Bed Friend

Bed Friend
Namaku Sachi


__ADS_3

Sementara Dea yang melihat kepergian Delia dan Shakila dengan begitu terburu-buru, kini merasa begitu cemas. Dia tampak berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya.


"Kenapa Mama Delia dan Kak Shakila tampak mencurigakan sekali? Mereka pergi begitu saja tanpa memberitahuku, seolah-olah mereka tidak ingin aku tahu kalau mereka pergi berdua," ujar Dea sambil mengerutkan keningnya.


"Apakah Mama Delia terpengaruh oleh omongan Kak Shakila, dan mulai curiga padaku setelah melihat hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kalau golongan darah kami yang berbeda? Oh tidak, ini benar-benar sangat berbahaya. Posisiku sangat tidak aman jika sampai Mama curiga padaku. Aku harus bertindak sesuatu agar posisiku aman di dalam rumah ini, dan tetap menjadi bagian dari keluarga mereka."


Kepala Dea rasanya seakan mau pecah saat memikirkan semua itu. Dia kini tampak memijit keningnya, sambil mengatur irama detak jantungnya yang berdegup begitu kencang saat memikirkan kalau harus menghadapi kenyataan pahit jika mereka tahu yang sebenarnya.


"Aku tidak bisa membayangkan jika sampai mereka tahu kalau aku bukan anak kandung dari Papa dan Mama. Ah, itu begitu menyeramkan bagiku. Sebaiknya untuk saat ini setidaknya aku harus bisa mengamankan posisiku. Dan satu-satunya cara adalah aku harus bisa menikah dengan Devano. Aku harus berfikir, ya aku harus berfikir bagaimana caranya agar aku bisa menikah dengan Devano secepatnya."


Dea kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, sambil memejamkan matanya. "Ayo berfikir Dea, ayo berfikir! Kalau tidak, aku bisa kembali hidup miskin dan hidup di panti asuhan kumuh itu," ujar Dea. Beberapa saat kemudian, dia pun membuka matanya disertai mata yang terlihat begitu berbinar.


"Sekarang aku tahu, aku tahu apa yang harus kulakukan," ucap Dea. Dia kemudian mengambil ponselnya, dan mengutak-atik ponsel itu lalu menempelkan ponsel itu di telinganya.


[Halo Oma Fitri.]


[Halo Sachi, ada apa Sayang?]


[Oma, bisakah aku menanyakan alamat Devano?]


[Alamat Devano? Ada apa Sachi? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan alamat dari Devano?]


[Tidak apa-apa, Oma. Bukankah Devano adalah tunanganku? Aku hanya ingin mengenalnya saja.]


[Oh bagus sekali Sachi. Setahu Oma, Devano tinggal di apartemen. Tapi oma tidak tahu alamat apartemen Devano.]


[Jadi aku tidak bisa bertemu dengan Devano? Padahal aku hanya berniat untuk mengenalnya saja.] ucap Dea disertai nada penuh kekecewaan.


'Astaga, sepertinya Sachi sudah mulai tertarik pada Devano. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini. Hari ini juga Sachi harus mengenal Devano. Aku harus berbuat sesuatu,' batin Fitri.


[Dea, apa. kau benar-benar ingin mengenal Devano?]


[Ya, tentu saja. Aku sangat ingin mengenalnya karena dialah calon suamiku. Terus terang saja, saat ini aku merasa begitu penasaran dengannya. Bukankah aku sudah dijodohkan dengan Devano, dan selama ini aku belum pernah bertemu dengannya, aku pikir mungkin dia sibuk. Jadi aku berinisiatif untuk berkenalan terlebih dulu dengannya.]


[Astaga, maafkan kami. Sebenarnya bukan itu alasannya Devano belum menemuimu. Tapi karena saat itu kami memberitahu keluarga Devano kalau kau sedang ada di luar negeri, dan akan memberitahu kalau kau sudah pulang.]

__ADS_1


[Oh, jadi mereka belum tahu kalau aku sudah tinggal bersama kalian kembali?]


[Iya Sachi, tolong maafkan kami kalau kami harus berbohong pada mereka. Kami hanya tidak ingin mereka berfikir kalau kami hanya memberikan harapan palsu.]


[Tidak apa-apa, Oma. Tenang saja. Lalu, sekarang bolehkah aku bertemu dengan Devano?]


