Bed Friend

Bed Friend
Gadis Pembawa Kotak Kue


__ADS_3

"Kenapa tiba-tiba rasanya sakit sekali," ucap Vansh sambil memegang kepalanya. Keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.


"Hufttt, hahhhj, hufttt, hahhh!" ucap Vansh yang keluar dari mulutnya.


Nafas Vansh pun begitu tersengal-sengal, tangannya pun semakin kuat meremmas rambutnya.


"Arghhhhh sakit sekali!" teriak Vansh kembali. Rasa sakit di kepalanya itu pun terasa semakin menusuk-nusuk hingga membuat seluruh tubuhnya bergetar dan terasa begitu lemas. Vansh yang kini mulai terlihat tidak berdaya pun hanya bisa diam sambil memejamkan matanya. Tenaganya sudah terkuras menahan rasa sakit. Sebenarnya, ingin rasanya dia berteriak untuk memanggil Calista. Namun dengan sisa tenaga yang dimilikinya di rumah sebesar itu, tentu semua terasa sia-sia karena hanya akan semakin menghabiskan tenaganya. Dia pun membuka matanya kembali, lalu melirik pada ponselnya yang kini terjatuh, dia pun berniat mengambil ponsel itu. Namun, saat akan mengambil ponsel itu, tubuhnya yang sudah begitu lemah akhirnya terhempas kembali ke atas ranjang, dan sayangnya saat tubuh itu terhempas, bagian kepala Vansh sempat terantuk nakas yang ada di samping ranjangnya.


BUGH


"Aaaawwwww!" teriak Vansh yang membuat sakit di kepalanya semakin bertambah. Kini, dia pun hanya bisa merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menahan sakit yang kian menjadi. Perlahan, dia pun menutup matanya karena sudah tidak sanggup lagi menahan sakit di kepalanya.


...***...


"Kau sedang melihat apa Vansh?" sapa salah seorang temannya saat melihat Vansh yang sedang duduk termenung di lapangan basket sambil mengamati ke arah luar pagar sekolahnya.


"Dia," ucap Vansh lirih.


"Dia siapa?"


"Entahlah, aku pun tidak mengenalnya. Dia sepertinya tidak bersekolah disini, tapi aku sering kali melihatnya berjalan di depan sekolah ini sambil membawa beberapa kotak kardus berwarna putih. Mungkin saja, dia membantu orang tuanya menjual kue yang dijual oleh orang tuanya."


"Jadi kau tertarik pada wanita itu?"


Vansh pun tersenyum mendengar perkataan temannya. "Di saat sekarang jarang sekali ada gadis seperti dirinya, Sean. Dia pasti gadis yang istimewa," ucap Vansh sambil tersenyum.


"Jadi kau benar-benar menyukai gadis itu?"


Vansh kemudian mengangkat bahunya sambil tersenyum. Percakapan mereka pun terhenti saat mendengar suara bel yang berbunyi.

__ADS_1


"Lebih baik kita masuk sekarang!" ucap Sean kemudian meninggalkan Vansh yang masih termenung.


"Vansh!" teriak Sean kembali dengan sedikit kencang yang membuyarkan lamunan Vansh. Vansh pun tersadar dari lamunannya kemudian berjalan keluar dari lapangan basket menghampiri Sean yang sudah masuk ke arah sekolah. Namun karena tergesa-gesa, tiba-tiba tubuhnya menubruk seorang wanita mungil berpakaian putih biru.


"Maaf aku sedang terburu-buru," ucap Vansh.


"Tidak apa-apa Kak, aku juga terburu-buru karena mendengar suara bel yang sudah berbunyi," jawab gadis yang mengenakan seragam SMP itu dengan rambut kucir kudanya.


Vansh pun hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan gadis berambut kucir kuda yang kini masih menatapnya dengan tatapan terpesona. 'Tampan sekali,' gumam gadis itu sambil menatap Vansh dengan mata yang tak berkedip.


"Queen, cepat!" panggil salah seorang teman kelasnya yang membuat gadis berambut ekor kuda itu terkejut. Dia lalu berlari kecil menghampiri temannya yang sudah menunggunya.


