
Aku masuk ke dalam kamar sambil menghembuskan nafas panjangku. Sejak mengerjakan tugas, aku memang tidak mengenakan bra karena aku yakin pasti aku akan tertidur saat mengerjakan tugas itu. Ya, tugas mata kuliah Statistika Bisnis, memang selalu membuatku merasa muak dan mengantuk.
Aku memang tidak sepintar Kak Darren, kami memang mengambil kuliah di jurusan yang sama di jurusan Manajemen. Tapi prestasiku sangat berbeda dengan Kak Darren yang selalu mendapat IPK tertinggi di angkatannya. Sedangkan aku? Mendapat nilai B saja di semua mata kuliah itu sudah membuatku merasa beruntung.
Mungkin karena aku dan Kak Darren bukan saudara kandung jadi tingkat intelegensi kami berbeda? Ya, mungkin saja. Kami hanya saudara satu ayah beda ibu. Jarak usia kami juga hanya berselang satu tahun karena Papa Roy menikah dengan Mama Aini, berselang tiga bulan setelah Mama Diana meninggal. Setelah Papa Roy dan Mama Aini menikah, Mama langsung mengandung anak pertamanya dengan Papa Roy, yaitu aku.
Aku kemudian mengambil bra yang kusampirkan begitu saja di atas kursiku, lalu aku melirik pada kumpulan draf tugasku. Rasanya berat sekali melihat tugas-tugas itu. Benar-benar sangat menyebalkan. Ingin rasanya aku meminta tolong pada Kak Darren, tapi rasanya sangat mustahil dia mau mengajarkan tugas-tugas itu.
Setelah mengenakan bra dan pakaianku lagi, aku lalu keluar dari kamar untuk melanjutkan sarapanku. Oh tidak, kenapa jantungku berdegup semakin kencang saat melihat Kak Daren yang sedang menikmati sarapannya sambil sesekali menguatak-atik ponselnya. Aku lalu duduk di sampingnya sambil menyunggingkan senyum tipisku padanya, ya meskipun senyum itu tidak mendapat balasan tapi aku tidak terlalu memperdulikan itu.
Aku lalu melanjutkan sarapanku, sementara Kak Darren yang sudah menyelesaikan sarapannya masih duduk di sampingku sambil memainkan ponselnya.
"Tugasmu salah semua," ucap Kak Darren tiba-tiba padaku. Aku tersentak saat mendengar dia memulai percakapan padaku. Aku pun hanya bisa tersenyum.
"Aku memang kesulitan mengerjakan tugas itu, Kak," jawabku.
"Setelah selesai sarapan, aku akan membantumu menyelesaikan tugas itu. Lebih baik cepat selesaikan sarapanmu!" perintah Kak Darren yang membuatku sedikit terkejut sekaligus bahagia.
__ADS_1
"Iya Kak," balasku.
Aku lalu bergegas menyelesaikan sarapanku untuk menyelesaikan tugas itu, ah bukan, bukan itu tapi untuk bisa berduaan dengan Kak Darren lebih tepatnya. Astaga, sial! Kenapa aku sampai memiliki pemikiran seperti ini?
"Aku tunggu di kamar!" perintah Kak Darren saat aku sudah menyelesaikan sarapanku. Aku lalu menganggukan kepalaku kemudian masuk ke dalam kamarku untuk mengambil laptop dan beberapa buku mata kuliah yang paling menyebalkan itu.
"Duduk di bawah saja!" kata Kak Darren saat melihat aku masuk ke kamar itu. Aku lalu duduk di atas karpet yang ada di dekat balkon kamarnya kemudian mulai menyalakan laptopku.
Saat Kak Darren duduk di sampingku, aku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku. Bahkan saat kami begitu dekat, rasanya aku ingin membetulkan letak jantungku yang rasanya sudah copot.
Kak Darren lalu mengajariku mata kuliah itu dengan begitu sabar, meskipun memang diperlukan waktu untuk memahami yang dia terangkan padaku. Aku juga tidak mengerti, mengapa aku bisa sangat sulit memahami semua pelajaran itu. Entah, aku yang terlalu bodoh atau aku yang semakin tidak bisa mengendalikan diriku saat ada di dekatnya. Astaga, kenapa aku sampai memiliki pemikiran seperti itu. Ini benar-benar sudah di luar batas, aku harus bisa menata hatiku kembali agar tidak semakin mengagumi kakakku yang tampan ini, ups ralat sangat tampan tepatnya.
