
"Jangan bercanda Abimana, kita belum mempersiapkan apapun."
"Aku tidak sedang bercanda, umur kita sudah tidak muda lagi, bahkan anak-anakku sudah dewasa. Kita tidak memerlukan pesta meriah ataupun mengundang orang dalam jumlah yang cukup banyak, kita menikah siri terlebih dulu agar tidak berzina lalu besok kita mulai bisa menyiapkan dokumen untuk mengurus pernikahan resmi, kita cukup datang pada pemuka agama dan mengundang beberapa orang saksi saja. Sekarang lebih baik kau telepon Amanda, dia dan Rayhan pasti mau menjadi saksi pernikahan kita, lalu kau juga harus memberitahu adikmu, kita bertemu di salah satu rumah pemuka agama yang ada di dekat sini yang selalu memberikan kajian di dalam lapas."
Inara pun hanya bisa menatap Abimana sambil meneteskan air matanya.
"Kenapa kau menangis?"
"Aku sangat bahagia, aku tidak menyangka kau akan menjadi suamiku secepat ini."
"Ini tidak cepat Inara, sudah sangat lama. Bahkan kau sudah menungguku selama dua puluh tahun lamanya kan?"
Inara pun mengangguk. "Sekarang kau telepon Amanda terlebih dulu."
"Ya," jawab Inara kemudian mengambil ponselnya.
🍒🍒🍒
"Kau sudah selesai makan kan? Lebih baik kau tidur sekarang juga."
"Apa kau sudah mengantuk?"
"Belum."
"Kalau begitu biarkan aku menghabiskan malam ini bersamamu, aku juga belum mengantuk. Apa kau tahu aku sangat merindukanmu, Kenzo," ucap Cleo sambil memainkan kedua jari telunjuknya sambil tersipu malu.
"Aku mau mengerjakan papperku dulu, apa kau mau menemaniku mengerjakan papperku?"
"Tentu saja, aku akan membantumu, aku ambilkan laptopmu dulu. Sepertinya aku juga punya kumpulan jurnal yang kau butuhkan, aku cari di kamarku dulu. Kau tunggu di sini sebentar," ucap Cleo sambil berjalan menuju ke kamarnya.
Kenzo pun menganggukkan kepalanya, lalu dia melihat ponselnya dan melihat ada beberapa kali panggilan dari Aleta. "Ada apa Aleta menelponku?"
"Ah lebih baik kutelpon balik saja, siapa tahu dia membutuhkan bantuanku," ujar Kenzo kemudian mengutak-atik ponselnya untuk menelpon Aleta.
[Halo Aleta, kau tadi meneleponku?]
[Oh iya tadi aku menelponmu tapi tampaknya kau sedang sibuk.]
[Aku hanya sedang makan malam, apa kau membutuhkan bantuanku?]
__ADS_1
[Oh tidak Kenzo, aku hanya ingin memberitahu padamu kalau saat ini aku sudah bekerja di kantor pusat, satu gedung dengan orang tuamu.]
[Oh syukurlah, jadi kau sudah mendapatkan posisi yang bagus?]
[Ya, saat ini aku bekerja sebagai salah satu staf marketing di kantor pusat.]
[Oh syukurlah.]
[Lalu kapan kau pulang ke Indonesia, Kenzo?]
[Entahlah mungkin satu tahun lagi, aku akan menyelesaikan tugas akhirku terlebih dulu.]
[Oh, jadi kita tidak bisa bertemu dalam waktu dekat?]
[Sepertinya tidak.]
Saat masih berbicara dengan Aleta, tiba-tiba sebuah teriakkan pun terdengar. "Kenzo, dimana kau menyimpan laptopmu?" teriak Cleo.
"Masih ada di dalam tasku, Cleo. Kau ambil saja di dalam tas," jawab Kenzo.
[Kenzo apa itu suara pacarmu?]
[Dijodohkan? Lalu apa kau mencintainya?]
[Bisa dibilang seperti itu, aku sangat takut kehilangan dirinya.]
[Oh bagus jika kalian saling mencintai.]
[Ya. Aleta, aku tutup dulu teleponnya. Aku harus mengerjakan tugas kuliahku terlebih dulu.]
[Iya Kenzo.] jawab Aleta sambil menutup ponselnya, dia pun kemudian memejamkan matanya.
