
Alvaro sesekali melirik ke arah Laurie yang saat ini terlelap di sampingnya sambil tetap fokus mengendarai mobilnya. Entah keberanian darimana tiba-tiba dia mengajak Laurie pergi, semua mengalir begitu saja. Sejak bertemu dengan Laurie, semua rasanya berbeda.
Rasanya ada sisi lain yang ditujukkan dari dirinya, sebuah keberanian yang tidak pernah dia tunjukkan saat bertemu dengan wanita. Mungkin, ini ada hubungannya dengan kisah cintanya di masa lalu, saat dia harus mengikhlaskan wanita yang sangat dia cintai harus menikah dengan laki-laki lain. Dan, Alvaro tidak ingin merasakan kehilangan itu lagi. Sisi posesif dalam dirinya seakan keluar begitu saja, dan tidak menginginkan Laurie kembali dalam pelukan Zack. Memang terdengar egois dan di luar nalar karena dia menginginkan wanita yang masih menjadi milik laki-laki lain, tapi rasa itu datang begitu saja. Lalu, apakah Alvaro masih menampik semua rasa itu dengan sebutan cinta?
Dia selalu beranggapan kalau terlalu naif mengartikan semua rasa itu dengan sebutan cinta. Tapi nyatanya dia sampai berbuat sejauh ini, apa namanya kalau bukan disebut cinta? Mengajak wanita itu menikah, bahkan membawanya pergi dari suaminya. Batinnya seakan berperang, hati terdalamnya ingin mengartikan ini dengan sebutan cinta. Tapi ada satu sisi lain hatinya yang seolah takut menganggap itu sebagai cinta. Kenangan masa lalu, seolah menggoreskan luka, akan sebuah kata cinta.
Alvaro menghembuskan nafas panjangnya, perjalanan mereka masih jauh tapi dia menikmati semua itu. Memang dia sengaja pergi dengan menggunakan mobilnya, tidak menggunakan transportasi umum yang relatif lebih mudah karena kalau mereka menggunakan transportasi umum, jejak mereka mudah diketahui oleh Zack. Meskipun perjalanan itu jauh, tapi dia menikmati semua itu. Karena bersama Laurie? Anggap saja begitu.
Alvaro pun terkekeh. Saat masih tersenyum tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunannya. "Alvaro!" panggil Laurie yang terbangun dari tidurnya.
"Kau sudah bangun? Perjalanannya, masih jauh Laurie. Kurang lebih masih dua belas jam lagi."
"Dua belas jam? Masih lama sekali, Alvaro. Apa kau tidak lelah?"
"Kalau aku lelah, nanti kita istirahat saja sebentar."
"Kenapa kita tidak naik pesawat atau kereta saja, Alvaro?"
"Tidak, Laurie. Itu sangat berbahaya, Zack bisa dengan mudah menemukan kita kalau kita naik transportasi umum."
__ADS_1
"Kau benar juga. Terima kasih banyak, Alvaro. Kau mau menemaniku, menyelamatkan aku, dan membantuku sejauh ini, tanpa memikirkan keselamatanmu."
"Kau tenang saja, Laurie. Apapun akan kulakukan untuk membantumu lepas dari jerat Zack."
"Kenapa? Apa alasanmu melakukan itu? Kau bahkan nekat membawaku pergi, sampai mau menikahiku. Kau mengatakan semua itu tanpa memikirkan nyawamu. Kenapa kau melakukan semua itu, Alvaro?"
Alvaro pun terdiam, entah kenapa sulit sekali menjawab pertanyaan Laurie. Dia pun tak tahu apa yang mendorongnya melakukan semua itu. Cinta? Alvaro sepertinya masih terlalu angkuh untuk mengakuinya, dan selalu berlindung pada keyakinan terlalu naif menyebut semua itu dengan kata cinta.
"Alvaro, kenapa kau diam?" tanya Laurie kembali. Alvaro kemudian tersenyum.
"Laurie, apa kau sudah lupa? Bukankah aku pernah berjanji padamu kalau aku akan membantumu lepas dari Zack."
Alvaro kembali terdiam, dia pun begitu gugup mengapa Laurie sampai menanyakan hal seperti itu. "Alvaro!"
"Oh, emh.., iya Laurie hanya sebatas itu. Bukankah kau tahu aku sudah menganggapmu sebagai teman baikku?" jawab Alvaro. Seketika, wajah Laurie pun berubah, raut wajah bahagianya memudar di wajah cantiknya.
***
Sementara itu, Zack tampak masuk ke dalam rumahnya dengan raut wajah begitu murung. Nala yang saat itu sedang menyantap makan siang pun merasa terkejut dengan perubahan wajah Zack.
__ADS_1
'Ada apa dengan raja iblis itu? Kenapa tiba-tiba wajahnya tambah seperti iblis saja?' batin Nala. Dia pun hanya mengamati langkah lemas Zack yang saat ini berjalan menuju ke arah kamarnya.
"Aneh sekali, apa dia tidak ingin menyapaku? Kenapa dia melewatiku begitu saja? Apa matanya sudah buta tidak bisa melihat bidadari kahyangan seperti ini?" gerutu Nala kembali.
Dia kemudian buru-buru mengikuti langkah Zack. "Tuan!" panggil Nala saat sudah berdiri di belakang Zack.
"Aku sedang tidak ingin diganggu," balas Zack datar.
"Apa sesuatu terjadi pada anda? Kenapa wajah anda seperti itu?"
"Tinggalkan aku. Aku sedang ingin sendiri!"
"Anda sebenarnya kenapa, Tuan? Apa anda baru saja mengalami musibah? Kalau anda mengalami musibah, saya turut bersuka cita, Tuan."
"Kau cerewet sekali, lebih baik kau masuk ke dalam kamarmu dan tinggalkan aku sendiri!"
Nala pun hanya bisa mendengus kesal karena tidak bisa menggoda Zack seperti biasa. Dia pun berniat kembali ke kamarnya, namun saat dia sedang membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba dia melihat sesuatu jatuh dari saku jas Zack, dan dia tidak menyadari ada benda miliknya yang jatuh. Setelah Zack masuk ke dalam kamarnya, Nala pun mendekat ke arah benda yang dijatuhkan oleh Zack.
"Sebuah kunci?" ucap Nala sambil mengambil benda itu.
__ADS_1