
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Di dalam sebuah ruang perawatan rumah sakit, tampak seorang wanita yang tidur di atas brankar perlahan membuka matanya. Dengan begitu berhati-hati, dia kemudian melihat ke arah sekeliling ruangan itu.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sosok wanita paruh baya yang sedang tidur di tempat tidur khusus penunggu pasien yang ada di ruang perawatan tersebut. Rasa sedih merasuk ke dalam hati wanita muda itu, dia kemudian meneteskan air matanya sambil berujar pelan "Mama, Mama Olivia."
Tetes demi tetes air mata mulai membasahi wajah cantik wanita muda itu. "Maafkan aku ma, maaf aku sudah merepotkan mama seperti ini. Aku tahu mama pasti lelah menungguku detik demi detik di rumah sakit ini. Maafkan aku kalau aku harus berpura-pura seperti ini. Sebenarnya aku sudah sadar sejak tadi pagi, saat Zack mengunjungi ruangan ini. Saat itu, dia sedang bertengkar dengan seseorang. Entah mengapa, saat mendengar suara teriakan Zack, ketakutanku rasanya begitu merasuk ke dalam hatiku. Entah kenapa aku begitu trauma mendengar teriakan itu, hingga aku akhirnya tersadar."
Laurie kemudian menghapus air matanya. "Mungkin aku begitu takut padanya, ya aku memang sangat takut pada Zack. Aku bahkan sangat membencinya, aku benci apapun yang ada pada diri Zack. Itulah alasannya, aku melakukan semua ini. Aku ingin hidup tenang, walau sebentar saja. Aku ingin hidup tanpa kehadiran Zack, meskipun saat ini aku harus berpura-pura, tapi rasanya sangat nyaman. Aku membencinya, bahkan hanya merasakan hembusan nafasnya saja aku pun merasa enggan."
'Tolong maafkan aku, Ma. Maaf kalau aku egois, dan mama menjadi korban dari keegoisanku. Mama, maaf jika caraku terlihat begitu pengecut, meminta izin padamu saat kau sedang tertidur seperti ini. Mama, bolehkah aku berpura-pura untuk tetap seperti ini? Karena hanya dengan berpura-pura aku bisa merasakan kebahagiaanku. Mama sekali lagi tolong maafkan aku,' batin Laurie sambil terisak. Dia kemudian bergegas menghapus air matanya sebelum Olivia menyadari kalau dia sudah.
Saat mulai merebahkan tubuhnya, tiba-tiba dia teringat seseorang. Teringat sebuah belaian tangan lembut yang menghapus air matanya, tangan lembut dari seorang laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai Alvaro.
__ADS_1
"Alvaro." Laurie kemudian berujar pelan. "Ya, Alvaro! Laki-laki itu, dokter yang merawatku yang bernama Alvaro. Sepertinya dia laki-laki yang baik dan tidak bermaksud jahat padaku. Apakah aku bisa mempercayai laki-laki itu?" ujar laurie.
"Apakah aku bisa mempercayai laki-laki yang bernama Alvaro untuk bisa menyembunyikan rahasia ini? Dia dokterku, dia yang merawatku dan tidak mungkin kalau aku selamanya menyembunyikan kebohongan ini pada dirinya. Lagipula, suatu saat nanti dia pasti juga akan curiga, aku tidak mungkin terus-menerus membohonginya. Ya, mungkin aku harus mempertimbangkan untuk jujur pada Alvaro kalau sebenarnya aku sudah sadar. Mungkin saja Alvaro bisa membantuku untuk bisa lepas dari jerat Zack, suamiku. Ya, mungkin saja dia bisa bekerja sama denganku, semoga saja seperti itu," ujar Laurie lirih, kemudian memejamkan matanya kembali.
Sementara Alvaro yang saat ini sedang berdiri di balkon kamar sambil menatap bintang tampak tersenyum. "Laurie, nama yang begitu indah. Seindah pemilik nama itu. Kuakui aku memang baru pernah bertemu dengan wanita secantik Laurie, dia memang pantas untuk dikagumi, dan dicintai dengan begitu dalam, sama seperti yang dilakukan oleh suaminya Zack."
Alvaro kemudian tersenyum kecut mengingat sikap kasar Zack. "Sayangnya cinta yang begitu besar dari Zack membuatmu merasa menderita kan? Aku yakin, selama kau hidup dengannya kau belum pernah merasa kebahagiaan. Tapi, ini sudah menjadi takdimu Laurie. Jika aku diberi kesempatan untuk bisa menyelamatkanmu dari hidupmu yang penuh dengan tekanan, mungkin aku akan melakukan itu. Tapi siapa aku? Aku tidak berhak apapun atas hidupmu. Aku bukanlah siapa-siapa bagimu, aku hanyalah seorang dokter yang merawatmu sampai kau sembuh, sampai kau bisa membuka matamu, dan sadar dari tidurmu."
"Ah, kenapa aku tiba-tiba memiliki pikiran seperti ini? Aku tidak pantas memiliki pikiran seperti ini," ujar Alvaro kembali. Dia kemudian masuk ke dalam kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
"Kenapa rasanya aku ingin malam ini cepat berlalu, dan berganti esok pagi agar aku bisa bertemu dengan Laurie? Astaga kenapa aku jadi seperti ini?" ujar Alvaro sembari menutup matanya.
__ADS_1
***
Keesokan harinya, Nala tampak menghentikan mobilnya di depan sebuah rumah mewah. Sekitar setengah jam lamanya, dia ada di depan rumah tersebut, hingga tiba-tiba sebuah mobil keluar dari rumah itu.
"Mobil yang baru saja keluar berbeda dengan mobil tadi malam. Mobil yang baru saja keluar, mobil mewah yang memang layak dipakai oleh orang-orang seperti Zack. Ah, lebih baik kuikuti saja mobil itu." Dia kemudian mengikuti sebuah mobil porsche warna hitam yang baru saja keluar dari rumah tersebut.
Mobil itu kemudian tampak berjalan menuju ke arah rumah sakit tempat Laurie dirawat. Namun, saat berjalan di sebuah jalan yang agak sepi, tiba-tiba Nala mendahului mobil itu, dan dengan sengaja menyerempet mobil milik Zack.
Setelah berhasil menyerempet mobil itu, Nala kemudian melajukan mobilnya dengan begitu santainya. Hingga, tiba-tiba Zack mendahului mobilnya, dan mencegat mobil Nala dengan menaruh mobilnya di depan mobil milik Nala. Dia kemudian keluar dari mobilnya lalu menggebrak kap mobil milik Nala.
"HAI KELUAR KAU! DASAR BODOH!"
__ADS_1