Bed Friend

Bed Friend
Mempercepat Pernikahan


__ADS_3

Delia kemudian menatap kertas itu sambil menutup mulutnya. Dea yang melihat Delia tampak begitu keheranan pun terlihat sangat panik.


"Mamaaaa... "


"Sachi, kenapa golongan darah kita berbeda, Nak?"


"Emh begini, Ma. Bukankah itu sudah biasa terjadi? Jika golongan darah berbeda bukankah itu tidak berarti kalau aku bukan anak kandung Papa dan Mama? Bukankah sering terjadi kasus seperti itu, Ma? Hal itu biasanya karena aku memiliki gen resesif dari kalian. Bukankah bisa saja golongan darah ini keturunan dari Oma atau Opa dari Papa dan Mama?"


Delia pun tampak berfikir sejenak. "Mama, apa Mama sudah lupa kalau dilihat dari kronologis kejadian ditemukannya aku di gerbong kereta api, akulah bayi yang ditemukan di dalam gerbong itu? Bahkan jam kedatangan dan nama kereta yang Mama naiki pun sama dengan kereta tempat ditemukannya aku kan?"


Delia pun terdiam, kemudian perlahan menganggukkan kepalanya. "Benar, kau benar Sachi. Tidak mungkin ada dua orang bayi yang sama-sama hilang di tempat dan waktu yang sama. Sangat sulit ditemukan kejadian seperti itu."


"Iya Ma, tidak mungkin ada orang yang mengalami kejadian yang sama denganku," sahut Dea.


"Tapi semua kemungkinan masih bisa saja terjadi, Ma. Bisa saja jika ternyata bayi yang dititipkan di panti asuhan itu, bukan bayi yang ditemukan oleh wanita itu di dalam kereta api."


Delia kemudian menatap Shakila. "Shakila?"


"Iya Ma, bukankah semua kemungkinan masih bisa terjadi?"


"Kak Shakila, apa maksud perkataanmu? Jadi kau tak percaya jika aku adalah adik kandungmu?"


"Aku tidak mengatakan seperti itu, Dea. Aku hanya mengatakan kalau semua kemungkin masih bisa terjadi."


"Termasuk mendugaku jika aku bukanlah adik kandungmu?"


"Jika kau tidak ingin aku berfikir seperti itu, lebih baik kau buktikan jika kau adalah adikku."


"Kau perlu bukti apalagi, Kak? Apa kurang bukti yang ditunjukkan oleh Ibu Panti?"


"Ingat Dea, Ibu Panti hanya menerimamu di panti, tapi bukan yang menemukanmu di dalam gerbong kereta api, jadi semua kemungkin masih bisa saja terjadi."


"Kak Shakila kenapa kau bicara seperti itu?"


"Memangnya aku salah bicara seperti ini, Dea? Memangnya aku salah jika aku meminta bukti yang valid jika kau adalah adikku?"


"Bukti valid? Bukti valid apalagi yang kau maksud?"


"Bukti valid yang menunjukkan jika kau memang benar-benar adik kandungku, misalnya dengan tes DNA."

__ADS_1


DEG


Jantung Dea pun seakan berhenti berdetak mendengar perkataan Shakila, sedangkan Delia yang sejak tadi mendengar perbincangan keduanya hanya bisa merenung sambil memikirkan semua yang telah terjadi. Terutama setelah melihat hasil pemeriksaan golongan darah Dea. Memang Delia mengatakan kalau dia seolah-olah percaya pada kata-kata Dea, tapi tak dapat dipungkiri jika hati kecilnya menyimpan sebuah tanda tanya besar jika dia pun mulai meragukan Dea sebagai anak kandungnya. Apalagi, setelah mendengar penuturan Shakila mengenai tes DNA.


