Bed Friend

Bed Friend
Lagi, dan Lagi


__ADS_3

Vallen kemudian mengambil ponsel yang ada di saku snellinya, lalu mengotak-atik ponsel tersebut kemudian menempelkan di telinganya.


[Halo Cleo.]


[Halo Ma, ada apa?]


[Bisakah Mama minta tolong padamu?]


[Oh tentu saja Cleo yang baik hati, tidak sombong, istri dari Kenzo yang ngegemesin akan selalu menolong Mamaku yang cerewet ini. Memangnya Mama mau minta tolong apa? Asal jangan minta tolong carikan jodoh lagi, aku pasti bisa Ma.]


[Sembarangan kau, dasar anak tidak tahu diri!]


[Becanda Ma, just kidding. Just kidding, biar mama nggak cepet tua, biar ga cepet keriput.]


[Cleo, kau benar-benar anak yang menyebalkan, mama nyesel telepon sama kamu!]


[Ya udah kalau nyesel, aku tutup teleponnya ya, Ma.]


[Iya, iya, iya Cleo. Cleo sayang jangan tutup teleponnya. Mama mau minta tolong sama kamu.]


[Memangnya Mama mau minta tolong apa sih, dari tadi ribet banget.]


[Bukannya dari tadi kamu yang bikin ribet kaya.]


[Ya, udah maaf. Ma, sekarang katakan padaku apa yang mau Mama perintahkan! Mama mau minta tolong apa?]


[Begini Cleo, saat ini Mama sedang menemani teman mama, Tante Olivia di rumah sakit.]


[Terus, apa hubungan denganku Ma? Sepertinya aku juga tidak mengenal Tante Olivia. Siapa itu Tante Olivia?]


[Dia itu teman lama mama, sepupu dari Tante Aini.]


[Oh, sepupu mantan pacar Papa.]


[CLEOOOOO!!!]


[Iya, iya, Ma. Maaf. Terus Mama mau minta tolong apa?]


[Begini Cleo, setengah jam lagi Alvaro sampai di Bandara, tolong kau jemput ya. Mama sedang sibuk menemani Tante Olivia.]


[Mama kenapa nggak ngomong dari tadi sih? Rumah kita ke Bandara kan jauh? Mepet banget nih. Mana nanti pasti macet lagi, Alvaro pasti ngomel-ngomel.]


[Cleo, Mama juga ga tau situasinya bakalan gini. Mama aja baru ketemu Tante Olivia. Kamu sebagai anak, ngertiin dikit dong, sekali-kali patuh gitu sama orang tua nyolot mulu.]


[Iya, iya, iya. Aku berangkat Ma.]


[Udah cepetan sana, kamu tahu kan sifat Alvaro.]


[Iya Ma.]

__ADS_1


Cleo kemudian menutup sambungan teleponnya, lalu mengambil tas yang ada di dalam kamar dan keluar dari rumah tersebut untuk menjemput Alvaro.


Jauhnya letak bandara dari rumah Cleo, serta padatnya lalu lintas membuat perjalanannya menjadi sedikit terhambat. Hampir satu jam lamanya, Cleo baru sampai di Bandara tersebut.


Setelah dia memarkirkan mobilnya, Cleo kemudian berjalan ke arah pintu kedatangan dari luar negeri dengan begitu tergesa-gesa. Dan, benar saja, saat Cleo baru menapakkan kakinya di pintu kedatangan tersebut, tampak didepannya sosok tampan yang sangat mirip Firman, dengan tinggi badan 180 cm, sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Cleo pun hanya meringis sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal


"Kak Cleo, kenapa lama sekali? Jangan-jangan kau lupa menjemputku?" sungut laki-laki tampan itu.


"Maafkan aku Al, mama baru saja memberitahuku. Tadinya mama yang berniat menjemputmu, tapi tiba-tiba mama ada urusan mendadak. Jadi, dia menyuruhku dan saat itu waktunya sudah sangat mepet. Maaf kalau aku telat Al," jawab Cleo.


"Baiklah tidak apa-apa tapi Kak Cleo. Kau tahu kan aku orang yang sangat malas menunggu."


"Ya aku tahu, maafkan aku jawab," jawab Cleo.


"Kalau begitu kita pulang sekarang, Kak. Aku sudah ingin istirahat di rumah. Aku sudah sudah rindu suasana rumah kita."


"Baik adikku tersayang, ayo kita pulang sekarang. Kamu yang nyetir ya, aku lelah mau tidur siang."


"Ada-ada saja."


"Al, kau harus paham, aku kan lelah mengurus Shane. Mengurus balita itu bukan hal yang mudah."


