Bed Friend

Bed Friend
Saling Mencintai


__ADS_3

Mendengar teriakan Zack, Nala pun menangis kian kencang kencang. Zack yang sangat kesal akhirnya mencoba untuk mengalah kembali daripada harus mendengar tangisan yang sudah sangat mengganggu gendang telinganya.


"Mendekatlah!" perintah Zack dengan begitu lembut. Nala yang terkejut melihat perubahan sikap Zack pun akhirnya mendekat ke arah Zack, lalu duduk di samping brankar Zack.


Zack kemudian menatap Nala yang kini kembali terisak. "Kau kenapa? Apa kau bertemu dengan Alvaro?" Nala menggelengkan kepalanya.


"Lalu kenapa kau menangis lagi? Ada apa dengan Alvaro? Apa kau bertemu dengan Alvaro?"


Nala kemudian menggelengkan kepalanya. "Tidak, Alvaro sudah pergi. Dia sudah pergi dengan kekasihnya, tapi ternyata ada hal lain tentang kekasih Alvaro yang baru saja kutahu.. hiks, hiks, hiks, hiks, hiks..."


Nala tidak melanjutkan kata-katanya, detik berikutnya hanya ada isakan kembali yang keluar dari bibirnya. Melihat Nala yang mulai menangis, Zack kemudian menghembuskan nafas panjangnya. Dia pun tetap mencoba bersikap lembut karena sebenarnya dia sudah lelah mendengar tangisan Nala.


"Jadi kau menangis karena Alvaro sudah pergi dengan kekasihnya? Bukankah tadi kau sudah mengatakan itu padaku? Lalu, sekarang kau menangis kenapa? Ada apa lagi dengan Alvaro dan kekasihnya?"


"Ya, tapi ternyata tidak hanya sebatas itu penderitaanku karena cinta..." Nala tak sanggup meneruskan lagi perkataannya, hatinya rasanya begitu sakit dan sesak mengingat semua perkataan Olivia, sejujurnya dia tak menyangka jika ternyata Laurie dan Alvaro bisa menjalin hubungan secepat itu.


'Jadi selama ini aku salah jika mengangap Laurie hanya sebatas tidur. Karena kenyataannya saat Laurie tidur saja bisa membuat Alvaro jatuh cinta padaya. Mungkin Alvaro dan Laurie memang belum lama mengenal satu sama lain. Tapi kalau hati sudah bicara, kita bisa apa? Meskipun singkat, mungkin sangat berbekas dan merasuk ke relung hati yang paling dalam,' batin Nala sambil memejamkan matanya. Hingga tiba-tiba lamunannya buyar saat mendengar suara Zack yang saat ini juga tengah menepuk bahunya.


"Caca, kau sebenarnya kenapa? Tidak hanya sebatas itu? Apa maksudmu? Sebaiknya kau jangan terlalu berlebihan, karena bukan cuma kau saja yang menderita karena cinta. Di dunia ini banyak orang yang menderita karena cinta."


"Contohnya kau? Iya kan? Kau begitu menderita karena cinta hingga hidupmu seperti ini?"

__ADS_1


"Kita."


"Baiklah, kita menderita karena cinta. Cuma, orang yang kucintai ternyata mencintai orang terdekatku. Apa kau tahu bagaimana rasanya hancurnya perasaanku, Tuan? Saat ini aku sangat sedih, tapi aku sadar, cinta memang tidak bisa dipaksakan. Mungkin benar apa yang kau katakan kalau Alvaro memang menyukai wanita yang lembut. Tidak sepertiku."


"Jadi benar kekasih Alvaro itu orang yang lembut?"


Nala pun mengangukkan kepalanya, dia kemudian kembali menangis. "Hei, kenapa kau menangis lagi?"


"Saya sedih, Tuan. Kalau saja saya jadi wanita lembut seperti wanita itu, mungkin Alvaro bisa jatuh cinta padaku."


"Hei ubah cara berfikirmu itu! Tetaplah jadi diri sendiri meskipun saat kau sedang mencintai seseorang! Karena cinta itu ketulusan, bukan kepalsuan!"


"Itu karena kau belum bertemu dengan orang yang tepat."


"Lalu kapan? Aku lelah patah hati terus menerus seperti ini!"


"Aku juga tidak tahu, daripada memikirkan itu lebih baik kau urus diriku saja! Apa kau tidak lelah menangis terus menerus?"


"Cape sih tapi sedih Tuan, apakah anda tahu ternyata wanita yang dicintai oleh Alvaro itu sepupuku sendiri. Coba anda pikir bagaimana perasaan saya, Tuan?"


"Sakit, tapi tidak berdarah. Hahhahahahha."

__ADS_1


"Kau menertawakanku?"


"Tentu saja karena kau lucu! Hahahahaha... "


'Apa kau masih bisa tertawa kalau tahu yang dicintai oleh Alvaro itu Laurie? Paling juga kamu bakalan ngamuk!' batin Nala.


"Tuan, bolehkah saya bertanya sesuatu pada anda?"


"Kau mau tanya apa?"


"Bagaimana kalau Laurie ternyata pergi dengan orang yang dia cintai."


Zack pun seketika terdiam mendengar perkataan Nala. Dia kemudian menundukkan kepalanya sambil menghembuskan nafas panjangnya. "Aku akan mengikhlaskan, memangnya aku bisa apa? Aku sudah lelah. Untuk saat ini yang terpenting dia bisa hidup bahagia, setelah penderitaan yang kuberikan padanya. Kenapa kau berkata seperti itu? Apa kau tahu sesuatu tentang Laurie?"


"Tentu saja tidak, saja juga tidak mengenal Nyonya Laurie. Kenapa anda bisa berfikir seperti itu? Saya hanya menanyakan tentang kesiapan anda kalau Nyonya Laurie jatuh cinta pada orang lain," jawab Nala gugup.


"Aku sudah siap, Caca. Aku sudah siap kalau dia jatuh cinta pada orang lain, bahkan kalau dia mau menikah dengan orang lain pun aku ikhlas. Dan kau pun harus melakukan hal yang sama pada Alvaro. Kau harus ikhlas, dengarkan aku. Kau harus ikhlas sama sepertiku!"


"Termasuk kalau ternyata mereka saling mencintai?"


Deg

__ADS_1


__ADS_2