'Benar kata Shakila, seharusnya sebelum aku mengambil kesimpulan jika Dea adalah Sachi, aku harus bisa berfikir dengan jernih dan membuktikan kebenaran itu dengan bukti yang valid. Bukan hanya dengan penuturan semata,' batin Delia yang kini termenung sambil menatap keduanya berdebat dengan tatapan kosong.


"Mama!"


Panggilan dari Shakila pun membuyarkan lamunan Delia. "Oh, emh iya. Bagaimana Shakila?"


"Mama, bagaimana kalau kita melakukan tes DNA?" tanya Shakila.


Delia kembali termenung. Hatinya terasa begitu bimbang. Ingin rasanya dia mengiyakan perkataan Shakila, tapi dia juga tidak ingin membuat Dea terluka jika dia langsung mengiyakan permintaan Shakila begitu saja.


"Mama, bagaimana Ma? Apa tidak sebaiknya Mama melakukan tes DNA saja? Emh Dea, maaf jika hal ini mungkin sedikit menyinggungmu. Tapi, kami juga ingin kepastian dari bukti yang valid. Begitu kan, Ma?"


Delia masih terdiam, kemudian mengulaskan senyum tipisnya. "Shakila, apa yang kau katakan memang benar. Tapi maaf Mama belum bisa mengambil keputusan seorang diri. Bagaimapun juga, Mama harus membicarakan semua ini pada Papa."


Mendengar penuturan Delia, seketika Dea pun begitu panik. 'Oh tidak, ini tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh melakukan tes DNA itu,' batin Dea.


"Dea, Shakila, lebih baik kita pulang sekarang. Tadi dokter mengatakan kalau kondisimu masih sehat dan tidak perlu dirawat inap kan? Jadi lebih baik kita pulang sekarang!" ujar Delia.


"Iya Ma," jawab Shakila. Sementara Dea hanya bisa menganggukan kepalanya.


'Aku tidak mau, aku tidak mau kalau aku kembali lagi ke dalam panti asuhan itu lagi. Aku lelah hidup menderita, aku lelah jika aku terus menerus bekerja keras. Aku lelah sejak kecil aku selalu bekerja keras. Aku juga ingin hidup bahagia, aku juga ingin hidup di keluarga yang terpandang seperti mereka,' batin Dea.


Dia kemudian menyenderkan tubuhnya ke jok mobil, lalu memijit kepalanya yang rasanya seakan mau pecah.


'Aku harus mencari cara agar Mama mengurungkan niatnya untuk melakukan tes DNA padaku. Atau jika kemungakinan buruk itu terjadi, dan aku harus menjalani tes DNA terkutuk itu, aku harus mengamankan posisiku di keluarga ini. Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana caranya agar aku bisa mempertahankan semua ini?' batin Dea kembali sambil melihat pemandangan di sepanjang jalan yang dilaluinya. Dan di saat itu juga, secara tak sengaja Dea melihat acara pernikahan yang sedang dilangsungkan di sebuah hotel mewah yang dilaluinya.


'Pernikahan? Ya pernikahan, itulah jawabannya. Aku harus melangsungakan pernikahan secepatnya jika aku mau mempertahankan posisiku, atau setidaknya aku bisa hidup dengan mewah meskipun statusku bukan anak kandung dari mereka, dan pernikahan adalah jawabannya. Aku harus menikah secepatnya. Aku harus meminta Oma Fitri agar mempercepat pernikahanku dengan laki-laki yang terlihat messum itu. Siapa namanya? Devano? Ya, aku harus meminta kedua orang tuaku untuk mempercepat pernikahanku dengan Devano. Meskipun laki-laki itu terlihat sangat menjijikan bagiku, tapi hanya itu satu-satunya cara terbaik untuk mempertahankan apa yang kumiliki saat ini,' batin Dea.


Dengan penuh percaya diri, Dea kemudian memanggil Delia yang kini duduk di jok depan bersama dengan Shakila.


"Emh, Mama!" panggil Dea.


"Ada apa Dea?"


