
"SAHHHH!!" teriak beberapa orang saat Abimana mengucapkan ijab qabulnya dengan satu tarikan nafas. Inara kemudian memandang Abimana sambil tersenyum lalu menyalami dan mencium tangan Abimana. Beberapa orang yang menghadiri pernikahan sederhana itu pun mendekat ke arah mereka.
"Selamat Abimana, Selamat Inara," ucap Amanda dan Vallen bersamaan.
"Selamat anak nakal, akhirnya penantian panjangmu berbuah manis," kata Rayhan pada Inara sambil menepuk bahu Abimana.
"Kalian benar-benar pasangan yang luar biasa," ucap Firman.
"Terimakasih banyak, terimakasih karena kalian semua sudah banyak membantu hubungan kami. Terutama kau Mas Rayhan, karenamu lah hukuman vonis mati itu akhirnya dibatalkan sekaligus memberikan harapan padaku untuk bisa hidup bersama Abimana, meskipun harus menunggu selama dua puluh tahun."
"Ini sudah suratan takdir, kalian memang berjodoh. Tidak ada yang bisa menghalangi suratan takdir yang sudah digariskan oleh Tuhan."
"Ya, sekali lagi terimakasih banyak," ucap Abimana.
"Sebaiknya kalian berdua sekarang pulang ke rumah, Abimana baru saja keluar dari tahanan, dia pasti sudah lama tidak merasakan tinggal di tempat yang nyaman. Beristirahatlah."
"Iya," ucap Inara.
Mereka kemudian berpamitan pada pemuka agama pemilik tempat mereka melangsungkan pernikahan.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Abimana saat mulai duduk di dalam mobil Inara.
"Tidak bisa digambarkan dengan kata-kata."
Abimana pun tersenyum. "Lalu bagaimana denganmu Abi?"
"Tidak usah kau tanyakan. Aku sudah menanti saat ini selama dua puluh tahun. Inara... "
"Ya, ada apa?"
Abimana kemudian mendekatkan wajahnya pada Inara lalu mulai mel*mat bibir ranumnya. Inara yang terkejut tiba-tiba Abimana mencium bibirnya pun hanya tersenyum.
"Aku hanya sedikit terkejut, Abi. Aku tidak menyangka kau akan melakukannya secepat ini."
"Aku sudah menunggu saat-saat seperti ini selama dua puluh tahun, kalau ada kesempatan apakah aku harus menundanya?"
Inara pun tersipu malu sambil melengkungkan bibirnya yang semakin membuat perasaan Abimana kian bergejolak, dia kemudian mendekatkan wajahnya kembali pada Inara dan mendaratkan bibirnya pada bibir Inara lalu mulai mem*gut dan mengecap bibir itu dengan penuh gairah yang menggelora.
"Hahahaha, Abimana," teriak Inara saat mereka sudah selesai berciuman.
__ADS_1
"Bagaimana? Itu baru awalnya saja, Inara."
"Ayo kita pulang."
"Jadi kau sudah tidak sabar?"
"Abimana tolong jangan meledekku. Aku sudah lapar, ayo kita pulang tapi sebelumnya kita mampir rumah makan dulu untuk makan malam ya."
"Iya," jawab Abimana kemudian mengendarai mobilnya. Mereka lalu berhenti di sebuah rumah makan mewah yang berada tidak jauh dari komplek perumahan rumah baru mereka.
"Ini rumah makan favoritku, aku sering datang ke sini dan selalu membayangkan suatu saat kita bisa makan malam romantis di sini."
"Dan angan-anganmu jadi kenyataan hari ini?"
Inara pun menganggukkan kepalanya. "Ya, ayo kita cepat masuk ke dalam, aku sudah lapar," ucap Inara, kemudian mereka pun turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah makan tersebut.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata milik seorang wanita kini tampak mengamati gerak-gerik mereka. "Bukankah itu Abimana? Jadi Abimana sudah bebas dari penjara? Lalu bagaimana bisa Abimana menaiki sebuah mobil mewah dengan seorang wanita cantik? Apakah Abimana menjadi supir wanita itu? Tapi jika Abimana menjadi supir wanita itu kenapa mereka tampak begitu mesra?" ucap wanita tersebut sambil mengerutkan keningnya.
"GHEA! Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak lihat rumah makan ini sedang ramai? Cepat kau layani pelanggan yang baru saja datang itu!" teriak seorang supervisor di rumah makan tersebut.
__ADS_1