Sepanjang pelajaran di sekolah, entah kenapa perasaan Vansh terasa begitu kacau. Yang dia pikirkan hanyalah seorang gadis yang membawa kotak kardus yang kemungkinan berisi sekotak kue yang akan dia jual. Vansh pun hanya bisa menatap birunya langit di balik jendela kaca yang ada di kelasnya sambil memikirkan gadis itu yang seolah-olah menari di dalam benaknya.


'Astaga, kenapa aku jadi seperti ini,' gumam Vansh sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Dia pun kembali menyimak pelajaran yang sedang diterangkan oleh gurunya meskipun satu kata pun tidak ada yang bisa dicerna olehnya.


'Bukankah itu gadis yang bertabrakan denganku tadi pagi?' gumam Vansh sambil mengerutkan keningnya. Dia pun semakin terkejut karena gadis itu kini berjalan ke arahnya, bibirnya pun tampak tersenyum meskipun terlihat malu-malu.


"Selamat siang, Kak?" sapa gadis itu.


"Selamat siang," jawab Vansh.


"Ini untuk Kaka," ucap gadis itu sambil memberikan sebuah kardus yang ada di tangannya.


"Apa ini?" tanya Vansh.


"Itu kue cokelat buatanku. Perkenalkan namaku Queen."


"Oh iya, terima kasih banyak Queen. Permisi, aku mau melanjutkan bermain basket dengan teman-temanku," ujar Vansh. Queen kemudian mengangguk, sementara Vansh kini berjalan meninggalkan dirinya yang masih menatap Vansh dengan tatapan kagum dan senyum yang tersungging di bibirnya.

__ADS_1


'Tampan sekali,' gumam Queen. Tak berapa lama kemudian, dia pun meninggalkan lapangan basket itu lalu berjalan menghampiri gadis seusianya yang sedang berdiri di samping mobilnya.


"Queen!" panggil gadis itu. Queen pun tersenyum kemudian mendekat padanya.


"Bagaimana, apa kau sudah memberikan kue itu untuk Tuan Tampan itu?"


"Sudah Maya, aku sudah memberikan padanya."


"Terima kasih banyak, Queen. Lalu bagaimana reaksinya?"


"Emh, dia memang sedikit terkejut."


"Apa dia mau makan kue pemberian dariku?" tanya Maya penuh harap.


"Belum, setelah aku memberikan kue itu. Dia hanya menaruh kardus itu di tepi lapangan basket, lalu dia melanjutkan permainan basketnya kembali dengan teman-temannya," jawab Queen. Maya pun tampak termenung mendengar jawaban Queen.


"Sudahlah Maya, nanti juga dia akan memakan kue buatanmu itu. Lebih baik sekarang kita pulang saja! Ayo masuk!" perintah Queen sambil menarik tangan Maya untuk masuk ke dalam mobilnya.


Sementara Vansh yang sudah selesai bermain basket dengan teman-temannya kini duduk di samping lapangan. Dada mereka tampak naik turun dan terengah-engah, tubuh mereka pun penuh dengan peluh yang menetes. Tiba-tiba netra Vansh tertuju pada sebuah kotak kardus putih yang dia letakkan di salah satu bangku di sisi lapangan basket tersebut. Dia kemudian mengambil kardus berwarna putih itu karena perutnya terasa begitu keroncongan setelah tenaganya habis terkuras.


"Aku punya ini, ayo makan!" ucap Vansh pada beberapa teman-temannya.


"Jadi gadis SMP itu memberikan kue ini padamu? Apa dia salah seorang penggemarmu Vansh?" ledek salah seorang temannya.


"Tidak usah banyak bicara, sudah makan saja!" gerutu Vansh. Dia lalu ikut memakan kue cokelat itu bersama dengan teman-temannya. Saat Vansh menggigit kue cokelat itu, entah kenapa tiba-tiba hatinya pun ikut berdebar.


'Rasanya, kenapa rasa kue cokelat ini enak sekali?' gumam Vansh. Dia kemudian mengigit kue itu kembali dan merasakan sensasi rasa cokelat yang legit dan nikmat yang terasa begitu menggetarkan hatinya.


'Jadi, kue cokelat ini buatan gadis berkuncir kuda itu? Tapi kenapa aku masih memikirkan gadis pembawa kotak kue yang setiap pagi selalu melewati sekolah ini?' gumam Vansh.

__ADS_1


__ADS_2