"Emh Mama, aku ingin menanyakan mengenai pernikahanku dengan laki-laki yang sudah dijodohkan denganku, Ma. Emh, siapa namanya? Devano?"

__ADS_1


"Ya, Devano. Apa kau mulai tertarik pada Devano?"


Shakila pun tampak menyunggingkan senyum tipisnya. "Mama, bolehkah aku bertemu dengan Devano, Ma?"


"Kau kenapa, Sayang? Apa kau mulai tertarik pada Devano?"


Dea pun tersenyum. "Mama, bolehkah pernikahanku dpercepat, Ma?" ucap Dea dengan sedikit malu-malu. Mendengar perkataan Dea, emosi Shakila pun memuncak. Dia kemudian mengerem mobil yang sedang dikendarainya secara mendadak.


CITTTTT


"ENAK SAJA KAU BERKATA SEPERTI ITU, DEA! KAU BUKANLAH ADIKKU! KAU BUKANLAH ADIKKU KARENA ADIK KANDUNGKU SEBENARNYA ADALAH LUNAAAA! BUKAN KAU!'


NOTE:


mampir juga ya ke karya Kak Yunita Yanti



Eps. 06. Kesalahan Satu Malam


#TerjebakDalamPerselingkuhan


"Terima kasih banyak atas pelayananmu yang sangat luar biasa malam ini, Nona! Aku tidak akan pernah melupakan apa yang terjadi antara kita malam ini," ucap pria itu sambil mendekat ke ranjang serta mengecup bibir ranum Sherina yang sudah tidak sadar dan tertidur dengan lelapnya.


"Selamat tinggal, Cantik. Semoga suatu saat kita bisa bertemu lagi," lirih pria itu di telinga Sherina.


Dia lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh bugil Sherina dan segera keluar dari kamar hotel itu meninggalkan Sherina seorang diri disana.


Beberapa menit tertidur pulas, Sherina sedikit demi sedikit mulai sadar. Dia mengerjapkan matanya yang sedikit silau oleh cahaya lampu di kamar itu.


"Aku ada dimana? Kenapa kepalaku rasanya pusing sekali?" Perlahan Sherina bangun dari tempat tidur. Namun, ia merasa sangat linglung.


"Hah ... apa yang terjadi denganku?" Sherina terlonjak kaget ketika menyadari tubuhnya sedang tidak mengenakan sehelai benangpun saat itu.


"Aaww!" ringisnya seraya menyentuh bagian kewanitaanya yang terasa perih. Bisa dibayangkan betapa ganasnya seseorang telah menjamahnya malam itu.


"Siapa yang membawaku ke tempat ini dan apa yang tadi sudah terjadi?" Sherina memukul-mukul kepalanya, mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi terhadap dirinya.


"Apa mungkin pria yang aku temui di club itu yang membawaku kesini? Tapi siapa dia? Aahh, aku tidak ingat sama sekali," sesal Sherin. Meski berusaha keras mengingat siapa pria yang sudah bersamanya, tetapi karena saat itu dia dalam pengaruh alkohol, dia tidak bisa mengingatnya sama sekali.

__ADS_1


Gadis itu kemudian mengendus bantal di sebelahnya, walau hanya samar-samar, dia bisa mencium aroma maskulin tubuh seorang pria masih menempel di bantal itu.


"Dasar laki-laki pengecut. Setelah melampiaskan hasratnya padaku, dia langsung kabur begitu saja!" sungutnya kecewa dan merasa frustasi. Namun, dia tidak tahu harus meluapkan amarahnya kepada siapa. Dia sama sekali tidak mengingat siapa laki-laki yang tadi sudah melewatkan malam bersamanya. Bahkan, ini pertama kali dalam hidupnya ada seorang pria yang meninggalkannya tanpa jejak, bahkan setelah laki-laki itu puas menikmati tubuhnya.


__ADS_2