
Sementara itu, Dea yang baru saja pulang dari rumah Viona menatap gelapnya pemandangan jalanan malam yang dia lalui dengan perasaan yang begitu berkecamuk. Gelap, ya semua terasa gelap, seperti yang dia rasakan saat ini, dan dia lihat dihadapannya.
"Kalau aku bukan anak dari Papa Dimas dan Mama Delia, lalu siapa aku sebenarnya? Siapa orang tuaku?" ujar Dea.
"Bukankah saat itu Ibu Panti mengatakan kalau Bu Rahma menemukanku di dalam gerbong kereta api, lalu menitipkanku ke panti asuhan tersebut. Sedangkan saat Bu Rahma menitipkanku ke panti asuhan itu, dia juga sedang membawa bayi yang dia akui sebagai anak kandungnya. Lalu, apa arti dari semua ini? Apakah bayi yang diakui oleh Bu Rahma saat itu, sebenarnya adalah anak dari Papa Dimas dan Mama Delia?"
Perasaan Dea pun begitu tak menentu, resah dan takut kini mulai merasuk ke dalam hatinya. "Apakah bayi yang dibawa pulang oleh Bu Rahma itu adalah anak kandung mereka sebenarnya? Lalu siapakah aku? Apakah aku sebenarnya anak dari Bu Rahma? Astaga, kenapa aku baru menyadari semua ini? Mungkin aku memang benar anak Bu Rahma, itulah alasannya selama ini dia begitu menyayangiku. Mungkinkah, itu juga alasannya dia selalu datang mengunjungiku dan selalu memberikan perhatian lebih padaku? Ya, Bu Rahma memang sangat menyayangiku mungkin aku adalah anak kandungnya," pekik Dea.
Dea kemudian memijit pelipisnya, tengkuknya pun saat ini terasa begitu kaku. Semuanya terasa menjalar sampai kepalanya hingga membuat kepalanya serasa mau pecah.
"Ini benar-benar menakutkan? Aku tidak mengenal siapa Bu Rahma. Bagaimana kalau Bu Rahma tidak seperti yang kubayangkan? Bagaimana kalau Bu Rahma tidak memiliki kekayaan sebanyak Papa Dimas? Ya, ini sangat menakutkan. Aku yakin, Bu Rahma pasti menitipkanku ke panti karena dia tidak memiliki cukup biaya untuk mengobati penyakitku, karena sejak dulu aku sudah menderita penyakit jantung bawaan. Itu artinya, Bu Rahma bukanlah dari kalangan yang berada. Bu Rahma bukanlah berasal dari orang kaya?" gerutu Dea.
Dia kemudian menutup wajahnya dan menyenderkan tubuhnya ke jok mobil yang dinaikinya saat ini. "Tapi, setelah aku ingat-ingat, bukankah beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Bu Rahma? Dan, di saat itu Bu Rahma juga menaiki sebuah mobil mewah. Apa itu artinya Bu Rahma juga berasal dari keluarga terpandang? Apakah itu artinya Bu Rahma juga bukan orang sembarangan dan juga memiliki banyak harta? Lalu kalau Bu Rahma berasal dari kalangan berada, kenapa dia sampai menitipkanku ke panti?"
Dea tampak memijit tengkuknya kembali sambil memejamkan matanya. "Ah, kenapa aku bodoh sekali. Mungkin saja saat itu Bu Rahma sedang mengalami masalah ekonomi, dan saat ini dia sudah mampu menyelesaikan masalah ekonominya tersebut dan sudah bisa hidup berkecukupan, tidak seperti beberapa tahun yang lalu saat dia meninggalkanku di panti asuhan tersebut."
"Bagaimana ini? Ah sebaiknya aku pikirkan besok saja. Kepalaku sakit, sebaiknya sekarang aku langsung pulang ke rumah. Aku tidak tak mau ada yang curiga padaku. Ya, sebaiknya kupikirkan besok saja. Lagipula, hari ini aku juga sudah sangat lelah. Aku tidak mau penyakit jantungku mengganggu aktivitas yang nantinya akan berdampak buruk pada rencanaku."
Beberapa saat kemudian, Dea sudah sampai di rumah milik Dimas. Saat dia melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah itu, rumah itu tampak begitu sepi. Dea akhirnya memanggil salah seorang asisten rumah tangga di dalam rumah itu.
"Bi..., bibi!!!"
Beberapa saat kemudian, asisten rumah tangga itu lalu mendekat pada Dea. "Ada apa Non Dea?"
"Bi, kenapa rumah ini sepi sekali? Dimana Mama dan yang lain?"
__ADS_1
"Oh itu, begini Nona. Tadi Nyonya Fitri pingsan, jadi mereka membawa Nyonya Fitri ke rumah sakit."
