
Sharen kemudian mengangkat panggilan di ponselnya.
[Halo Kak Sharen!] sapa Cleo.
[Halo Cleo, apa kabarmu?]
[Baik Kak. Bagaimana kabar Kak Sharen?]
[Oh syukurlah.]
[Kak Sharen, sudah beberapa hari ini aku dan Kenzo tinggal di rumah Papa Abimana tapi kami belum bertemu denganmu. Papa dan Mama mengatakan jika saat ini kau bekerja di Bandung. Benarkah kau ada di Bandung? Lalu kapan kau pulang?]
[Oh iya Cleo, aku memang saat ini tinggal di Bandung, saat ini aku bekerja di sebuah perusahaan garmen terbesar, Cleo]
[Oh sayang sekali, padahal kami sangat ingin bertemu denganmu, Kak. Sebenarnya ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu.]
[Hal penting? Ada apa Cleo?]
[Owh ini sebenarnya sangat rahasia, ini ada hubungannya dengan Nathan dan Clarissa. Bukankah kau tahu Kak, kalau Nathan dan Clarissa sudah menikah? Aku sebenarnya ingin membicarakan tentang hubungan mereka berdua, aku menyembunyikan sebuah kebenaran tentang hubungan mereka berdua yang sebenarnya.]
[Oh benarkah? Sebenarnya apa yang ingin kau katakan, Cleo? Bisakah kita membicarakan di telepon saja?]
[Tidak Kak, jika kita membicarakan tentang hal ini di telepon sangat berbahaya. Kau tahu sendiri Kenzo selalu ada di sampingku, dia bisa mendengar semua percakapan kita. Kapan-kapan saja kalau kau sudah pulang ke Jakarta, kau bisa mengabariku, nanti kita bisa bertemu diluar.]
[Oh...E...Kau ingin membicarakan tentang hubungan Nathan dan Clarissa kan? Bagaimana jika kita bertemu sekarang saja.]
[Bertemu sekarang? Bukankah saat ini Kak Sharen ada di Bandung?]
[Oh...Em.. Kebetulan nanti aku ada kepentingan di Jakarta, jadi aku bisa menemuimu sebentar.]
[Oh benarkah?]
[Ya, nanti kau beritahu saja dimana kita akan bertemu, nanti sore aku sudah ada di Jakarta.]
[Oh iya Kak.] jawab Cleo kemudian menutup teleponnya. Dia lalu tersenyum pada Kenzo yang kini duduk di depannya sambil terlihat mengamatinya dengan tatapan penuh tanda tanya. Alisnya pun sedikit terangkat disertai kerutan di keningnya.
"Bagaimana?"
"Sangat mencurigakan, awalnya dia mengatakan jika dia sedang berada di Bandung. Tapi setelah aku menyebut nama Nathan dia langsung berubah pikiran dan meminta untuk bertemu denganku."
__ADS_1
"Aku tidak habis pikir, Cleo. Ini rasanya seperti bukan Kak Sharen yang kukenal dulu."
"Tapi inilah kenyataannya, semua orang bisa berubah jika sudah dipenuhi oleh ambisi dan hawa nafsunya, Kenzo."
"Lalu kapan kau akan menemuinya?"
"Nanti sore."
Sementara Sharen yang baru saja menutup teleponnya kini tampak mengerutkan keningnya. "Sebenarnya apa yang akan Cleo bicarakan? Ada rahasia apa sebenarnya dibalik hubungan Nathan dan Clarissa?" gerutu Sharen.
'Sebelum menemui Cleo, sebaiknya aku pergi menemui wanita sialan itu dulu untuk memastikan agar posisiku aman,' gumam Sharen. Dia lalu mengambil tasnya kemudian keluar dari kamar itu lalu menemui Calista yang kini tampak sedang membaca majalah di dekat kolam renang.
"Maaf menggangu Tante Calista, bolehkah aku pergi sebentar untuk menemui Cleo?"
"Menemui Cleo?"
"Ya, sudah beberapa hari ini Cleo dan Kenzo menginap di rumah Papa Abimana, dia curiga akan keberadaanku, jadi sebelum mereka bertambah curiga, aku ingin mengendalikan situasinya terlebih dulu agar mereka tidak curiga lebih jauh lagi jika aku baru saja mengalami kejadian yang buruk bersama Nathan, karena yang mereka tau Clarissa adalah istri satu-satunya dari Nathan."
