
Aku kembali menghembuskan nafas panjangku. Entah bagaimana caranya untuk menata hati ini kembali saat bertemu dengan Kak Darren, aku semakin tidak bisa mengendalikan perasaanku. Ya, sebuah rasa yang salah.
Aku kemudian berjalan memasuki kamar dan meletakkan laptop dan tugasku di atas meja, setelah berulang kali mencoba menata hatiku, aku lalu masuk ke dalam kamar mandi dan mencelupkan tubuhku seutuhnya ke dalam bathtub agar terasa lebih rileks, meskipun kuakui hatiku masih tetap saja terasa begitu berkecamuk.
"Mama, Papa," ucapku sambil terisak. Papa, Mama, dan Tristan memang sedang pergi ke Jogja, ke kampung halaman Mama. Sebenarnya aku merasa sangat aneh karena selama ini aku tidak diperbolehkan ikut pergi ke kampung halaman Mama, dan jika kami semua ikut ke Jogja, kami semua menginap di hotel, bukan di desa tempat Opa dan Oma tinggal. Mereka hanya mengatakan jika rumah mereka sesak untuk menampung kami semua jadi Papa dan Mama lebih memilih untuk mengajak kami semua menginap di hotel ataupun menyewa sebuah guest house. Ya, alasan yang cukup logis, meskipun aku sebenarnya sekali-kali ingin berkunjung ke desa itu. Tapi, tak apalah it's fine.
Tak terasa, hari sudah siang. Setelah selesai mandi, aku lalu berjalan ke arah balkon untuk mencari udara segar setelah sebelumnya mengambil cemilan dan secangkir cokelat hangat. Saat baru saja duduk di balkon kamarku, tiba-tiba aku melihat Kak Darren yang sedang berdiri di balkon kamarnya yang ada di samping kamarku yang hanya terhalang oleh sebuah tembok sebatas paha. Aku pun begitu terkejut saat melihat Kak Darren yang saat ini terlihat sedang merokok.
'Sejak kapan Kak Darren merokok?' gumamku.
Setahuku, dulu Kak Darren bukanlah seorang perokok, tapi kenapa tiba-tiba dia merokok? Ah, aku lupa. Bukankah Kak Darren sudah dewasa? Dan bukankah merokok juga hal yang wajar bagi seorang pria dewasa?
Aku kemudian menyesap cokelat hangatku sambil menikmati cemilan yang ada di tanganku. Sesekali aku memainkan ponselku dan membalas pesan dari teman-temanku. Tapi suasana balkon yang terasa begitu sejuk karena semilir angin tiba-tiba saja membuatku merasa mengantuk.
Kini, aku pun tak sanggup lagi menahan rasa kantuk ini. Aku lalu menyenderkan kepalaku pada kursi malas tempat aku duduk saat ini, akhirnya aku pun mulai terlelap.
__ADS_1
Entah berapa lama aku tertidur, saat aku membuka mataku tiba-tiba aku sudah berada di dalam kamar.
"Astaga!" pekikku saat melihat tubuhku yang terbaring di atas ranjang. Aku lalu melihat balkon kamar dan melihat sudah tidak ada cemilan dan cokelat hangatku. Lalu, siapa yang melakukan semua ini padaku? Bukankah di rumah ini hanya ada aku dan Kak Darren? Sedangkan Bibi juga libur jika hari minggu. Apakah Kak Darren yang membawaku ke dalam kamar sekaligus merapikan meja di balkon kamar itu? Ah sudahlah aku tidak mau memikirkan semua itu, mungkin saja Kak Darren. Memang apa salahnya jika dia bersikap seperti itu padaku? Bukankah aku juga adiknya? Tentu seorang Kakak pasti akan menjaga adiknya dengan sebaik mungkin.
Aku mengusap wajahku, namun baru saja kuusap wajah ini tiba-tiba aku mencium bau rokok kembali dari arah bibirku yang tidak sengaja tertarik oleh tanganku.
'Astaga, bau rokok lagi?' gumamku sambil menelan ludahku dengan kasar. Aku lalu mengerutkan keningku sambil mengingat Kak Darren yang sedang merokok. Astaga, apa yang sebenarnya telah terjadi? Aku benar-benar ingin minta penjelasan dari Kak Darren. Dia harus menjelaskan semua ini.
Aku pun bergegas bangkit dari atas ranjang lalu pergi ke kamar Kak Darren, namun saat aku membuka pintu kamar itu, kamar itu tampak kosong.
"Kak Darren! Kak Darren!" panggilku, tapi tidak ada jawaban.
Astaga, oh tidak. Tubuhku rasanya begitu lemas saat melihat tubuh atletisnya dengan perut kotak-kotak keluar dari dalam kolam renang.
'Tuhan, jika aku boleh memilih, lebih baik aku ditakdirkan untuk tidak menjadi adiknya, jadikan aku orang lain saja agar bisa menjadi kekasihnya,' gumamku sambil mengigit bibir bawahku.
__ADS_1
Sadar akan kedatanganku, Kak Darren lalu menatapku. Dia pun menyunggingkan senyum tipisnya padaku. Astaga, dia tersenyum lagi padaku yang membuatku merasa sangat bahagia. Ah Kak Darren sepertinya sudah kembali seperti dulu. Kak Darrenku yang dulu sudah kembali, seharusnya aku sangat bahagia. Tapi kenapa rasanya hati ini justru semakin tersiksa? Apalagi saat ini Kak Darren mulai melambaikan tangannya padaku. Aku pun melangkahkan kakiku dan mendekati padanya.
"Ada apa, Kak?" tanyaku, seolah melupakan niatku untuk menanyakan tentang bau rokok itu.
"Mau berenang bersama?" tanya Kak Darren padaku. Dan bodohnya, aku pun menganggukkan kepalaku begitu saja, padahal menata hatiku saja pun terasa begitu sulit.
"Ayo masuk!" ucap Kak Darren sambil menarik tanganku untuk masuk ke dalam kolam. Tubuhku yang terasa membeku pun hanya bisa pasrah ditarik olehnya masuk ke dalam kolam renang.
BYURRR
Kami pun menceburkan diri ke dalam kolam renang. Aku dan Kak Darren pun tertawa, emh rasanya keakraban antara kami berdua saat kami masih kecil kembali hadir diantara kami berdua. Namun sayangnya, rasa bahagia itu sedikit rusak karena perasaanku sendiri. Rasa yang salah.
"Mau kugendong? Seperti yang bisa kita lakukan dulu saat berenang," ucap Kak Darren yang membuat perasaanku begitu berantakan tapi tidak bisa kutolak. Aku pun mengangguk, kemudian mendekat ke arah Kak Darren dan naik ke atas punggungnya.
"Kau berat sekali," keluh Kak Darren saat aku menaiki tubuhnya. Aku pun hanya bisa terkekeh. Kak Darren lalu menggendongku di dalam kolam sambil mengelilingi kolam renang ini, canda tawa pun pecah. Kekakuan yang kami rasakan selama satu terakhir ini pun hilang.
__ADS_1
Bahagia, itulah yang kurasakan saat ini. Saat mulai merasa lelah, Kak Darren pun menurunkan tubuhku di dalam kolam. Aku pun kini berdiri di hadapannya sambil tersenyum padanya, meskipun kuakui jika hati ini sudah merasa sangat berantakan.
Tiba-tiba tangan Kak Darren menyentuh wajahku kembali, jari-jari tangannya dia mainkan di atas wajahku lalu entah setan apa yang mulai merasuk pada kami berdua, hingga tanpa kami sadari, saat ini kami sudah mendekatkan wajah kami dan menempelkan bibir kami.