"Pingsan? Apa Oma sakit, Bi?"
"Entahlah saya juga tidak tahu, Nona."
"Astaga kalau begitu, lebih baik aku pergi ke rumah sakit sekarang. Aku tidak mau sesuatu terjadi pada Oma Fitri karena dia adalah kunci dari pertunangan ini. Oma juga sangat mendukungku menikah dengan Devano."
Dea lalu keluar dari rumah mewah itu, dan kembali diantar oleh seorang sopir keluarga menuju ke rumah sakit.
***
Sementara itu, Dimas, Delia, dan Shakila kini tampak begitu cemas menunggu Fitri di depan ruang IGD. "Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Shakila pada kedua orang tuanya.
Dimas tampak termenung dan hanya memijit pelipisnya, sedangkan Delia yang kini terlihat begitu tertekan hanya terlihat menundukkan wajahnya dan berulang kali mengucap kata. "Maafkan aku."
"Jadi Papa mau mengatakan yang sebenarnya pada Dea kalau kita semua sudah tahu jika dia bukanlah Sachi?"
Perlahan, Dimas pun menganggukkan kepalanya. "Iya, kita harus jujur pada Dea. Memang kejujuran ini sangat menyakitkan, tapi jika semua ini terus-menerus ditutupi dengan sebuah kebohongan maka itu akan jauh lebih lebih menyakitkan nantinya."
Mendengar perkataan Dimas, Delia hanya bisa menatapnya dengan tatapan tajam. "Apa kau tidak salah mau membuka semua ini pada Dea?"
"Tidak, kita memang harus mengatakan kejujuran itu."
"Tapi pertimbangkan kesehatan Dea, Dimas. Saat ini, Dea sedang mengidap penyakit jantung. Akan sangat rentan jika kita memberitahunya sekarang. Dia pasti merasa sangat syok dan tertekan. Aku tidak mau sesuatu terjadi pada Dea, Dimas. Karena bagaimanapun juga itu semua adalah kesalahan kita. Kita yang sudah begitu gegabah mengambil keputusan, yang membuat orang lain tersakiti. Aku tidak mau dia tersakiti karena kesalahan kita."
__ADS_1
"Tapi bagaimanapun juga Dea harus tahu siapa dia yang sebenarnya, meskipun kenyataan itu terdengar sangat menyakitkan, tapi itulah realitanya. Dia harus tahu siapa dia yang sebenarnya, dia harus tahu kalau dia adalah anak dari Bu Rahma."
"Aku setuju dengan Papa, Ma. Dea harus tahu siapa dia yang sebenarnya. Aku tidak mau dia terlalu berharap lebih pada Devano, karena untuk saat ini Devano sudah menikah dengan Luna atau Sachi. Aku tidak mau adikku tersakiti."
"Tapi Dea juga akan tersakiti karena kesalahan Mama, Shakila."
"Tersakiti bagaimana maksud Mama? Memangnya Dea menyukai Devano? Tidak kan? Aku yakin, dia mendekati Devano hanya karena hartanya saja tidak seperti Luna. Bukankah Mama tahu bagaimana kisah cinta Devano dan Luna? Kisah cinta mereka juga tidak mudah, dan aku tidak mau kehadiran Dea akan mengganggu mereka."
"Ya, kau harus menyadari semua itu Delia. Kita memang akan memberitahu siapa Dea sebenarnya, dan bukan berarti kita akan membuangnya dalam kehidupan kita. Kita tetap bisa menyayanginya meskipun dia bukan anak kandung kandung kita."
Mendengar penjelasan dari Dimas, Delia kemudian menganggukkan kepalanya. Di saat itu juga, tiba-tiba ponsel Dimas berdering.
Dimas lalu mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan melihat nama Viona tertera di layar ponsel miliknya.
Dimas lalu membuka pesan yang dikirimkan oleh Viona. "Siapa Dimas?" tanya Delia saat melihat raut wajah Dimas yang kini berubah menjadi pucat.
"Viona mengirimkan pesan padaku."
"Memangnya dia mengirim pesan apa sampai kau terlihat begitu pucat seperti ini?"
"Ini tentang Devano dan Dea, Delia. Viona mengirimkan pesan padaku kalau dia sudah mengatur pernikahan Devano dan Dea. Viona meminta Dea dan Devano menikah secara siri terlebih dulu."
"Tidak mungkin bukankah kita bisa menyangkalnya Dimas?"
"Ya, tapi Viona meminta pernikahan itu dilangsungkan dua hari lagi, dua hari yang akan datang. Sedangkan hasil tes DNA keluar satu minggu lagi. Apa yang harus kita lakukan untuk membuktikan kalau Dea bukanlah Sachi?"
__ADS_1
"Bu Rahma," jawab Shakila lirih.