"Oh baiklah jika itu baik menurutmu. Tapi maaf Pak Ahmad tadi ijin pulang karena tiba-tiba istrinya sakit, kau bawa mobil Tante saja, Sharen."
"Iya Tante, terimakasih banyak, aku pergi dulu," jawab Sharen lalu pergi meninggalkan Calista. Setelah Sharen sudah keluar dari rumah, Calista lalu mengambil ponselnya.
🍒🍒🍒
Sharen pergi mengendarai mobil milik Calista dengan kecepatan begitu tinggi menyusuri padatnya jalanan ibukota. Hingga setengah jam kemudian, mobil itu sudah sampai di daerah pinggiran ibu kota di sebuah pemukiman padat penduduk. Sharen lalu menghentikan laju mobilnya di depan sebuah rumah dengan tipe bangunan kuno dengan cat di beberapa bagian rumah yang sudah luntur. Dia kemudian turun dari mobil lalu bergegas masuk ke dalam rumah tersebut. Saat memasuki rumah itu tampak tiga orang laki-laki berperawakan kekar mendekat ke arahnya.
"Selamat siang bos."
"Dimana wanita jal*ng itu?"
"Ada di kamar, anda ingin bertemu dengannya?"
"Tentu saja, memangnya kau pikir apa tujuanku ke sini jika tidak untuk menemui wanita itu!" jawab Sharen dengan ketus.
"Silahkan, bos."
CEKLEK
Pintu kamar itu pun terbuka, Sharen kemudian mengikuti anak buahnya masuk ke kamar tersebut. Dia lalu mendekat ke arah seorang wanita yang kini sedang duduk di atas sofa usang dengan posisi tubuh terikat dan mata yang terpejam.
__ADS_1
"Dia masih pingsan, Bos. Efek obat biusnya mungkin belum hilang."
Sharen pun tersenyum kecut, dia kemudian meminta anak buahnya untuk mengambilkan air untuknya. Anak buah Sharen lalu mengambil segayung air kemudian memberikannya pada Sharen. Sharen kemudian mengguyur wanita yang ada di depannya dengan air tersebut.
BYURRRRR
Seketika, mata wanita itu pun terbuka. Dia pun begitu terkejut melihat kondisinya saat ini yang sudah terikat di sebuah ruangan yang begitu berdebu.
"Kau sudah bangun, anak nakal?" ucap Sharen sambil tersenyum menyeringai.
"Apa yang kau lakukan padaku?"
"Hanya memberimu sedikit pelajaran karena kau sudah berani mengganggu hidupku. Dasar wanita jal*ng tidak tahu diri!"
NOTE: Jangan lupa mampir ke karya bestie aku Kak Enis Sudradjat judulnya Masa Lalu Sang Presdir ceritanya keren banget loooo
Masa Lalu Sang Presdir (21+)
Blurb :
Ameera bimbang dengan keadaan dirinya yang dirasa apa pantas seorang Ameera dengan status yang di sandang dirinya menerima cinta yang diungkapkan Richard barusan?
"Ameera sayang, kenapa diam? hatiku bergejolak ingin mendengar jawaban darimu, katakan! apapun itu aku siap menerimanya."
"Rich, a-aku juga sa-sama ... tapi."
"Ameera jangan ada kata tapinya, sudah cukup, aku mengerti, aku melihat tatapan mu ada cinta untukku di sana."
"Richard ...."
"Ssssssssst ... aku telah mengerti, kita satu hati sama saling punya rasa." Richard menghampiri Ameera yang duduk di hadapannya di sofa ruang tamu Vila Melati keluarga Haji Marzuki.
Richard meraih kedua tangan putih lembut Ameera dan menciumnya, Ameera merasa malu menariknya perlahan.
"Maafkan aku Ameera, aku tidak bisa mengungkapkan kata-kata dan kata hati yang lebih bagus lagi seperti orang lain, juga aku tidak romantis ya? ungkapkan cinta sembarang waktu pada saat jam kerja dan juga tempat yang tidak dirancang dengan istimewa, aku tidak membawa kamu ke tempat yang lebih romantis lagi. Tetapi tidak mengurangi rasa yang kuberikan padamu aku mencintaimu Ameera!"
Ameera mengangguk mantap.
__ADS_1
Anggukan Ameera melebihi ribuan kata dan rangkaian puisi yang begitu bermakna bagi Richard, mengerti isi hatinya itu yang terpenting, Ameera telah menerimanya hanya dengan satu anggukan kepala dan senyum yang sangat menawan hati Richard, sanggup mengalahkan sejuta kata-kata penerimaan lainnya.