"Cukup Kak, ayo kita pulang!" ujar Alvaro sambil berjalan meninggalkan Cleo begitu saja, lalu masuk ke mobil mereka. Alvaro kemudian mengemudikan mobil itu perlahan, keluar dari komplek bandara.


"Al apa kau mau mendengar gosip?"


"Itu artis yang namamya Rain, mau nikah sama cewek keturunan Turki, namanya Romlah. Istrinya lulusan Al-Azhar, loh. Keren banget, artis bisa nikah sama ukhti sholehah."


"Ga penting!"


"Lesti Kejora sama Rizky Billar."


"Siapa mereka?"


"Baiklah, kalau begitu Ayu Dewi?"


"Kak, aku ga kenal mereka Kak."


"Oh baiklah kalu gitu yang kamu kenal aja ya, Al. LUNAAAAA! HAHAHHAHAHA... "


DEG


'Luna?' batin Alvano di dalam hatinya, menahan perasaan yang begitu bergemuruh saat mendengar nama itu disebut.


"Al, kau masih ingat Luna kan? Teman masa kecilmu sampai kalian SMA, yang pemalu itu. Dulu kau sering memintaku untuk mengantarmu ke rumah Luna kan? Untuk mengerjakan tugas sekolah kalian. Beberapa waktu yang lalu teman masa kecilmu itu, Luna bekerja di kantor suamiku, di kantor Kenzo."


Mendengar nama Luna kembali, mata Alvaro pun terbelalak. Jantung Alvaro pun semakin berdegup dengan kencang. Tiba-tiba telapak tangannya pun terasa basah karena degup jantungnya yang kini begitu kencang. Ada semburat kebahagiaan di dalam hatinya, tapi juga rasa sedih yang kini menyatu menjadi satu.


"Luna," ucap Alvaro lirih. Tanpa Cleo sadari sebuah senyum tipis pun tersungging di bibir Alvaro.

__ADS_1


"Yah beberapa waktu yang lalu, Luna memang bekerja di kantor Kenzo. Tapi hanya sebentar, mungkin cuma satu atau dua bulan saja. Karena setelah itu, Luna mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai sekretaris Kenzo."


"Mengundurkan diri? Yang benar saja? Seperti orang bodoh mengundurkan diri dari perusahaan besar."


"Hahahahahaha...."


"Kenapa kau malah tertawa Kak? Bukankah yang kukatakan itu benar? Mengundurkan diri dari perusahaan besar seperti milik Kak Kenzo, itu sungguh perbuatan bodoh."


"Tidak bodoh Al, karena memang dia sudah tidak pantas bekerja."


"Tidak pantas bekerja? Apa maksudmu?"


"Karena Luna sudah menikah dengan salah seorang pemilik perusahaan rekanan dari Kenzo."


"Apa menikah?"


"Ya, saat ini Luna sudah menikah dengan laki-laki yang bernama Devano. Luna juga sedang mengandung, usia kandungannya sekitar dua atau tiga bulan."


Perasaan Alvaro pun begitu hancur mendengar perkataan Cleo. Dia kemudian mengemudikan mobil itu dengan sangat kencang.


"Awwww Alvaro, kau mengagetkanku! Kau kenapa Al?"


"Tidak apa-apa aku cuma mengantuk, dan lelah. Aku hanya ingin cepat sampai ke rumah Kak."


"Baiklah, terserah kau saja."


Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah. Saat baru saja turun dari mobil, tiba-tiba Cleo dan Alvaro dikejutkan oleh sebuah suara yang menyapanya.


"Selamat sore Al, Selamat sore Cleo."


Mereka berdua kemudian membalikkan badannya ke arah sumber suara, dan melihat Luna yang berdiri di balik pagar pembatasan rumah mereka.


"Hai, Luna!" sapa Cleo.


"Luna?" ucap Alvaro sambil mengerutkan keningnya, kemudian melihat Cleo dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Lama tidak berjumpa, Al."


"Oh iya, Al. Luna adalah tetangga kita," ujar Cleo.


'ASTAGA! TIDAK!' batin Alvaro. Masih belum hilang rasa terkejutnya, tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah Luna. Lalu, sosok laki-laki keluar dari mobil itu, kemudian berjalan ke arah Luna, dan memeluk pinggangnya.


" Selamat sore, Sayang," kata laki-laki itu sambil mengecup pelipis Luna.


'Pada akhirnya, aku harus menjauhimu lagi, dan lagi, bukan karena kau menolakku seperti beberapa tahun yang lalu, tapi karena aku tidak pernah menjadi pemeran utama dalam bukumu,' batin Alvaro.


NOTE: Jangan lupa mampir ke novel terbaru othor ya, kisahnya Rain dan Romlah ya, dijamin ngakak abis. DIBALIK CADAR ROMLAH


__ADS_1


__ADS_2