Bed Friend

Bed Friend
Perhatian Lebih


__ADS_3

"Jadi, dia sering mengunjungi panti ini untuk bertemu dengan Dea?"


"Ya, sejak Dea bayi sampai dewasa, dia selalu mengunjunginya ke panti asuhan ini. Selain itu, dia juga sangat menyayangi Dea. Dia seringkali membelikan Dea mainan, pakaian, dan makanan saat dia mengunjungi panti ini."


"Maaf Bu, dia berbuat baik ke semua penghuni panti atau hanya pada Dea?"


Ibu Panti pun tersenyum. "Dia orang yang baik dan memberikan perhatian pada seluruh penghuni panti. Namun, dia memberikan perhatian lebih hanya pada Dea. Bahkan, dulu pernah kutanyakan mengapa dia sangat menyayangi Dea, dan dia mengatakan kalau dia tidak bisa melupkakan saat dia menemukan Dea di dalam gerbong kereta api. Dia selalu mengatakan tak bisa melupakan wajah malang Dea yang menangis di dalam kereta api saat ditinggal oleh orang tuanya. Tapi, syukurlah saat ini Dea sudah bertemu dengan kedua orang tuanya. Bu Rahma, tidak perlu khawatir akan masa depan Dea."


Shakila dan Darren pun tersenyum kecut mendengar perkataan Ibu Panti. "Ibu Panti, tahukah anda dimana rumah Bu Rahma?"


"Oh maaf, saya tidak tahu. Tapi, saya memiliki nomer ponselnya."


"Anda memiliki nomer ponselnya?"


"Ya, sejak dulu saya punya nomer ponselnya, karena dia seringkali meminta foto-foto Dea."


DEG


'Sedalam itu? Benarkah sedalam itu rasa yang membekas di hati wanita itu? Apakah hanya karena dia menemukan Dea di dalam kereta api hingga dia memiliki rasa sedalam itu,' batin Shakila. Melihat Shakila yang kini termenung, Darren kemudian menggengam tangannya.


"Are you okay?"


"Yeah."


"Ibu panti, apakah saya boleh minta alamat dari Bu Rahma?"


"Oh kalau alamat lengkapnya, maaf saya tidak tahu. Tapi saya bisa menanyakan terlebih dulu. Apa anda mau menunggu?"


"Oh iya. Tentu saja, kami akan menunggu jawaban Bu Rahma," jawab Shakila.


"Baik, saya tanyakan dulu."


Ibu panti kemudian sibuk mengutak-atik ponselnya untuk mengirim pesan pada Bu Rahma. Tak berapa lama, dia sudah mendapatkan jawaban dari Bu Rahma.


"Ini alamatnya," kata Ibu Panti pada Shakila. Dia kemudian mencatat alamat yang diberikan oleh Ibu Panti tersebut.


"Terima kasih banyak," ucap Shakila setelah mendapatkan alamat tersebut.


"Sama-sama."


"Kalau begitu, kami pamit dulu. Terima kasih banyak atas bantuannya Ibu Panti," pamit Darren.

__ADS_1


"Iya sama-sama."


Shakila dan Darren kemudian keluar dari panti asuhan tersebut. Darren kemudian terkekeh saat melihat tingkah Shakila yang masih tampak kesal di dalam mobil.


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Darren sambil membelai wajah Shakila.


"Kak Darren, kau dengar kan penjelasan Ibu Panti? Bukankah itu sebuah hal yang aneh?"


"Hal yang aneh?"


"Ya, bukankah sikap Bu Rahma tidak wajar? Dia terlihat sangat menyayangi dan memperhatikan Dea, padahal dia hanya menemukan Dea di dalam gerbong kereta api, dan aku yakin pertemuan yang singkat itu, tidak mungkin menimbulkan sebuah rasa yang begitu dalam. Bahkan, sikap Bu Rahma pada Dea, layaknya sikap seorang ibu pada anak kandungnya."


"Kau berlebihan, Shakila. Mungkin memang pertemuan antara Dea dan Bu Rahma, menimbulkan kesan yang dalam padanya, seperti yang dikatakan Ibu Panti."


"Ahhh, Kak Darren. Kenapa kau berkata seperti itu? Jadi, kau tidak setuju padaku?" gerutu Shakila.


"Hahhaha, bukannya seperti itu Shakila. Memang sikap yang ditunjukkan oleh Bu Rahma pada Dea sedikit tidak wajar, apalagi mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Hanya saja, kita harus tetap berfikiran positif, kau tidak boleh terlalu yakin karena keyakinan yang berlebihan, jika tidak terbukti hanya akan menimbulkan kekecewaan. Apa kau mengerti?"


