
Mendengar perkataan Laurie, Alvaro pun mengurutkan keningnya. "Apa maksudmu Laurie?"
"Tidak apa-apa, anggap saja aku tidak pernah bicara apapun," jawab Lauri sambil tersenyum kecut. Hatinya sebenarnya sedikit kesal pada sikap Alvaro, dia benar-benar tidak mengerti apa yang ada di hati Alvaro semua sikap Alvaro seakan menunjukkan kalau dia memiliki perhatian lebih pada Laurie, tapi nyatanya Alvaro tidak pernah mengatakan apapun padanya. "
"Laurie, kenapa kau diam? Ayo kita masuk?" ucap Alvaro yang membuyarkan lamunan Laurie. Laurie menganggukkan kepalanya kemudian mengikuti langkah Alvaro masuk ke dalam rumah itu, meskipun dengan perasaan yang sedikit kesal.
***
Jarum jam hampir menunjukkan pukul dua belas siang, Nala tampak keluar dari kamar untuk makan siang. Namun, saat dia sudah sampai di meja makan, meja itu tampak kosong. Hanya ada seorang pembantu rumah tangga yang sedang menyiapkan makanan di atas meja.
'Kenapa Zack belum juga turun? Apa dia tidak lapar? Bukankah sejak kemarin dia belum makan? Apa orang itu sudah berubah menjadi Superman yang sanggup tidak makan untuk berhari-hari?' batin Nala.
"Bi, apa Tuan Zack belum turun?" tanya Nala pada pembantu yang sedang menyiapkan makan siang tersebut.
"Belum Nona, bukankah sejak kemarin Tuan Zack juga belum keluar kamar?"
"Astaga. Jadi sejak kutinggal tadi dia juga belum keluar kamar? Jangan-jangan dia benar-benar marah padaku? Atau dia benar-benar bunuh diri? Ah tidak ini tidak boleh terjadi kalau dia benar-benar mati pasti keseimbangan dunia akan kacau! Dia seorang pimpinan mafia, tidak boleh mati begitu saja karena cinta. Kalaupun mati, lebih baik dia mati dengan cara yang lebih keren sedikit, misalnya perkelahian dengan sesama mafia. Atau ditangkap oleh Pak Presiden. Kalau begitu lebih baik coba kulihat dulu dia sekarang!" ujar Nala. Dia kemudian naik kembali ke lantai atas lalu berjalan ke arah kamar Zack.
Saat dia membuka pintu kamar Itu tampak Zack sudah terkapar di atas lantai. "Astaga! Apa dia benar-benar mati?" teriak Nala. Dia kemudian mendekat ke arah Zack dan mengamatinya sebentar, lalu melihat Zack yang masih bernafas.
"Ah ternyata belum mati, mungkin cuma pingsan berarti masih bisa diselamatkan. Keseimbangan dunia pun belum goyah, kalau tidak aku malu bekerja pada mafia lemah seperti ini. Ck, bagaimana ini dia jangan sampai mati! Ah begini saja, lebih baik kubawa saja ke rumah sakit sekarang. Biar dokter yang mengurusnya, kalau aku yang mengurusnya nanti dia benar-benar mati dan aku jadi tersangkanya? Ah ini tidak lucu!"
Nala kemudian memanggil beberapa anak buah Zack yang ada di lantai bawah untuk pembawa Zack pergi ke rumah sakit. Zack lalu dibawa anak buahnya masuk ke dalam mobil, ditemani Nala dan dua orang anak buahnya.
Saat mereka sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit, sekilas Nala melirik Zack yang saat ini duduk terkulai lemas di jok belakang. Raut wajahnya tampak begitu pucat, melihat keadaan Zack saat ini, Nala pun merasa kasihan. Tapi saat mengingat kembali kejahatan Zack yang sudah membunuh Derick serta membuat Laurie koma, rasa kesal pun kembali merasuk ke hati Nala, dia pun merutuki keadaannya saat ini.