Aku lalu melihat sekilas padanya, dan benar itu adalah sebuah senyuman. Senyuman manis yang sudah tidak pernah lagi kulihat. Hari ini Kak Darren memang sangat ramah padaku, tidak seperti hari-hari biasanya. Anggap saja ini sebagai sebuah keberuntungan, keberuntungan di hari minggu, gumamku sambil terkekeh.
"Istirahat sebentar Shakila!" ucap Kak Darren sambil merebahkan tubuhnya di atas karpet itu. Entah darimana datangnya keberanian ini, aku pun ikut tidur di sampingnya. Lalu menatap wajahnya serta mencium wangi maskulinnya sambil memejamkan mataku.
Saat aku membuka mataku, tiba-tiba wajah Kak Darren sudah ada di depanku lalu jari-jari tangannya dia mainkan di atas wajahku. Astaga, hatiku benar-benar sudah berantakan menghadapi semua tingkahnya pagi ini, tapi kenapa dia terlihat begitu tenang membelai wajahku sambil menatapku dengan tatapan begitu sendu, dan sialnya aku menikmati semua ini.
__ADS_1
"Kakak," ucapku lirih saat melihat tatapan dalam itu. Namun Kak Darren seolah tidak mendengarkan ucapanku. Dia malah semakin mendekatkan tubuhnya padaku lalu tiba-tiba sebuah pelukan hangat pun menempel di tubuhku.
Oh tidak, bagaimana ini? Tulangku rasanya seakan patah, dan tubuhku begitu lemas. Mungkin Kak Darren menganggap pelukan ini sebagai pelukan antara dua saudara, pelukan antara kakak beradik yang sudah lama tidak meluangkan waktu kebersamaan mereka karena terbatasnya waktu dan kesempatan. Tapi bagaimana dengan aku? Tidak, aku tidak merasakan ini sebagai pelukan rindu. Pelukan ini semakin membuatku jatuh, mungkin bisa dikatakan aku mulai jatuh cinta padanya. Sungguh benar-benar ini sebuah kesalahan terbesar.
"Cantik, aku sangat merindukanmu," ucap Kak Darren yang membuat tubuhku bagai tersengat listrik.
Cantik? Sejak kapan Kak Darren memanggilku cantik? Bukankah Kak Darren dulu hanya bisa mengolok-olok diriku?
Ah aku tidak terlalu memperdulikan semua itu. Entah setan apa yang tiba-tiba merasuk ke tubuhku, aku tiba-tiba saja mengeratkan pelukanku padanya.
"Aku juga sangat merindukanmu, Kak," balasku yang membuat dia merasa sedikit terkejut.
Kak Darren pun hanya tersenyum. Dia kemudian menatapku dan mengangkat wajahku. Lalu tiba-tiba sebuah kecupan pun mendarat di keningku.
Aku pun begitu terkejut, reflek aku melepaskan pelukanku padanya. Lalu duduk di atas karpet itu dan mulai mengemasi tugasku meskipun dengan sedikit canggung dan salah tingkah. Sementara Kak Darren, dia menutupi kecanggungannya dengan berpura-pura memainkan ponselnya.
"Kak Darren, aku ke kamar dulu. Terima kasih sudah mengajariku," ucapku padanya. Dia pun menganggukkan kepalanya sambil mengulaskan senyum tipisnya padaku.
__ADS_1
Aku kemudian bangkit dari atas karpet lalu berjalan keluar dari kamar Kak Darren dan masuk ke dalam kamarku dengan begitu tergesa-gesa.
Aku kembali menghembuskan nafas panjangku saat menutup pintu kamarku. Hatiku terasa begitu tak menentu, rasanya sungguh berantakan. Aku pun tak bisa menyembunyikan rasa bahagiaku. Perlahan, aku memegang kembali kening bekas kecupan itu. Kecupan di pagi hari yang membuat hatiku terasa begitu berantakan dan entahlah, rasanya begitu sulit untuk menata hati ini kembali.