Bed Friend

Bed Friend
Ucapan Cinta


__ADS_3

DEGGG


Jantungku seakan berhenti berdetak saat bibir kami bertemu, mulanya bibir kami hanya saling menempel, namun lama-kelamaan, Kak Darren mulai menggerakkan bibirnya untuk melummat bibirku.


Aku pun hanya terdiam, bahkan mata ini rasanya pun tak mampu kubuka. Benarkah sekarang kami sedang berciuman? Oh tidak, lebih tepatnya Kak Darren yang sedang menciumku? Emh, aku hanya bisa terdiam karena ini benar-benar di luar akal sehatku, ingin rasanya aku membalas ciuman itu tapi aku bahkan tidak bisa bagaimana cara memulainya.


Perlahan, aku pun mulai membalas ciuman itu meskipun aku sedikit ragu. Kami pun mulai saling memaggut.


"Emh," dessahku karena Kak Darren yang semakin berani menghisap kuat bibirku. Aku masih saja memejamkan mataku, rasanya mata ini begitu sulit untuk terbuka. Aku bahkan terlalu takut untuk membuka mata ini untuk sekedar melihat kenyataan jika orang yang sedang berciuman denganku adalah kakakku sendiri. Aku tahu ini adalah sebuah kesalahan, dan sialnya aku sangat menyukai kesalahan itu.


Kak Darren kini pun semakin berani memainkan lidahnya di dalam mulutku. Dia kemudian mengangkat tangannya lalu menarik tanganku untuk dilingkarkan ke lehernya. Rasa gelisah dan takut kini menjadi satu, tapi aku mengabaikan semua itu karena yang ingin kurasakan saat ini hanyalah sebuah kebahagiaan, rasa bahagia dan nikmat. Ya, rasa nikmat karena ciuman ini. Ciuman yang belum pernah kurasakan sebelumnya, ini adalah ciuman pertamaku. Dan bodohnya aku, ciuman ini kulakukan dengan kakakku.


Akhirnya, tubuh kami pun saling menempel. Tentu saja ini membuatku merasa begitu lemas apalagi saat ini Kak Darren mulai menekan tengkukku agar kami semakin dalam berciuman. Nafas kami sudah semakin memburu tapi rasanya aku tidak rela melepaskan ciuman ini begitu saja, entah kenapa aku sangat menikmatinya.


Setelah beberapa saat, Kak Darren pun melepaskan ciuman itu. Kupikir ini akan berakhir, tapi ternyata tidak karena saat ini dia menciumi seluruh bagian wajahku tanpa terlewat seinchi pun.


Di saat itulah, tiba-tiba bayangan Papa Roy dan Mama Aini terlintas. Tawa dan kasih sayang mereka terlintas di dalam benakku. Hatiku pun sangat hancur saat mengingat mereka, sudah pasti mereka pasti merasa sangat tersakiti jika tahu hal menjijikan yang telah kami perbuat.


Kepalaku terasa begitu panas, saat aku mulai tersadar akan kesalahan yang telah kami perbuat. Aku mendorong tubuh Kak Darren agar menjauh dariku. Dia pun tampak begitu terkejut, tapi aku tidak peduli karena yang aku pikirkan saat ini adalah kedua orang tua kami, Papa Roy dan Mama Aini.

__ADS_1


'Astaga, kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini?' gumamku yang saat ini hanya bisa termenung. "Sha... Shakila," ucap Kak Darren dengan begitu terbata-bata. Dia pun mencoba mendekat. Namun aku memundurkan tubuhku kembali, tanganku pun memberi kode padanya untuk segera menjauhiku.


'Kak Darren, apakah kau tidak sadar jika yang telah kita lakukan adalah sebuah kesalahan? Kuakui tentang rasa ini, hatiku pun tidak bisa berbohong jika aku mulai jatuh cinta pada kakakku sendiri, tapi aku selalu berusaha untuk mengendalikan hatiku. Tapi melihat wajah Kak Darren saat ini, tidakkah dia juga menyadari jika yang kita lakukan saat ini adalah sebuah kesalahan?' gumamku.


"Kak Darren, ini adalah sebuah kesalahan. Ini adalah sebuah kesalahan, Kak. Kita tidak boleh seperti ini!" bentakku.


"Tapi kau juga menyukainya kan, Shakila. Kau selalu menyukai sentuhanku padamu meskipun aku tahu kau berusaha menghindar, tapi aku tahu kau menyukai semua ini."


