
"Gadis lancang, kau mau kemana?" tanya Vansh saat melihat Maya yang berjalan keluar dari cafe tersebut.
"Pulang," jawab Maya.
"Cepat naik ke mobil!"
"Naik ke mobil? Bukankah anda sedang ada urusan penting?"
"Kau kuantar pulang dulu!" sahut Vansh kemudian menarik tangan Maya untuk memasuki mobilnya. Maya pun tersenyum melihat tangan Vansh yang kini menempel di tangannya.
'Oh Tuhan, aku tidak sedang bermimpi kan? Tuan Dingin sedang memegang tanganku,' gumam Maya sambil tersenyum disertai perasaan yang begitu berbunga-bunga.
Dia kemudian duduk di kursi mobil lalu mencium tangannya yang baru saja digenggam oleh Vansh. 'Wangi sekali,' ujar Maya sambil terkekeh. Vansh yang baru saja duduk di samping Maya pun menatap Maya dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Kenapa kau tersenyum sendiri? Apa kau sudah gila?"
"Gila karena cinta," jawab Maya dengan polosnya yang membuat Vansh tersenyum kecut. Maya yang baru menyadari kebodohannya pun hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
'Astaga, kenapa aku salah berbicara seperti tadi?' gumam Maya yang kini terlihat salah tingkah karena Vansh menatapnya. "Gila karena cinta? Apa masih sangat tergila-gila pada laki-laki di masa lalumu itu?" tanya Vansh. Maya pun hanya terdiam kemudian mengulaskan senyum di bibirnya.
"Dasar aneh!" gerutu Vansh lalu mengemudikan mobilnya. Mereka kemudian melewati perjalanan selama dua puluh menit di dalam mobil dalam keheningan dan sibuk dengan pikiran masing-masing.
Vansh tampak mengemudikan mobilnya dengan begitu serius sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk dipenuhi dengan berbagai tanda tanya akan kebenaran yang selama ini ingin dia ketahui.
Sedangkan Maya, dia tampak mereemas pakaiannya sambil menahan perasaan yang begitu bergejolak. Rasa bahagia begitu menyelimuti hatinya tapi dibalik rasa bahagia itu, berbagai pikiran pun begitu campur aduk di dalam benaknya.
'Meskipun aku bisa menemukan ksatriaku, tapi apa ini akan menjadi sebuah jaminan untuk bisa memilikinya? Sepertinya tidak, kami sangat berbeda. Bahkan perbedaan itu bagaikan langit dan bumi, seharusnya aku tidak pernah berharap untuk memilikinya karena itu hal yang begitu mustahil. Dan aku yakin, dia pun sebenarnya tidak pernah mencintaiku karena hatinya hanyalah untuk Queen,' gumam Maya yang kini menatap ke arah depan dengan tatapan kosong.
"Kita sudah sampai Maya," ujar Vansh saat mobilnya sudah berhenti di depan sebuah gang sempit.
__ADS_1
"Oh iya, Tuan. Terima kasih sudah mengantar saya," ujar Maya sambil tersenyum pada Vansh yang hanya menganggukkan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun padanya.
'Dingin sekali,' gumam Maya lagi. Dia pun akhirnya membuka pintu mobil itu dengan perasaan yang begitu berat. Ingin rasanya dia berlama-lama di dalam mobil tersebut, tapi dia tidak memiliki alasan untuk ada di dalam mobil bersama dengan Vansh.
"Kenapa kau diam? Bukankah kau sudah berpamitan padaku?" sahut Vansh yang melihat Maya kini tampak mematung setelah membuka pintu mobil itu.
"Oh.. O.. Iya Tuan," jawab Maya. Dia kemudian turun dari mobil itu lalu meskipun hatinya terasa begitu berat. Setelah turun dari mobil, dia pun berdiri di samping mobil itu lalu melihat kepergian mobil tersebut dengan perasaan sedih.
"Kenapa rasanya berat sekali berpisah denganmu? Aku memang terlalu berharap padamu, sedangkan kau? Melihatku saja tidak pernah. Aku memang bagaikan pungguk yang merindukan bulan. Mungkin lebih baik aku memendam perasaan ini saja. Oh, sadarlah Maya, sampai kapanpun aku tidak akan pernah mendapatkannya," gerutu Maya sambil berjalan di gang sempit itu.
Setengah jam kemudian, Vansh pun sudah sampai di rumah Queen. Dia kemudian bergegas turun dari mobil tersebut lalu berjalan menuju ke pintu rumah itu. Namun sebelum Vansh memencet bel rumah, pintu rumah itu pun tampak terbuka.
