Bed Friend

Bed Friend
Without Love


__ADS_3

Pemilik mata tersebut lalu tersenyum, dia kemudian mengambil ponselnya.


[Halo Shakila.]


[Iya Pa.]


[Kau dimana?]


[Mencari Darren.]


[Apa kau sudah bertemu dengan Darren?]


[Sudah, Pa.]


[Katakan pada Darren, besok kita pergi ke Jakarta bersama-sama. Aku ingin bertemu dengan Roy dan Aini.]


[Iya Pa.] jawab Shakila kemudian menutup teleponnya. Dia kemudian menatap Darren.


"Dari papamu?"


Shakila kemudian menganggukan kepalanya. "Jadi dia menyetujui hubungan kita?"


"Ya, tanpa Papa kita tidak mungkin bisa seperti ini, Kak."


Darren pun tersenyum. "Syukurlah jika orang tuamu menyetujui hubungan kita, karena yang kuperlukan hanyalah restu dari orang tuamu, bukan dari nenekmu. Jadi aku tidak terlalu berdosa jika aku terpaksa membawamu kabur dari rumah."


"Membawa kabur dari rumah?" tanya Shakila.


"Ya, lebih tepatnya kawin lari Shakila!"


"Hahahahaha, kau ada-ada saja, Kak."


"Jika dalam waktu dua bulan kita belum menemukan Sachi bukankah itu artinya kita harus kawin lari, Shakila?"


"Hahahahaha! Kita kawin lari sekarang saja, Kak! Cepat nikahi aku sekarang juga!" rengek Shakila.


"Dasar nakal! Kalau masih ada jalan baik-baik, kita tidak boleh seperti itu, Shakila!"

__ADS_1


"Tapi aku ingin menikah denganmu, Kak! Aku ingin menikah sekarang juga! Bukankah dua bulan itu terlalu lama?"


"Shakila!" omel Darren sambil mencubit pipi Shakila.


"Hahahahaha, apa aku sangat menggemaskan?"


"Terlalu menggemaskan. Sejak dulu kau sangat menggemaskan!"


"Hahahahaha, kalau begitu cium aku!" ucap Shakila sambil memonyongkan bibirnya.


Darren pun tampak canggung. Dia kemudian melihat ke arah sekitar dan tersenyum getir. "Shakila, ini di tempat umum. Kau jangan bersikap seperti ini, malu Shakila!" bisik Darren.


"Malu, Kak? Bukankah tadi kau juga menciumku di depan banyak orang!"


"Itu lain cerita, Shakila! Aku harus melakukan semua itu agar semua orang tahu kita saling mencintai. Mustahil dua orang yang tidak mencintai satu sama lain bisa berciuman dengan begitu mesra seperti yang kita lakukan!"


"Jadi kau melakukan semua itu agar semua orang tahu kau mencintaiku?"


Darren pun menganggukkan kepalanya. "Semua itu percuma, Kak. Percuma semua orang tahu jika kau mencintaiku tapi tidak dengan kedua orang tuamu. Aku juga ingin Papa Roy dan Mama Aini tahu kalau kita saling mencintai satu sama lain. Kapan kau mengatakan pada mereka jika kita saling mencintai?"


"Tidak, aku tidak malu, Shakila. Besok kita pergi ke Jakarta. Aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Mama dan Papa."


"Benarkah?"


Darren pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


"Bagus, tadi Papa juga menelepon jika dia ingin bertemu dengan kedua orang tuamu. Besok kita pergi ke Jakarta bersama-sama."


"Orang tuamu ingin bertemu dengan Papa dan Mama?"


Shakila pun menganggukkan kepalanya. "Mungkin mereka ingin menikahkan kita sekarang juga, Kak," ujar Shakila sambil terkekeh.


"Dasar! Shakila ini sudah malam, pulanglah!"


"Pulang? Lalu kau bagaimana?"


"Kau tidak perlu mencemaskan aku. Di sini banyak hotel."

__ADS_1


"Tidak, kau menginap di rumahku saja!"


"Shakila, ada nenekmu! Aku tahu dia pasti tidak menyukaiku."


Shakila lalu menggelengkan kepalanya. "Oma sedang tidak ada di rumah. Dia sangat marah pada Papa karena mengacaukan acara pertunangan tadi siang, jadi Oma pergi ke rumah salah seorang kerabat kami."


Darren pun kembali tersenyum mendengar perkataan Shakila.


"Oh baiklah kalau begitu. Ayo kita pulang, aku ingin mengucapkan terima kasih pada kedua orang tuamu!" ujar Darren sambil berdiri dari tempat duduknya.


"Ayo, mobilku di sana, Kak!" jawab Shakila.


Dimas yang masih mengamati mereka dari dalam mobil lalu mengendarai mobilnya meninggalkan mereka agar Shakila tidak tahu jika dia sedang mengamatinya.


Dimas lalu tersenyum kecut. "Putriku, selama dua puluh tahun aku tidak bisa melakukan apapun untukmu. Hanya ini yang bisa kulakukan untuk membuatmu bahagia. Kau tenang saja Shakila, aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan laki-laki yang tidak kau cintai. Lagipula, aku banyak berhutang budi pada Aini dan Roy. Aku tidak akan membiarkan putra mereka bersedih karena sikap dari keluargaku," ujar Dimas sambil mengendarai mobilnya.


Sementara Shakila yang kini sudah ada di dalam mobil bersama Darren tampak menatap Darren dengan tatapan nakal.


"Kau kenapa Shakila?"


"Kakak, kau masih berhutang padaku," ujar Shakila.


"Berhutang? Berhutang apa?"


"Dasar tidak peka!"


Darren pun tersenyum lalu mendekatkan tubuhnya dan merengkuh wajah Shakila. Perlahan, dia pun mendekatkan wajahnya pada wajah Shakila lalu menempelkan bibirnya pada bibir Shakila.


***


Seorang laki-laki tampak berdiri di balkon kamarnya sambil terlihat sibuk mengetik dan menempelkan ponselnya di telinganya.


"Oh Shitttt!! Kenapa kau tidak mau mengangkat panggilan dariku, Luna!" geram lelaki tersebut.


"Bukankah sudah kukatakan, just *** without love!"


Sementara di ujung sambungan telepon yang dihubungi lelaki tersebut, tampak seorang wanita sedang duduk dan menangis di dalam kamarnya sambil memegang sebuah benda pipih dengan dua garis merah pada benda tersebut.

__ADS_1


__ADS_2