
Clarissa pun tersenyum membaca surat itu, dia lalu memandang Nathan dengan raut wajah haru, namun saat dia mulai mengangkat tangannya untuk memeluk Nathan. Nathan menggelengkan kepalanya kemudian menunjuk sesuatu di dalam komik tersebut. Clarissa pun melihat komik itu lagi, dia lalu membuka satu halaman lembar komik dan di bawah lembaran tersebut ada sebuah kotak cincin yang diletakkan di tengah lembaran buku yang sudah dilubangi untuk menaruh kotak cincin tersebut.
Clarissa kemudian mengambil kotak cincin itu lalu membukanya, tampak sebuah cincin berlian dengan berhiaskan batu diamond warna putih di tengahnya.
"Will you marry me?" tanya Nathan sambil menatap Clarissa dengan tatapan yang begitu dalam. Clarissa pun menganggukan kepalanya, perlahan butiran bening pun mulai menetes membasahi wajahnya.
"Sure," jawab Clarissa kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanannya sambil menangis dan menganggukkan kepalanya. Nathan kemudian mengambil cincin itu lalu memasangkannya di jari manis Clarissa, setelah itu dia memeluk tubuh Clarissa ke dalam dekapannya.
"Kenapa kau menangis?"
"Aku sangat bahagia, Kak," jawab Clarissa.
"Kau mau menunda pernikahan kita lagi?"
Clarissa kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mau menunda pernikahan kita lagi, aku ingin menikah secepatnya denganmu."
"Terimakasih Clarissa sayang, setelah pulang dari sini kita langsung mengurus pernikahan kita, dua bulan lagi kita akan menikah, seperti yang sudah direncanakan oleh orang tua kita. Kau mau kan?"
"Ya," jawab Clarissa sambil menganggukkan kepalanya, dia pun mengencangkan pelukannya pada Nathan sambil memejamkan kepalanya. Nathan kemudian membelai wajah Clarissa lalu mengecup bibir tipisnya.
"I love you."
"I love you too," balas Clarissa lalu menempelkan bibirnya di bibir Nathan dan mulai me*agut bibir itu.
🍒🍒🍒
❣️ Satu minggu kemudian ❣️
"Oughhhh Kak Nathan!" de*ah Clarissa saat Nathan mel*mat dan me*ngisap b*ah da*anya, mendengar de*ahan Clarrisa, Nathan kemudian menindih tubuh Clarrisa lalu memacu pi*ggul dan kakinya.
"Oughhh Clarissa. I love you!" balas Nathan saat melihat wajah Clarissa yang kini begitu pasrah dan terlihat sangat menggairahkan. Di saat de*ahan dan e*angan kian kencang, suara ponsel Nathan pun berbunyi. Awalnya, Nathan mengabaikan panggilan telepon itu, namun panggilan telepon itu kembali terdengar berulangkali.
"Kak Nathan, lebih baik kau angkat dulu ponselmu siapa tau penting," ujar Clarissa.
"Mengganggu saja," gerutu Nathan saat bangkit dari atas tubuh Clarissa.
"Papa," ucap Nathan. Dia kemudian mengangkat panggilan telepon itu.
[Ya, halo Pa. Ada apa?]
[Nathan, kau masih bersama Clarissa?]
[Ya, aku masih ada di Bandung bersama Clarissa, ada apa Pa?]
[Bisakah besok kau pulang? Malam ini Papa harus terbang ke Jepang, bisakah kau menggantikan posisi Papa di kantor selama beberapa hari?]
__ADS_1
[Apaaa? Tapi aku sedang menemani Clarissa Pa? Aku tidak tega meninggalkan Clarissa sendiri.]
[Nathan, tolong bantu Papa sekali ini saja. Clarissa juga pasti mengerti.]
[Baiklah Pa, besok aku pulang.]
[Terimakasih Nathan.]
Nathan kemudian menutup panggilan dari Leo sambil mendengus kesal. "Ada apa Kak?"
"Papa menyuruhku pulang besok untuk menggantikanku selama beberapa hari di kantor," jawab Nathan sambil menggerutu.
"Pulanglah, untuk saat ini ayahmu lebih membutuhkanmu, aku bisa menjaga diriku sendiri, Kak."
"Aku masih ingin bersamamu," jawab Nathan sambil memeluk tubuh polos Clarissa dan menciumi kepalanya.
"Kak Nathan, sebentar lagi kita menikah, kita bisa selalu bersama. Lebih baik kau pulang saja sekarang agar bisa beristirahat terlebih dulu, kalau kau pulang besok kau bisa kelelahan Kak. Mandilah terlebih dulu, lalu pulanglah. Setelah semua urusanmu selesai kau bisa menjemputku setelah itu kita bisa bersama-sama lagi sampai kita menikah."
"Terlalu berat."
"Kak Nathan!" rajuk Clarissa.
"Baik, baik, aku pulang sekarang sayang. Aku pulang sekarang!" sahut Nathan. Dia kemudian beranjak dari atas ranjang lalu masuk ke dalam kamar mandi diikuti oleh Clarissa yang berjalan di belakangnya. Kini des*han dan er*ngan pun kembali terdengar dari bilik kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut.
