Bed Friend

Bed Friend
Munafik


__ADS_3

"Sharen, kenapa kau berbicara seperti itu, Nak?" tanya Ghea disertai dengan tatapan mata yang begitu sendu.


"Apa kau tidak dengar yang kukatakan tadi? Cepat pergi dari sini!"


"Tapi aku ibu kandungmu, Sharen."


"Apa kau bilang? Ibu? Ibu mana yang tega menelantarkan anaknya sendiri?"


"Mama melakukan semua itu karena mama sedang di penjara, Sharen. Mama tidak pernah berniat menelantarkanmu, keadaan lah yang membuat kita terpisah."


"Jika kau tidak pernah menelantarkanku, setelah kau keluar dari penjara seharusnya kau mencariku, tapi apa kau pernah mencariku? Lalu bagaimana dengan keluargamu? Apa mereka pernah menemuiku seperti yang Mama Inara lakukan? Tidak kan? Lalu setelah dewasa kau datang begitu saja padaku dan memintaku untuk mengakuimu? Memangnya kau siapa?"


"Tapi bagaimanapun juga aku adalah ibu kandungmu, selama sembilan bulan kau ada di dalam kandunganku, Sharen. Aku juga yang sudah melahirkanmu."


"Baik, aku ucapkan terimakasih banyak, aku akan tetap mengakuimu sebagai ibu kandungku tapi jangan pernah berharap lebih dari itu. Tolong kau pergi dari rumah ini sekarang juga!"


"Tapi Sharen, mama masih ingin bersamamu. Mama merindukanmu, Nak."


"Kenapa sejak dulu kau tidak pernah bilang rindu padaku? Kau juga sudah meninggalkan Papa Abimana begitu saja kan? Istri macam apa yang sudah meninggalkan suaminya yang sedang dalam keadaan terpuruk setelah semua yang Papa Abimana lakukan padamu!"


"Itu karena saat itu mama masih muda dan kondisi emosional mama belum stabil. Saat itu hidup kami berubah begitu drastis, kondisi kejiwaan mama juga sedikit terguncang bahkan sampai mendapatkan perawatan di rumah sakit jiwa."


"Lebih tepatnya pura-pura gila, Sharen. Dia berpura-pura gila agar tidak dipenjara, tapi untungnya Amanda bisa membongkar kebohongan yang Ghea lakukan."


"TUTUP MULUTMU, ABIMANA! Sharen, tolong jangan mau percaya kata-kata papamu. Orang-orang itu, sengaja memojokkanku agar terlihat buruk di matamu, mereka sengaja melakukan itu agar kau membenciku."

__ADS_1


"Heh lalu apa untungnya mereka melakukan semua itu, Ghea. Sharen sudah dewasa, aku yakin dia pasti bisa menilai mana yang menurut dia baik dan mana yang menurut dia buruk."


"Dan dia memiliki pemikiran buruk padaku itu pasti karena kalian. Termasuk juga karenamu kan?" ujar Ghea sambil memelototkan matanya pada Inara.


"Aku?" tanya Inara.


"Ya, karena kau! Bukankah selama ini kau sering mengunjungi Sharen? Kau dan Amanda pasti sudah mempengaruhi Sharen untuk membenciku! Iya kan!"


"Aku tidak pernah melakukan semua itu Ghea, bahkan aku tidak pernah membicarakan tentangmu dan Abimana selama kalian masih ada di dalam tahanan."


"JANGAN BOHONG! DASAR WANITA MUNAFIK!" bentak Ghea. Mendengar bentakkan Ghea, Abimana pun mendekat ke arahnya.


PLAK PLAK PLAK


"Jangan pernah kau membentak istriku lagi karena dia bukanlah wanita munafik seperti dirimu! Lebih baik kau cepat pergi dari sini atau aku tidak akan segan-segan untuk menghabisimu sekarang juga! CEPAT PERGI DARI SINI!!"


Namun Ghea hanya memandang Inara dengan tatapan tajam. "Ambil ini tapi tolong jangan ganggu lagi keluargaku, ini kan yang kau mau?" ucap Inara sambil memberikan satu lembar cek berisi nominal seratus juta.


"Itu cukup kan? Tolong jangan ganggu lagi keluargaku, atau aku bisa berbuat buruk padamu, aku masih memiliki banyak akses di kepolisian, Ghea," ucap Inara sambil tersenyum kecut.


"Jadi kau mengancamku?"


"Lebih tepatnya memberi peringatan padamu. Bagaimana? Itu cukup kan? Tapi tolong jangan ganggu kami lagi."


"Baiklah."

__ADS_1


"Ingat kata-kataku, aku memberikan ini untuk yang pertama dan terakhir, apa kau mengerti? Kalau tidak peringatanku masih berlaku padamu, kau bisa kujebloskan lagi ke penjara."


"Baik."


"Deal, sekarang pergilah."


Ghea kemudian menganggukan kepalanya lalu berjalan menuju gerbang rumah itu. Sementara Inara kembali masuk ke dalam rumahnya.


"Inara, untuk apa kau masih bersikap baik padanya, apa kau tidak mendengarkan apa yang dia katakan padamu?"


"Benar apa yang dikatakan papa, ma. Kenapa mama masih mau bersikap baik pada wanita seperti itu? Aku saja sangat kesal waktu dia menuduh mama yang tidak-tidak!"


"Aku hanya kasihan melihat Ghea, di masa tuanya dia tidak merasakan kasih sayang dari siapapun, hidup di dalam penjara itu bukanlah suatu hal yang mudah, apalagi dia seorang perempuan. Kau juga mengalami sendiri kan Abimana bagaimana kerasnya kehidupan di dalam penjara?"


"Itu semua terjadi karena kesalahannya sendiri, Inara. Jika saja dia tidak egois, setelah dia keluar dari penjara dia pasti bisa berkumpul dengan anak dan suaminya, tapi kau tahu sendiri kan? Dia bahkan langsung menceraikanku saat aku baru saja masuk ke dalam penjara dan tidak mau mengakui Sharen karena aku dan mama sudah jatuh miskin."


"Ya, aku tahu itu. Tapi kalian tenang saja, dia tidak akan menggangu kita lagi karena dia sudah mendapatkan apa yang dia inginkan."


"Apa maksudmu, Inara?"


"Kau pasti tahu jawabannya, Abimana. Bukankah kau sangat mengenal Ghea?"


"Astaga, jadi dia sebenarnya menginginkan itu?"


Inara pun mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


"Benar-benar wanita munafik!"


__ADS_2