__ADS_1
'Ah sebenarnya keadaan laki-laki itu sangat menyedihkan, tapi mau bagaimana lagi? Dia memang pantas mendapatkan itu, dia sudah sepantasnya melepaskan Laurie. Tapi melihat kondisi dia yang seperti ini, ada baiknya aku membicarakan ini pada Tante Olivia. Mungkin saja Laurie mau menjenguknya,' batin Nala.
Beberapa saat kemudian mereka pun sudah sampai di rumah sakit, Zack langsung mendapat penanganan dari dokter, sedangkan Nala dan beberapa anak buahnya tampak menunggu di depan ruang emergency. Tak berapa lama, seorang dokter pun keluar dari ruang emergency tersebut.
"Dengan keluarga Tuan Zack?"
"Ya, kami keluarganya. Bagaimana keadaannya Dokter?"
"Dia sebenarnya baik-baik saja, hanya kekurangan cairan dan asupan makanan, sehingga kadar tekanan darah dan hemoglobinnya turun. Dia hanya perlu istirahat total saja di rumah sakit ini."
"Oh, jadi dia tidak apa-apa kan, Dok?"
"Tidak apa-apa, sebentar lagi juga bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Anda bisa menunggunya di ruang perawatan."
"Oh baiklah kalau begitu, terima kasih banyak, Dok."
Dokter tersebut kemudian meninggalkan Nala. Tak berapa lama, Zack yang masih tidak sadarkan diri di atas brankar tampak didorong oleh perawat keluar dari ruang emergency dan diantar menuju ke ruang perawatannya. Setelah mereka ada di ruang perawatan Zack, Nala tampak tersenyum nakal. 'Bukankah Alvaro juga ada di rumah sakit ini? Selagi menunggu raja iblis itu sadar, bagaimana kalau aku mengunjungi Alvaro terlebih dulu? Pasti dia sangat terkejut aku tidak jadi pergi ke Macau. Siapa tahu, Alvaro juga sudah mau membuka hatinya untukku,' batin Nala sambil terkekeh. Dia kemudian menatap anak buah Zack satu per satu.
"Hai kalian, tolong jaga Tuan Zack dengan baik dan benar, aku mau pergi ke kantin sebentar."
"Iya."
Nala kemudian berjalan ke arah ruangan Alvaro, namun saat dia berdiri di depan ruangan itu, ruangan tersebut tampak begitu sepi. "Kenapa sepi sekali?" gerutu Nala.
"Apa Alvaro belum berangkat?"
__ADS_1
Dia pun mengetuk ruangan itu, tapi tidak ada jawaban. Nala pun merasa aneh karena biasanya Alvaro sudah ada di ruangan tersebut. Saat dilanda kebingungan, tiba-tiba ada seorang perawat yang menegurnya.
"Selamat siang, Nona. Apa ada yang bisa saya bantu?"
"Oh iya suster. Kenapa ruangan Dokter Alvaro sepi seperti ini?"
"Oh itu karena Dokter Alvaro sedang cuti, Nona."
"Cuti?"
"Ya, Dokter Alvaro sedang cuti untuk menemani kekasihnya melakukan pengobatan."
"Kekasihnya? Melakukan pengobatan?"
"Ya, dia mengatakan seperti itu pada kami. Dia sedang pergi bersama kekasihnya."
"Oh, baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak, Suster."
"Iya Nona."
Mendengar perkataan perawat tersebut, sebenarnya perasaan Nala begitu hancur. 'Jadi, Alvaro sedang pergi dengan wanita itu? Wanita yang dicintai oleh Alvaro? Apakah ini artinya, dia sudah mendapatkan jawaban dari wanita itu? Jadi, ini artinya aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk bisa mendapatkan hatinya?' batin Nala sambil berjalan menuju ke ruang perawatan Zack. Saat dia sudah ada di ruang perawatan itu, Zack pun tampak sudah sadarkan diri.
"Hai wanita siluman, kau darimana saja! Bukankah kau asistenku, kau yang seharusnya mengurusku!" protes Zack. Namun, Nala hanya diam, tak menyahut sama sekali. Dia pun duduk di samping brankar Zack lalu menyenderkan kepalanya di dada Zack, dan menangis sejadi-jadinya.
"Alvarooooooo!"
__ADS_1
"Haiiii wanita siluman, aku bukan Alvaro!"