama kau tidak akan kubiarkan hidup, Dea!"


"Cih bisa apa kau anak kecil? Berani sekali berkata seperti itu padaku!"


"Meskipun aku bukan anak yang baik, tapi setidaknya aku bisa menghormati orang tua kandungku, tidak sepertimu!"


Di saat itulah Rahma dikeluarkan dari ruang IGD, dan diantar ke ruang perawatannya. Arka dan Dea lalu mengikuti perawat yang membawa Rahma ke ruang perawatan tersebut.


"Arka, kau tunggu di sini saja. Aku pulang dulu, besok aku ke sini lagi," ucap Dea pada Arka.


"Terserah itu urusanmu, lagi pula kami juga tidak membutuhkan anak durhaka sepertimu!"


"Memang, karena sejak dulu kalian sudah membuangku, iya kan?"


"Ya, dan aku bersyukur Mama sudah membuangmu, karena kau memang tidak pantas hidup bersama kami! Kau hanyalah wanita licik yang menjijikan!"

__ADS_1


"Terserah kau mau berkata apa! Dasar anak kecil!" ujar Dea sambil meninggalkan Arka dan Rahma di ruang perawatan tersebut. Saat sedang berjalan di koridor rumah sakit, senyum menyeringai pun tersungging di bibirnya


"Ini benar-benar suatu hal yang bagus, keberuntungan memang sedang berpihak padaku. Tanpa harus menjatuhkan harga diriku pada Rahma, semua rencanaku berjalan lancar. Besok pagi, saat Shakila mencari keberadaan Rahma, dia tidak akan menemukan Rahma karena saat ini, Rahma sedang berada di rumah sakit. Dan aku tetap bisa melangsungakan rencana pernikahanku dengan Devano tanpa gangguan dari siapapun. Hahahahaha..... "


__ADS_2