"Sadar Kak, ini adalah sebuah kesalahan!" ucapku sambil menggelengkan kepalaku. Aku sadar, ini bukan sepenuhnya kesalahan Kak Darren, aku juga sudah dengan sengaja membiarkan dia melakukan semua hal terlarang ini padaku.


Meskipun aku sudah memberi kode untuk menjauh, nyatanya Kak Darren semakin mendekat. Hingga tiba-tiba tubuhnya sudah memeluk tubuhku. Sekuat tenaga, aku ingin berusaha melepaskan. Tapi tenagaku tidak sebanding dengan tenaga Kak Darren, aku pun hanya bisa pasrah hanyut dalam pelukannya. Pelukan yang sebenarnya sangat kunikmati.


"Shakila, aku cinta padamu, Shakila! Aku cinta padamu," ucap Kak Darren yang membuatku begitu terkejut.


DEG


Jantungku pun seakan berhenti berdetak, tubuhku terasa membeku. 'Apa lagi ini, oh Tuhan. Aku tahu perasaanku saja sudah salah, dan parahnya Kak Darren juga merasakan hal yang sama. Lalu apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan?' gumamku sambil menelan salivaku dengan kasar.


Kak Darren lalu mengangkat wajahku yang kini dipenuhi oleh air mata. Aku lalu menatap Kak Darren, sorot matanya pun menunjukkan sebuah rasa bimbang yang begitu dalam. Mata itu bahkan kini terlihat berkaca-kaca yang membuat hati ini terasa begitu porak poranda.

__ADS_1


"Apa maksudmu, Kak? Bukankah kita kakak beradik?"


"Kita naik ke atas," jawab Kak Darren.


Kami lalu keluar dari kolam renang dan duduk di kursi malas yang ada di samping kolam sambil menutup tubuh kami dengan handuk. Kak Darren kini duduk di sampingku. Aku pun hanya bisa membiarkan tangannya memegang wajahku hingga mata kami bertatapan.


"Kak Darren," ucapku lirih.


"Shakila, maafkan aku. Maaf jika aku memiliki rasa yang salah padamu, sebenarnya sudah lama aku merasakan perasaan aneh ini, awalnya semua kuanggap biasa. Tapi semakin lama aku semakin tidak dapat memungkiri perasaan ini. Saat aku mencoba melupakan, rasa ini bahkan terasa semakin dalam. Aku sebenarnya merasa sangat tersiksa, Shakila. Itulah alasannya aku menjauhimu dan bersikap dingin padamu selama satu tahun terakhir ini. Aku melakukan semua itu untuk mengubur rasa ini, tapi ternyata aku salah. Hal yang begitu aku takutkan akhirnya terjadi, perasaanku bahkan makin tak terkendali. Rasa ini bahkan semakin dalam, dan sekarang aku tidak tahu bagaimana cara melupakanmu."


Aku begitu terkejut mendengar perkataan Kak Darren, ternyata selama satu tahun terakhir dia menghindar dariku karena dia menyukaiku? Oh tidak ini benar-benar gila. Lebih tepatnya kami yang sudah gila karena mencintai orang yang salah. Kepalaku terasa begitu sakit memikirkan ini semua, tidak hanya kepalaku tapi juga hatiku. Hatiku bahkan sangat sakit.


"Kakak, mencintaiku adalah sebuah kesalahan. Cinta ini adalah sebuah kesalahan besar, Kak."


"Iya, aku tahu itu Shakila."


"Kak Darren, mulai hari ini tolong lupakan semua perasaan gila itu, Kak. Ingat Papa dan Mama, ini adalah hal paling menjijikan yang pernah terjadi diantara kita berdua. Kita tidak boleh mengecewakan mereka. Tolong lupakan aku, kembalilah seperti dulu, seperti saat kita belum mengenal rasa itu karena ini adalah sebuah kesalahan, dan selamanya juga kita tidak akan pernah bisa bersatu. Jadi mulai saat tolong lupakan aku. Kau mengerti kan Kak?" ucapku.


Aku kemudian berdiri meninggalkan Kak Darren yang masih termenung sambil terus menatapku, mungkin dari belakang aku berjalan dengan begitu tegar, tapi tanpa dia tahu saat ini aku sedang menyembunyikan air mata dan rasa sakit hatiku.

__ADS_1


__ADS_2