
Alvaro kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat seorang laki-laki yang tampak berdiri di ambang pintu. Laki-laki itu tampak begitu garang menatapnya disertai dengan tatapan mata yang begitu tajam.
"Siapa kau? Berani-beraninya kau menatap istriku seperti itu?"
"Selamat pagi, Tuan Zack."
"Cepat katakan padaku, apa urusanmu? Siapa kau sebenarnya? Lancang sekali kau ada di ruang perawatan milik istriku?"
"Tuan Zack, perkenalkan saya Alvaro. Saya yang akan menangani istri anda selama di rumah sakit ini."
"Cih! Aku tidak membutuhkan bantuanmu karena sebentar lagi aku akan memindahkan istriku ke rumah sakit lain di luar negeri yang jauh lebih baik dan akan ditangani oleh dokter yang jauh lebih berkompeten dibandingkan yang ada di sini!"
"Tapi Tuan tidak semudah itu membawa pasien yang sedang mengalami koma, harus ada prosedur tertentu yang dijalani oleh Nyonya Laurie."
"Aku tidak peduli! Aku hanya ingin Laurie dirawat sebaik mungkin di salah satu rumah rumah sakit terbaik yang ada di dunia."
"Tapi Tuan, saat ini istri ada sedang dalam penanganan saya. Tidak bisa semudah itu Tuan, ada prosedur yang harus dijalani seperti yang saya katakan tadi."
"Hei berani sekali kau membantahku! Memangnya siapa kau?"
"Ingat kau hanyalah seorang dokter biasa yang tidak memiliki martabat apapun di depanku! Kau hanyalah makhluk lemah yang bisa kuinjak-injak kapanpun kumau!"
Mendengar perkataan Zack emosi Alvaro, sebenarnya sedikit tersulut, namun dia mencoba untuk tetap tenang, karena sudah tahu siapa yang sedang dia hadapi. Dan, juga demi Laurie. Demi Laurie? Ya, Alvaro memang merasa kasihan saat melihat orang tua Laurie, dan entah kenapa dia ingin merawat Laurie, dan tentunya melihat wajah cantiknya yang bagaikan bidadari. Alvaro kemudian mengambil nafas lalu menghembuskannya, untuk mengendalikan emosi yang kini merasuk ke dalam hatinya.
__ADS_1
"Tuan, maafkan saya. Saya tidak bermaksud lancang pada anda tapi memang untuk pasien yang sedang mengalami koma seperti Nyonya Laurie harus benar-benar mendapatkan penanganan khusus dan tidak bisa dipindahkan begitu saja. Apalagi dipindahkan ke luar negeri yang memerlukan perjalanan yang yang relatif lama, itu sangat berbahaya bagi kondisi kesehatan Nyonya Lauri."
"Tidak usah mengajariku dasar bocah ingusan! Kau tidak perlu banyak alasan untuk mempertahankan istriku agar tetap berada di rumah sakit ini! Aku tahu kau bertindak seperti ini pasti diperintahkan oleh mertuaku kan? Mereka yang sebenarnya ingin agar Laurie di dirawat di rumah sakit ini kan?"
"Tuan, tanpa Om Kenan dan Tante Olivia minta padaku, aku pasti akan mempertahankan Nyonya Laurie agar tetap berada di sini. Tuan tolong percaya padaku. Saya pasti akan memberikan perawatan yang terbaik bagi Laurie, anda tidak perlu khawatir."
"Heiii, apa katamu tadi? Om Kenan dan Tante Olivia? Jadi kau sudah mengenal mereka?"
"Iya, sejak dulu hubungan keluarga kami memang sudah dekat dan saya diminta oleh mama saya untuk menangani Laurie agar Tante Olivia dan Om Kenan merasa lebih nyaman kalau saya yang menangani putrinya."
"Oh jadi begitu permainan kalian? Itu permainan kalian kan agar Laurie tetap dirawat di rumah sakit ini? Kalian memang benar-benar brengsekk! Apa kalian sudah lupa siapa yang kalian hadapi?"
"Maaf tapi demi kebaikan kondisi Laurie, memang sebaiknya dia dirawat di rumah sakit ini, Tuan."
Alvaro kemudian tersenyum. "Kenapa anda bisa bicara seperti itu? Sebaiknya anda tidak berasumsi terlebih dulu, Tuan. Bolehkah saya membuat penawaran dengan ada penawaran?"
"Penawaran apa? Berani sekali kau berkata seperti itu padaku? Berani-beraninya kau menentang orang sepertiku, hah? Apa kau tidak tahu siapa diriku yang sebenarnya? Jangan-jangan kau hanya tau namaku tapi tidak tahu jati diriku."
"Sekali lagi, maafkan saya, Tuan. Saya tahu siapa anda, saya hanya ingin menangani Laurie sebagai pasien saya. Saya berjanji pada anda, saya akan berusaha semaksimal saya untuk menangani Nyonya Laurie."
"Tapi aku butuh kepastian."
"Maaf Tuan, ini masalahnya nyawa dan saya tidak bisa memberikan kepastian apapun. Karena nyawa manusia ada di tangan Tuhan."
__ADS_1
"Jadi kau mengajariku agar percaya pada Tuhan?"
"Tuan, bukankah sudah sepantasnya setiap insan manusia percaya pada Tuhan? Apakah selama ini ada tidak percaya pada Tuhan?"
Mendengar perkataan Alvaro hati Zack pun terasa terbakar. "Jangan sebut nama Tuhan di depanku! Berani sekali kau mengajariku seperti itu anak kecil!Apa kau mau kehilangan nyawamu detik ini juga? Dasar brengsekk!"
"Tidak Tuan Zack, saya tidak bermaksud seperti itu. Bukankah tadi saya sedang memberikan penawaran pada anda?"
"Aku tidak butuh penawaranmu!"
Tiba-tiba ponsel Zack pun berbunyi. Zack kemudian mengangkat panggilan telepon itu, sedangkan Alvaro melanjutkan kembali memeriksa keadaan Laurie, namun setelah mengangkat panggilan itu wajah Zack pun berubah.
Dia terdengar memarahi anak buahnya yang ada di ujung sambungan telepon, dengan begitu banyak umpatan kasar. Alvaro hanya tersenyum kecut mendengar perkataan Zack karena dia sudah menduga sebelumnya kalau Laurie tidak akan semudah itu dipindahkan ke rumah sakit yang ada di luar negeri. Apalagi mengingat kondisi Laurie saat ini, benar-benar sangat tidak memungkinkan.
Cukup lama Zack meluapkan kemarahannya di ruangan itu. Setelah rasa kesalnya sedikit reda, dia kemudian berjalan mendekat kearah Alvaro.
"Hai dokter ingusan! Penawaran apa yang kau tawarkan padaku?" tanya Zack sambil menatapnya dengan tatapan tajam.
***
Sementara itu seorang wanita cantik tampak berjalan dengan begitu lesu dari pintu kedatangan luar negeri. Dia kemudian berjalan menghampiri seorang laki-laki yang sudah menunggunya. Lalu memeluk laki-laki itu.
"Apa kabar, Nathan?"
__ADS_1