[Oh tentu saja. Itu ide yang sangat bagus, Sachi. Oma akan mendukungmu untuk mengenal Devano terlebih dulu.]


[Iya Oma.]


[Kalau begitu, lebih baik kau pergi ke rumah orangtua Devano dan berkenalan dulu dengan kedua orang tuanya.]


[Pergi ke rumah orang tua Devano?]


[Iya, sebaiknya kau pergi kerumah mereka terlebih dulu. Nanti biar mereka yang menghubungi Devano agar pulang ke rumah dan menemuimu di rumah mereka.]


[Oh sepertinya itu ide yang bagus Oma.]


[Iya Sachi, sebentar oma kirimkan alamat rumahnya ya.]


Dea kemudian menutup panggilan teleponnya, beberapa saat kemudian sebuah pesan dari Oma Fitri pun masuk ke ponselnya. Dea tampak tersenyum menyeringai setelah melihat sebuah alamat yang dikirimkan oleh Oma Fitri.


"Lebih baik, sekarang aku berdandan terlebih dulu agar terlihat menarik dimata Devano. Aku ingin dia tertarik padaku, dan aku harap pertemuan ini akan menjadi pertemuan yang berkesan bagi kami berdua," ujar Dea.


Dia kemudian tampak sibuk memilih pakaian di dalam walk in closet. Setelah memilih pakaian yang menurutnya menarik. Dea lalu duduk di depan meja rias, dan mengoleskan make up tipis di wajahnya.


"Sempurna," ucap Dea saat melihat penampilannya saat ini yang tampil dengan make up minimalis serta mengenakan dress motif floral warna pink.


Dea kemudian keluar dari rumah itu, lalu minta diantar oleh seorang sopir pribadi keluarga mereka menuju ke rumah orang tua Devano.


***


Sementara itu Delia dan Shakila yang saat ini sedang dalam perjalanan pulang ke rumah, kini terlihat menunjukkan raut wajah yang tampak begitu bahagia.


"Mama bahagia kan?"

__ADS_1


"Tentu saja, Shakila. Mama sangat bahagia, rasa ini memang sangat jauh berbeda dibandingkan saat Mama bertemu dengan Dea. Perasaan di dalam hati mama, terasa begitu dalam hingga benar-benar merasuk ke dalam sanubari."


"Aku juga, Ma. Saat bertemu dengan Dea, aku tidak memiliki chemistry apapun. Tidak seperti saat aku bertemu dengan Luna."


"Karena Luna adalah Sachi yang sebenarnya."


"Iya Ma, Luna adalah Sachi yang sebenarnya."


"Lalu bagaimana dengan Dea?"


"Shakila, sebaiknya kita harus bisa mengendalikan diri terlebih dulu. Cukup kita berdua yang tahu tentang semua ini sampai hasil tes DNA itu keluar. Mama juga perlu waktu untuk menjelaskan kesalah pahaman ini, agar tidak ada yang tersakiti."


"Apa Mama yakin Dea tidak tersakiti?"


Delia pun terdiam, dia kemudian memejamkan matanya sambil berujar pelan. "Maafkan aku Dea, aku sudah begitu ceroboh. Tapi kenyataannya, kau memang bukanlah putriku, jadi kau harus kembali pada keluargamu, keluargamu yang sebenarnya. Karena kami bukanlah keluargamu."


***


Setengah jam berlalu, Dea sudah sampai di depan sebuah rumah mewah tiga lantai dengan halaman yang begitu luas.


"Jadi, ini rumah Devano? Wow sangat mewah, tidak kalah mewah dengan rumah milik Papa Dimas," ucap Dea sambil mengamati rumah mewah yang ada dihadapannya saat ini.


"Devano, kau memang benar-benar orang kaya. Dan aku tidak boleh melewatkan kesempatan ini. Aku harus bisa menikah dengan Devano," sambung Dea. Dia kemudian turun dari mobil lalu berjalan ke arah pintu rumah tersebut.


TETTT TETTTT


Pintu rumah mewah itu pun terbuka. Seorang pembantu rumah tangga, tampak berdiri di depan Dea sambil tersenyum.


"Ada yang bisa saya bantu?"


"Ya, tentu saja. Katakan pada Nyonya Viona kalau Sachi ingin bertemu dengannya."


"Sachi?"


"Ya, namaku Sachi."

__ADS_1


__ADS_2