"Tiga tahun aku menjalani kehidupan yang begitu berat tanpamu, aku bekerja di perusahaan milik orang tuamu sambil melanjutkan kuliahku sampai aku lulus diploma dan mendapatkan posisi yang cukup baik di kantor ini, semua kulakukan agar aku terlihat pantas bersanding denganmu tapi ternyata sudah ada wanita lain yang mengisi hatimu, sejak dulu kau begitu perhatian padaku kupikir karena kau memiliki perasaan yang sama denganku, tapi ternyata aku salah," ucap Aleta sambil tersenyum kecut dan menghapus air mata yang mengalir membasahi wajahnya. Hingga tiba-tiba netranya tertuju pada seorang wanita cantik yang baru saja melewatinya lalu masuk ke dalam ruangannya.
"Tante Amanda, ya Tante Amanda mungkin adalah kunci dari semua masalahku ini," ucap Aleta sambil tersenyum menyeringai.
Sementara Amanda yang baru saja memasuki ruangannya tiba-tiba dikejutkan oleh suara ponselnya yang berbunyi.
"Inara?" ucap Amanda saat melihat sebuah nama di ponselnya.
__ADS_1
[Ya, halo Inara.]
[Halo Amanda, maaf apa kau sedang sibuk?]
[Tidak, aku baru saja selesai meeting di luar, aku baru saja sampai di kantorku sambil menunggu Rayhan menjemputku untuk makan siang. Ada apa?]
[Emh begini Amanda, nanti sore bisakah kau datang ke rumah salah satu pemuka agama yang ada di dekat lapas tempat Abimana ditahan?]
[Ya, kebetulan nanti sore aku tidak sibuk. Memangnya ada apa Inara?]
[Hari ini Abimana sudah bebas, Amanda.]
[Astaga maafkan aku Inara, akhir-akhir ini aku sangat sibuk sampai aku lupa tanggal kebebasan Abimana.]
[Tidak apa-apa Amanda, hanya saja nanti sore kami akan mengadakan pernikahan secara siri terlebih dulu. Apa kau dan Rayhan mau datang ke pernikahan kami?]
[Syukur Alhamdulillah Inara, akhirnya kalian akan menikah. Tentu saja, tentu saja nanti sore kami akan datang. Aku akan memberitahu Rayhan.]
[Ya terimaksih banyak, bisakah kau memberitahu Firman dan Vallen juga? Aku juga ingin mereka datang nanti sore.]
[Ya aku akan memberitahu mereka. Kami semua pasti akan datang. Selamat Inara.]
[Iya terimaksih banyak, nanti kukirimkan alamat pemuka agama tersebut, tempat kami akan melangsungkan pernikahan.]
[Iya Inara, aku tunggu.] Jawab Amanda kemudian menutup teleponnya. Amanda pun terlihat mengigit jari-jarinya. "Sebaiknya aku pergi sekarang saja, aku harus membeli kado pernikahan mereka, tapi sebelumnya aku harus memberitahu Firman terlebih dulu," ucap Amanda sambil keluar dari ruangannya menuju ke ruangan Firman. Namun saat berjalan tiba-tiba dia dikejutkan oleh salah seorang karyawati yang membawa berkas cukup banyak hingga menabrak tubuhnya.
"AWWWW!!" pekik Amanda.
"Haiiii apa kau tidak bisa sedikit berhati-hati? Lihat kau membawa banyak sekali berkas tapi kau berjalan sembarangan seperti itu! Lain kali berhati-hatilah agar tidak merugikan orang lain sekaligus pekerjaan yang kau bawa!"
"Ma... Maafkan saya Nyonya Amanda," jawab wanita tersebut sambil memungut berkas yang tercecer di atas lantai.
"Ya sudah lain kali berhati-hatilah!"
"I.. Iya Nyonya Amanda, sekali lagi saya minta maaf."
Amanda kemudian menganggukan kepalanya sambil menatap Aleta.
'Sombong sekali, aku sampai malu karena teriakkanmu itu, semua karyawan yang ada di sini jadi melihat tajam ke arahku, kau memang menyebalkan Tante Amanda. Selain sombong kau juga kan yang sudah menjodohkan Kenzo dengan gadis pilihanmu itu, pasti Kenzo sampai kuliah di London dengan gadis itu juga karena ulahmu kan? Mungkin wanita seperti dirimu perlu sedikit mendapatkan pelajaran,' gumam Aleta sambil tersenyum kecut.
__ADS_1