Seorang wanita paruh baya bertubuh sintal tampak berdiri di ambang pintu sambil tersenyum padanya. "Mama Reni," sapa Vansh.
"Kau sudah datang, Vansh?"
"Iya Ma."
Vansh pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan mengikuti Reni memasuki rumah tersebut. Mereka kemudian duduk di sofa yang ada di ruang tamu rumah itu. Fudge brownies yang hampir saja dihabiskan oleh Vansh pun tampak masih ada di atas meja di ruang tamu tersebut.
Melihat brownies itu, Vansh pun tampak tersenyum getir. 'Semoga Mama Reni tidak menyadari jika kue itu hampir saja dihabiskan olehku,' gumam Vansh.
"Mama, sebenarnya apa yang ingin Mama bicarakan?" tanya Vansh.
Reni yang mendengar perkataan Vansh lalu menatap Vansh dengan tatapan sendu. "Vansh, sebelumnya tolong maafkan mama karena baru mengatakan tentang semua ini padamu."
"Apa maksud Mama?"
"Ini tentang rahasia Queen."
__ADS_1
"Rahasia Queen?"
"Iya Vansh, mama yakin kau pasti sudah mengetahui ada sebuah rahasia yang selama ini ditutupi oleh Queen. Bukankah setelah meninggal, Queen sempat memberikan surat padamu?"
Perlahan, Vansh pun menganggukkan kepalanya. "Ya, dan bodohnya aku baru membaca surat itu satu bulan yang lalu. Kepergian Queen telah menggoreskan luka yang begitu dalam hingga membuatku sangat terpuruk. Aku bahkan tidak berani melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan Queen karena rasa trauma itu pasti datang lagi padaku. Itulah alasannya aku baru membuka surat peninggalan darinya belum lama ini, Ma. Itu karena, sampai saat ini aku masih sangat mencintai Queen."
Reni lalu menatap Vansh. "Apa kau yakin masih bisa berkata seperti ini saat mengetahui tentang masa lalu yang pernah terjadi diantara kalian. Vansh, bagaimana jika ternyata Queen tidak sebaik yang kau pikirkan? Apa kau masih bisa mencintai putriku?" tanya Reni sambil menatap Vansh dengan tatapan nanar.
"Apa maksud Mama? Aku benar-benar tidak mengerti, Ma."
"Vansh, bagaimana jika ternyata Queen sudah melakukan kebohongan yang begitu besar untuk mendapatkanmu? Apa kau masih bisa berkata jika kau mencintainya? Sepertinya tidak Vansh."
"Mama, ada apa sebenarnya Ma?"
"Vansh, dulu saat kau sedang bersekolah di bangku SMA. Diam-diam ada seorang gadis remaja yang menyukaimu, mungkin awalnya hanya terlihat seperti sebuah cinta monyet, tapi sepertinya lebih dari itu."
Reni kemudian menarik nafas dalam-dalam lalu mengehembuskannya meskipun dadanya kini terasa begitu berat.
"Gadis yang menyukaimu itu, setiap hari mengirimkan kue cokelat untukmu. Namun, dia merasa rendah diri karena dia bukanlah berasal dari kalangan berada. Dia kemudian menitipkan kue itu pada Queen untuk memberikan kue itu padamu."
"Kue cokelat? Kue cokelat apa? Aku bahkan tidak mengingatnya?"
"Itu karena kau mengalami amnesia setelah kecelakaan parah yang pernah kau alami. Kue cokelat itu lalu Queen berikan padamu. Tapi sayangnya, Queen telah membuat kebohongan terbesar sepanjang hidupnya yang mengaku jika itu adalah kue buatannya. Putriku memang benar-benar bodoh!"
'Jadi selama ini kau sudah membohongiku, Queen?' gumam Vansh sambil menahan perasaan yang begitu berkecamuk. Rasa sakit dan hancur saat mendengar kisah tentang masa lalunya seakan begitu mencabik-cabik hatinya. Perlahan, dia pun menatap sekotak kue fudge brownies yang ada di atas meja.
'Kue cokelat? Apakah kue cokelat yang pernah kumakan dulu rasanya seperti kue cokelat ini?' gumam Vansh.
NOTE:
__ADS_1
Mampir juga ya ke karya bestie othor punya author paling kece Aisy Arbia, dijamin ceritanya keren and recommended banget deh