Beberapa saat kemudian, Nathan yang sudah terlihat rapi memeluk tubuh Clarissa yang sedang mengeringkan rambutnya.
Clarissa lalu membalikkan tubuhnya kemudian mengalungkan tangannya di leher Nathan.
"Ya, hati-hati Kak. Kabari aku jika kau sudah sampai di rumah."
"Ya, jaga dirimu baik-baik," jawab Nathan kemudian mengecup kening Clarissa. Clarissa lalu mengantar Nathan sampai ke pintu apartemen.
"I love you."
"Love you too."
Nathan lalu melangkahkan kakinya keluar dari apartemen tersebut. Namun saat dia melangkahkan kakinya, tiba-tiba dia membalikkan tubuhnya kembali.
"Clarissa."
"Ada apa Kak?"
"Clarissa, ingatlah kata-kataku, jika cuma dirimu satu-satunya wanita yang akan kusentuh, tidak ada wanita lain Clarissa."
Clarissa pun tersenyum mendengar perkataan Nathan. "Yes, i believe with you."
__ADS_1
Nathan pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan Clarissa menuju ke basemen apartemen, dia kemudian memasuki mobilnya dan mengendarai mobil itu dengan kecepatan yang tinggi.
Dua jam kemudian, mobil Nathan pun sudah keluar dari gerbang tol memasuki jalanan ibu kota. Nathan pun melihat ke arah arlojinya. "Oh, sudah pukul sepuluh malam, pantas saja sudah sedikit sepi," gumam Nathan saat mobilnya mulai keluar dari jalan utama. Tiba-tiba netranya tertuju pada sosok seorang wanita yang tampak sedang membela dirinya dari tiga orang laki-laki bertubuh kekar yang ada di sekitarnya.
"Sharen?" ucap Nathan.
Nathan kemudian meminggirkan mobilnya lalu menelpon seseorang. Dia kemudian bergegas keluar dari mobil itu sembari berteriak pada beberapa orang yang sedang mengganggu Sharen.
"HAI HENTIKAN DASAR PENGECUT! JANGAN HANYA BISA MENGGANGGU SEORANG WANITA!" teriak Nathan.
Tiga orang laki-laki tersebut beserta Sharen lalu mengalihkan pandangannya pada Nathan yang kini mendekat ke arah mereka.
"Jangan ikut campur urusan kami!"
"Tentu saja aku harus ikut campur karena wanita yang kau ganggu itu adalah temanku! Dan aku tidak akan membiarkan tangan kalian menyentuh temanku itu!" teriak Nathan.
"Nyalimu terlalu besar jika melawan kami bertiga! Apa kau mau kehilangan nyawamu sekarang juga hah!"
"Pikirkan terlebih dulu dengan siapa kau berbicara sebelum kau berani mengancamku!" teriak Nathan. Tak berselang lama, sebuah mobil Jeep pun berhenti tak jauh dari mereka. Beberapa orang dengan badan tak jauh kekar dengan tiga orang laki-laki yang sedang berbicara dengan Nathan pun turun dari Jeep tersebut.
"Urusi mereka!" perintah Nathan.
Namun saat anak buah Nathan mendekat ke arah mereka, tiga orang preman tersebut pun melarikan lari tunggang langgang meninggalkan mereka semua. Nathan pun hanya tersenyum kecut.
"Preman kampung saja mau melawanku," ejek Nathan sambil melirik pada anak buahnya yang kini tertawa terbahak-bahak.
"Terimakasih, kalian boleh pulang sekarang."
"Baik bos," jawab anak buah Nathan.
Mereka lalu menaiki Jeep mereka kembali, sedangkan Nathan mendekat ke arah Sharen yang sekarang masih berdiri ketakutan. Tubuhnya pun tampak gemetar dan wajahnya terlihat begitu pucat.
"Sharen, tenangkan dirimu. Sharen!" ucap Nathan. Sharen lalu menghembuskan nafas panjangnya.
"Kita duduk di sana dulu, akan kuambilkan minum untukmu."
Sharen pun menganggukkan kepalanya. Nathan lalu menuntunnya ke sebuah pos kamling yang ada di dekat mereka kemudian mengambil sebotol air mineral yang ada di mobilnya lalu memberikannya pada Sharen.
"Minumlah, lalu tenangkan dirimu."
"Terimakasih Nathan," jawab Sharen sambil meminum air mineral tersebut.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata yang berdiri tak jauh dari mereka tengah memandang keduanya dengan tatapan marah.
"Kurang ajar! Gara-gara laki-laki itu, semua rencanaku gagal!" teriak wanita tersebut sambil menahan deru nafas yang kini begitu tersengal-sengal menahan amarah yang ada di dalam dadanya. Tiba-tiba netranya tertuju pada sebuah kayu besar yang ada di dekatnya. Dia pun tersenyum menyeringai kemudian mengambil kayu tersebut lalu perlahan mendekat pada Nathan dan Sharen.
__ADS_1
BUGH BUGHHHH
Wanita itu lalu memukul kepala Nathan dan Sharen, mereka berdua yang mendapat serangan tiba-tiba pun tidak berdaya, kini tubuh keduanya pun tampak terkapar di pos kamling tersebut.