Bed Friend

Bed Friend
Candu Bagiku


__ADS_3

Wanita itu kemudian melirik lagi ke arah ponselnya yang kini sudah berhenti berdering.


"Untuk apa? Untuk apa kau menghubungiku lagi Devano? Meskipun kuakui memang semua ini bukan sepenuhnya salahmu karena aku yang terlalu berharap lebih, aku tidak bisa menahan rasa cintaku padamu, hingga akhirnya aku jatuh ke dalam sebuah masalah yang tidak kutahu bagaimana pangkalnya."


Luna kemudian menghembuskan nafas panjangny lalu mengelus perutnya. "Anakku, maafkan aku. Maafkan mama jika kelak kau lahir kau tidak bisa mendapatkan kasih sayang dari keluarga yang utuh. Maafkan mama jika kau harus lahir di tengah keterbatasan. Namun, mama janji tetap akan selalu memberikan yang terbaik untukmu," ujar Luna.


TOK TOK TOK


Tiba-tiba ketukan pintu kamarnya pun terdengar. "Lunaaaa!" panggil seseorang dari balik pintu itu.


"Iya Ma, sebentar!" jawab Luna. Dia pun bangkit dari atas lantai lalu menyembunyikan test pack miliknya, baru kemudian berjalan ke arah pintu.


CEKLEK


pintu itu pun terbuka. Sesosok wanita paruh baya pun berdiri di balik pintu tersebut. "Luna, kau kenapa? Ayo makan malam, Nak!" ajak wanita itu.


Luna kemudian menganggukan kepalanya lalu mengikuti langkah wanita tersebut ke arah meja makan. Mereka lalu duduk di meja makan.


"Luna bagaimana pekerjaan barumu?"


"Jauh lebih baik dibandingkan dengan pekerjaan sebelumnya, Ma. Setidaknya Tuan Kenzo jauh lebih baik dibandingkan dengan Tuan Devano," jawab Luna sambil menahan perih di hatinya saat mengucapkan nama Devano.

__ADS_1


Sakit, hanya sakit teramat dalam yang dia rasakan saat ini. Apalagi saat ini Luna baru saja mendapatkan pekerjaan baru namun masalah baru sudah harus datang menimpanya kembali.


'Aku tidak tahu bagaimana jika Pak Kenzo tahu jika aku sedang hamil. Ah, mungkin dia akan langsung memecatku. Tapi untuk saat ini aku belum bisa memberi tahu Pak Kenzo jika aku sedang hamil, karena saat ini aku sedang benar-benar membutuhkan pekerjaan ini untuk menghidupi kami semua, termasuk anak yang ada di dalam kandunganku,' batin Luna.


"Luna!" panggil ibunya yang membuat Luna tersadar dari lamunannya.


"Ohhh.., emh iya Ma. Ada apa?"


"Kau kenapa melamun? Apa sebenarnya yang mengganggu pikiranmu? Apakah ada hubungannya dengan pekerjaanmu? Atau dengan pekerjaan lamamu?"


"Emh, tidak apa-apa Ma. Aku hanya sedang merasa lelah."


"Oh kalau begitu, cepat habiskan makan malammu lalu beristirahatlah! Pekerjaanmu pasti sangat menguras tenaga kan?"


Dia kemudian melanjutkan makan malamnya, meskipun berbagai pikirkan kini menari di dalam benaknya.


'Sebenarnya aku masih merasa bingung dengan apa yang harus kulakukan. Aku tahu Devano saat ini sudah bertunangan dengan wanita lain, tapi bukankah aku juga sedang mengandung anak dari Devano? Bukankah Devano berhak tahu akan semua ini dan bertanggung jawab atas yang telah dia perbuat padaku?' batin Luna sambil memejamkan matanya. Dia kemudian menundukkan kepalanya, menyembunyikan air mata yang kini mulai jatuh membasahi pipinya, mengingat sebuah nama yang terasa begitu menyesakkan dadanya, Devano.


***


"Luna, kenapa kau tiba-tiba mengancamku seperti ini? Apa kau sudah lupa dengan kata-kata yang pernah kuucapkan? Just sexx without love! Just sexx no love!" ucap Devano saat melihat layar ponselnya.

__ADS_1


"Devano!"


TOK TOK TOK


"Devano!" panggil sebuah suara yang membuyarkan lamunan Devano yang saat ini masih berdiri di balkon kamar.


"Iya, Ma! Sebentar," jawab Devano. Dia kemudian berjalan ke arah pintu lalu membuka pintu tersebut.


"Devano, apa mama mengganggumu?'


"Tidak, ada apa Ma?"


"Besok kau pulang ke Jakarta?"


"Ya, banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan."


"Kau sudah tidak berhubungan dengan sekretaris miskin itu lagi kan?"


"Sekretaris miskin? Luna maksud Mama?"


"Siapa lagi Devano, hanya dia wanita tidak tahu diri yang berani mendekati laki-laki sepertimu. Benar-benar wanita miskin yang tidak tahu diri!" gerutu Viona ibu dari Devano.

__ADS_1


"Mama, lebih baik kita tidak usah membicarakan dia. Bukankah Mama tahu, jika aku sedang dekat dengan seorang wanita aku tidak pernah menggunakan perasaanku? Aku belum pernah jatuh cinta, Ma."


"Iya Devano, Mama tahu. Mama tahu jika kau hanya menginginkan kepuasan dari wanita-wanita itu kan? Kau memang sangat menyebalkan, Devano!" gerutu Viona


__ADS_2