"Ya, kau benar Kak. Meskipun aku berharap jika Dea bukanlah adik kandungku, tapi aku tidak boleh terlalu banyak berharap, karena hanya akan menimbulkan kekecewaan yang mendalam jika tidak sesuai harapan."


"Iya Shakila. Sekarang kita pergi ke rumah Bu Rahma?"


"Iya Shakila, kita ke sana sekarang?"


Shakila kemudian menganggukan kepalanya. "Tunggu sebentar, isi tenaga dulu!" ujar Darren, dia kemudian mendekatkan wajahnya pada Shakila kemudian memmaggut bibir merah itu dengan begitu bergairah. Shakila yang terkejut tiba-tiba Darren mencium bibirnya pun membalas paggutan Darren dengan tak kalah bergairah.


"Hahahaha, Kak Darren! Kau mengagetkanku saja!" teriak Shakila setelah Darren melepaskan bibirnya pada bibir Shakila.


"Hahahahaha, aku rindu sayang. Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga, Kak," jawab Shakila sambil mengalungkan tangannya pada leher Darren kemudian mengecup bibir Darren kembali.


"Ayo pergi sekarang!" ujar Shakila.


"Ya, nanti kita lanjutkan di rumahku!"


"Hahhaha, maluuuu ada Mama," ucap Shakila sambil menjulurkan lidahnya. Darren pun tersenyum sambil mengacak-acak rambut Shakila. Kemudian, dia mengendarai mobilnya menuju ke alamat yang ditunjukkan oleh Ibu Panti.


Lima belas menit kemudian, mereka pun sudah sampai di alamat tersebut. Sebuah rumah mungil yang begitu sederhana dengan halaman yang tidak begitu luas tapi dipenuhi oleh berbagai tanaman dan bunga yang begitu terawat.


"Ayo kita turun!" perintah Darren.

__ADS_1


"Iya Kak," jawab Shakila. Mereka kemudian turun dari mobil lalu berjalan ke rumah itu.


TOK TOK TOK


Pintu rumah itu pun terbuka. Seorang wanita paruh baya membuka rumah itu, lalu tersenyum dan menyapa Darren dan Shakila.


"Selamat sore, ada yang bisa saya bantu?" sapa wanita tersebut.


"Selamat sore, bisakah kami bertemu dengan Ibu Rahma?"


"Oh iya, kebetulan saya sendiri. Ada yang bisa saya bantu?"


"Ibu Rahma, perkenalkan saya Shakila, dan ini pacar saya Kak Darren. Bisakah kami mengobrol sebentar dengan Ibu?"


"Oh iya, silahkan masuk. Ayo masuk, Nak!"


Shakila dan Darren lalu masuk ke dalam rumah itu dan duduk di dalam ruang tamu.


"Bu Rahma, maaf sudah mengganggu. Kami mendapat alamat ibu, dari Ibu Panti, penanggung jawab dari panti asuhan yang sering anda kunjungi.


DEGGG


Mendengar kata panti asuhan disebutkan oleh Shakila, jantung Rahma pun seakan berhenti berdetak.


"Panti asuhan?"


"Ya, panti asuhan yang ada di dekat stasiun. Bukankah anda sering mengunjungi panti asuhan tersebut?"


Tubuh Rahma pun kini seakan bergetar hebat mendengar perkataan Shakila. 'Ada apa ini? Ada apa sebenarnya? Dua bulan yang lalu Arka mencecarku mengenai panti asuhan itu. Sekarang, wanita asing ini yang menanyakan hal yang sama. Apa sebenarnya yang telah terjadi?' batin Rahma.


"Bu Rahma! Anda kenapa?" tanya Shakila yang melihat Rahma termenung.


"Oh tidak apa-apa, Nak. Kenapa kau tiba-tiba menanyakan tentang panti asuhan tersebut, Nak?"


"Begini Bu Rahma, kebetulan adik saya yang hilang selama puluhan tahun, ditemukan di panti asuhan tersebut. Dan Ibu Panti mengatakan andalah yang menemukan adik saya tersebut. Jadi saya ingin mengucapkan terima kasih pada anda."


"A-adik anda? Si-siapa yang anda maksud?"


"Dea, bukankah anda yang menemukan Dea di dalam gerbong kereta api dua puluh tahun lalu?"


'OHHHH TIDAKKKKKK!!!' batin Rahma.

__ADS_1


__ADS_2