Bed Friend

Bed Friend
Dusta Terindah


__ADS_3

Zack tampak menatap benda pipih yang ada di tangannya, lalu mengamati satu persatu beberapa buah foto yang ada di layar beda pipih itu, cukup lama Zack mengamatinya. Beberapa saat kemudian, dia menyentuh sebuah tombol bertuliskan delete untuk menghapus foto-foto itu.


"Selamat tinggal Laurie," ucapnya. Setelah foto-foto itu terhapus, Zack menghembuskan nafas panjangnya, lalu menaruh ponsel itu di telinganya untuk menelpon seseorang.


[Halo.]


[Halo Tuan Zack. Apa ada yang bisa saya bantu?]


[Tolong urus proses perceraianku dengan Laurie secepatnya!] jawab Zack kemudian bergegas menutup telepon itu. Ya, dia baru saja menghubungi salah seorang pengacaranya untuk mengurusi perceraiannya dengan Laurie.


Setelah itu Zack pun tampak menutup matanya disertai air mata yang kembali keluar dari kedua sudut matanya. Memang rasanya sungguh berat melepas wanita yang sangat dia cintai, apalagi mendapatkan Laurie tidaklah mudah. Tapi dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa, Laurie sangatlah membencinya.


"Bukankah sebuah hubungan tanpa rasa cinta hanya menimbulkan kesia-siaan semata?" ujar Zack lirih. Inilah yang ada di dalam benak Zack, baginya terlalu menyakitkan menjalani hubungan tanpa cinta, terlalu menyakitkan berharap yang hanya berujung pada kesia-siaan. Beberapa saat kemudian dia tampak mengotak-atik ponselnya kembali.


[Halo Mama Olivia]


[Kau? Ada apa kau menghubungiku? Apa kau mau menanyakan tentang putriku? Putriku belum kembali dan saat ini aku tidak tahu dimana keberadaan Laurie.]


[Mama Olivia, tenang saja anak buahku saat ini sedang mencari Laurie.]


[Tidak usah, karena aku dan keluargaku pun sedang mengusahakan untuk mencari Laurie. Aku tidak membutuhkan bantuanmu Zack! ]


[Tapi bagaimana pun juga aku tetap akan mencari Laurie, aku harus bertanggung jawab karena saat ini aku masih menjadi suaminya. Anggap saja ini sebagai pertanggung jawabanku yang terakhir.]


[Apa? Pertanggung jawabanmu yang terakhir?Apa maksudmu Zack? ]


[Mama Olivia, aku baru saja mengajukan gugatan cerai pada Laurie.]


Mendengar perkataan Zack, Olivia pun begitu terkejut, sekaligus merasa sangat bahagia.


[Apa kau sedang mengurus perceraian dengan Laurie? ]

__ADS_1


[Iya Ma, aku sedang mengurus perceraianku dengan Laurie.]


[Kau tidak sedang bercanda kan Zack?]


[Apa aku terlihat sedang bercanda Ma?]


[Jadi kau benar-benar akan menceraikan Laurie?]


[Iya Ma, aku akan menceraikan Laurie secepatnya, saat ini perceraian kami sedang diurus oleh pengacaraku.]


[Itu bagus sekali Zack. Terima kasih akhirnya kau menyadari kalau cinta memang tidak bisa dipaksakan, sekali lagi terima kasih.]


[Iya Mama Olivia.]


Zack kemudian menutup panggilan telepon itu, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya terasa begitu hancur, tapi dia yakin apa yang menjadi keputusannya saat ini adalah keputusan yang tepat. "Bukankah lebih baik melepaskan daripada bertahan tapi hanya menimbulkan sebuah rasa sakit?" ujar Zack lirih.


Dia kemudian beranjak dari tempat duduknya, tapi saat dia akan melangkahkan kakinya tiba-tiba matanya tampak begitu berkunang-kunang, seketika tubuhnya pun ambruk di atas lantai.


Sementara itu Olivia yang mendengar Zack akan menceraikan Laurie tampak begitu bahagia. Dia kemudian langsung menelpon Laurie.


[Halo Ma.]


[Bagaimana keadaanmu sayang?]


[Aku baik-baik saja ma, saat ini aku sedang beristirahat.]


[Oh jadi kau sedang beristirahat? Laurie, tadi Zack baru saja menelponku.]


[Menelpon Mama? Memangnya apa yang dia katakan Ma?]


[Zack mengatakan kalau saat ini dia sedang mengurus proses perceraian kalian!]

__ADS_1


[APAAAA?] teriak Laurie disertai perasaan yang begitu bahagia. Semua beban yang menempel seakan hilang begitu saja.


[Jadi Zack sedang pengurus perceraianku?]


[Iya Laurie.]


[ini berita yang sangat bagus Ma.]


[Iya sayang, kalau begitu sekarang kau sudah aman. Kau bisa pulang sekarang Laurie, Sayang.]


Mendengar perkataan Olivia, Laurie pun terdiam.


[Laurie, kenapa kau diam begini?]


[Ma, saat ini kondisiku belum memungkinkan untuk pulang, setelah mengalami perjalanan yang sangat jauh tubuhku begitu lemas. Bolehkah aku untuk sementara beristirahat di kampung halaman Alvaro? Nanti saat tubuhku sudah pulih aku langsung pulang ke rumah.]


[Oh baiklah kalau begitu sayang, lebih baik kau istirahat dulu saja. Kau pulihkan dulu kesehatan tubuhmu. Ada Alvaro yang akan selalu menjagamu kan?]


[Iya Ma, terima kasih banyak.]


Laurie kemudian menutup telepon itu, hatinya terasa begitu bimbang. Sebenarnya dia merasa sangat bahagia Zack akhirnya bisa melepaskan dirinya. Ini adalah sebuah berita terindah yang dia dengar, seolah semua beban di dalam hidupnya hilang. Tapi di sisi lain, entah kenapa rasanya dia begitu sulit untuk berpisah dengan Alvaro. Entah mengapa saat ini dia hanya ingin pergi berdua dengan Alvaro. Dan, entah bagaimana ujung hubungannya dengan Alvaro, dia pun tak tahu. Karena yang ada di pikiran Laurie saat ini dia bisa menghabiskan saat-saat terindah bersama Alvaro, itu saja.


"Laurie, kau kenapa?" tanya Alvaro yang baru saja selesai mandi.


"Tidak apa-apa, mama baru saja meneleponku."


"Apa yang Tante Olivia katakan?"


"Mama hanya memberi tahu situasinya belum aman, dan Zack saat ini sedang mencariku."


"Oh, kau tenang saja. Kau aman bersamaku Laurie."

__ADS_1


Laurie pun menghembuskan nafas panjangnya. 'Maaf aku sudah membohongimu Alvaro, anggap saja aku sedang melakukan dusta terindah,' batin Laurie.


__ADS_2