
Lamunan Maya kemudian buyar saat mendengar hembusan nafas kasar dari Reni. Dia kemudian melanjutkan kata-katanya kembali. "Dan sayangnya aku baru mengetahui kisah diantara kalian saat beberapa hari menjelang pernikahan Queen dan laki-laki itu. Saat tau kisah yang sebenarnya terjadi diantara kalian, aku sudah merasakan firasat yang tidak baik, dan firasatku ternyata benar. Queen meninggal di hari pernikahannya, ini semua akibat perbuatan yang dia lakukan sendiri, dia terlalu memaksakan keinginannya, karena itulah aku benar-benar meminta maaf padamu, meskipun aku tau ini semua sudah terlambat."
Reni kemudian menggenggam tangan Maya kembali. "Maya, maafkan aku baru mengatakan ini sekarang. Setelah Queen meninggal, aku begitu terpukul dan baru bisa mengumpulkan keberanian untuk mengatakan semua ini padamu sekarang. Dan, salah satu alasanku baru mengatakan semua ini padamu juga karena setelah kematian Queen, mantan suaminya juga sangat terpuruk. Bahkan keluarga mereka memutuskan untuk hidup di luar negeri selama satu tahun terakhir ini untuk menyembuhkan luka dan trauma yang dirasakan oleh laki-laki itu. Namun, beberapa hari yang lalu mantan suami Queen pulang ke Indonesia, itulah sebabnya aku menceritakan semua ini padamu, Maya. Aku berharap dengan menceritakan semua ini padamu, aku bisa memperbaiki keadaan atas semua kesalahan yang dilakukan oleh putriku, dan aku akan mempertemukan kalian berdua, mungkin hanya itu yang bisa kulakukan untuk menebus semua kesalahan Queen."
"Tante, dia pasti sangat mencintai, Queen. Jadi, tante tidak perlu melakukan semua itu."
"Tapi aku tidak yakin dia masih mencintai putriku jika tahu tentang semua kebenaran masa lalu diantara kalian."
"Tante, bolehkah aku melihat foto pernikahan Queen dan laki-laki itu?"
"Tentu saja, tante masih menyimpan foto pernikahan mereka," jawab Reni. Dia kemudian masuk ke dalam rumahnya lalu mengambil sebuah story book dan memberikannya pada Maya.
__ADS_1
"Itu foto-foto pernikahan mereka, saat itu Queen memang sudah terlihat sangat lemah," ucap Reni sambil memberikan sebuah story book pada Maya.
Maya lalu mengambil story book itu dan perlahan membukanya. Namun, baru saja dia membuka halaman pertama story book itu, hatinya kini terasa begitu tercabik-cabik saat melihat seorang lelaki yang tidak asing baginya sedang mengucapkan ijab qabul di samping Queen.
"Di.. Dia.. Dia?" tanya Maya dengan suara yang tercekat sambil menunjuk seorang lelaki di dalam foto tersebut.
"Ya, dia laki-laki yang kalian cintai dulu. Namanya Vansh, mungkin kau sedikit terkejut dengan perubahan pada bentuk wajahnya karena setelah kecelakaan itu, dia memang mengalami operasi plastik karena ada beberapa bagian struktur mukanya yang rusak. Jadi, mungkin jika kau bertemu dengannya saat ini, kau tidak mengenalinya jika dia adalah cinta masa lalumu, Maya."
'Tuan Dingin, tuan dingin ternyata adalah ksatriaku? Laki-laki yang selalu kurindukan selama bertahun-tahun lamanya. Laki-laki yang menyelamatkan aku saat kejadian kecelakaan tragis itu? Kecelakaan yang membuat dirinya kehilangan sebagian ingatannya dan merusak struktur wajahnya? Dan bodohnya aku dan pengecutnya diriku karena setelah kejadian itu aku hanya bisa berlari sambil membawa liontin miliknya yang terjatuh saat menyelamatkan aku? Oh Tuhan, apakah ini jawaban dari pertanyaanku atas suratan takdir yang harus kujalani? Lalu apakah pantas aku berharap karena kami sangatlah berbeda?' gumam Maya di dalam hati.
...***...
__ADS_1
Vansh tampak berdiri di balkon kamar Sharen sambil menatap sebuah surat yang ada di tangannya. Perlahan, dia pun membaca surat itu kembali. 'Queen, gumam Vansh.'
Kak Vansh, suamiku tersayang. Sebelumnya aku ingin minta maaf padamu terlebih dulu, Kak. Aku tahu, kau sangat mencintaiku dan kau juga tahu aku begitu mencintaimu. Bahkan amat sangat mencintaimu hingga cinta itu membuatku buta dan kehilangan akal sehatku.
Kak Vansh, sebenarnya aku tidaklah sebaik yang kau pikirkan karena aku telah menyimpan sebuah kebohongan besar. Bahkan, jika kau tahu kebohongan yang kulakukan padamu, aku tidak yakin kau masih bisa mencintaiku karena kebohongan ini sebenarnya adalah pondasi awal dari hubungan kita. Seharusnya sejak awal aku sadar, hubungan yang diawali dengan sebuah kebohongan tidak akan pernah berakhir dengan bahagia, dan mungkin inilah takdir yang harus kujalani, kita telah menjalani sebuah hubungan yang panjang, dan saat menjelang pernikahan kita, aku menderita penyakit yang mematikan seperti ini, sejak itu aku sadar. Aku telah melakukan kesalahan yang begitu besar, tapi sayangnya aku terlalu pengecut dan begitu penakut untuk mengatakan semua itu padamu.
Kak Vansh, saat aku sudah tiada. Tolong tanyakan kebenaran yang sesungguhnya pada Mama. Sebuah kebenaran akan rahasia yang selama ini kututupi darimu, dan saat kau tahu kebenaran itu, kau boleh membenciku, tapi aku minta, tolong tetap sisakan sedikit saja ruang di hatimu untukku.
^^^Queen^^^
Vansh kemudian menutup surat itu dengan hati yang begitu teriris. 'Aku harus pergi ke rumah Queen secepatnya, aku tidak bisa menunda ini lagi. Aku harus secepatnya tahu kebenaran dan rahasia apa yang sebenarnya telah Queen tutupi dariku? Apa ini ada hubungannya dengan masa lalu kami? Apakah ini ada hubungannya dengan kecelakaan tragis yang pernah kualami?' gumam Vansh. Dia kemudian mengusap wajahnya dengan kasar, lalu pergi dari kamar Sharen.
__ADS_1