
"Kau kenapa Dea? Kenapa kau terlihat panik seperti itu?" tanya Shakila.
"Tidak apa-apa, Kak. Emh, Mama bolehkah kita ke rumah sakit besok saja? Hari ini tubuhku terasa begitu lemas."
"Astaga, jadi kau lemas Dea? Astaga, ini benar-benar memperhatikan. Kalau begitu, bagaimana kalau Dea sekalian saja dirawat inap di rumah sakit. Benar kan, Ma?" tambah Shakila.
"Oh iya, iya benar Shakila. Sachi, kalau kondisimu memburuk, kau dirawat inap di rumah sakit saja, ya?"
"Ah, oh... Tidak, Ma. Aku tidak apa-apa. Sekarang sudah tidak lemas," jawab Dea.
"Dea kau tidak perlu sungkan seperti itu. Kondisimu memang terlihat memburuk, lihat wajahmu saja terlihat begitu pucat. Lebih baik kau dirawat di rumah sakit saja. Iya kan, Ma?"
"Benar Sachi, semua yang dikatakan oleh Shakila semua benar. Lebih baik kau dirawat di rumah sakit saja. Mama tidak mau kondisimu semakin memburuk, Nak."
"Iya benar, Ma. Apalagi Dea kan akan menikah. Kita tidak mau sesuatu terjadi pada Dea kan? Mama dan Papa ingin Dea sehat sampai hari pernikahannya, kan?"
"Iya kau benar, Shakila. Sachi, kau harus menjaga kesehatanmu, Nak. Sebentar lagi kau akan menikah," tambah Delia.
'Shakila memang benar-benar kurang ajar! Dia selalu membuatku merasa terpojok,' batin Dea sambil menatap tajam ke arah Shakila. Namun, tatapan mata tajam itu dibalas uluran lidah Shakila yang seakan meledek Dea.
Dea pun tak bisa berkutik, dia hanya bisa pasrah dan tak bisa menolak kemauan Delia dan Shakila ke rumah sakit.
Sepanjang perjalanan, Dea pun hanya terdiam. Yang ada di dalam pikirannya hanyalah cara untuk menghindar dari pemerikasaan yang akan dijalani. Tak hanya itu, hatinya pun terasa begitu berkecamuk, pikirannya juga begitu kacau memikirkan kenyataan jika ternyata dia bukanlah anak kandung dari Delia dan Dimas. Dia ternyata bukan bagian dari keluarga yang beberapa hari terkahir sangat dia banggakan.
'Aku harus bagaimana? Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mau, aku tidak mau kembali lagi ke panti asuhan itu. Aku juga ingin hidup bahagia setelah bertahun-tahun hidup menderita di panti asuhan itu. Bukankan aku juga berhak bahagia? Aku tidak rela kehilangan kebahagiaan ini begitu saja,' batin Dea. Namun, sepanjang perjalanan itu juga, dia tak kunjung menemukan cara agar bisa menghindar dari pemeriksaan itu. Akhirnya, dia pun hanya bisa pasrah. Tak berapa lama, mereka pun sudah sampai di rumah sakit yang mereka tuju.
"Ayo turun, Dea!" ucap Shakila sambil tersenyum menyeringai. Mereka akhirnya turun dari mobil. Dengan langkah yang begitu berat, akhirnya dia pun masuk ke dalam rumah sakit itu mengikuti langkah Shakila dan Delia menuju ke bagian spesialis jantung.
Setelah menjalani berbagai proses pemerikasaan oleh dokter, mereka kemudian menuju ke laboratorium untuk mengambil sample darah dan melakukan pengecekan jantung Dea agar bisa memperoleh donor jantung yang sesuai. Satu jam lamanya, Dea menjalani pengecekan tersebut, dengan perasaan yang kini begitu kacau. Sementara Shakila dan Delia menunggu Dea di depan ruang laboratorium.
CEKLEK
Pintu laboratorium itu pun akhirnya terbuka. Dea keluar dari ruang laboratorium itu dengan wajah yang begitu murung.
"Bagaimana pemerikasaannya, Dea?"
"Ba-baik, Ma."
"Dea, mana hasil pemeriksaanmu?" tanya Shakila.
"Belum keluar hasilnya, Kak."
"Tapi pemerikasaan darahnya sudah kan? Apa golongan darahmu, Dea?"
"Emh, e..."
Dea pun menyembunyikan kertas di belakang tubuhnya. "Dea, mana coba liat? Bukankah kita harus tahu golongan darahmu?"
__ADS_1
"Emh..."
"Berikan kertas itu pada kami, Dea! Kami hanya ingin tahu golongan darahmu!" ujar Shakila kembali.
"Dea, benar apa yang dikatakan oleh Shakila. Cepat kau berikan kertas itu pada kami! Mama juga ingin tahu golongan darahmu, Nak. Jadi, nanti saat kau operasi, kami sudah siap."
"Emh, e.. Itu Ma..."
"Itu apa, Dea? Cepat berikan kertas itu pada kami!" ucap Shakila. Namun, Dea hanya terdiam. Dia malah semakin menyembunyikan kertas itu di belakang tubuhnya.
"Dea! Berikan kertas itu pada kami!" Shakila yang kini merasa kesal dengan sikap Dea kemudian mencoba merebut kertas itu dari tangan Dea.
"Jangan Kak," ucap Dea dengan sedikit mengiba. Tapi Shakila terus merebut kertas itu hingga terjadi tarik menarik.
"Dea! Kenapa kau tidak mau memberikan kertas itu? Apa ada sesuatu yang kau tutupi?"
"Tidak, Kak. Aku malu, Kak."
"Malu kenapa Dea?" cepat berikan kertas itu!" titah Shakila sambil mencoba menarik kertas itu dari tangan Dea hingga akhirnya terjadi tarik menarik.
Delia yang meihat Shakila dan Dea tarik menarik kertas yang ada di tangan mereka hanya bisa mencoba melerai tarik menarik diantara keduanya yang kini semakin kencang. Tarikan yang semakin kencang diantara keduanya pun membuat surat itu robek.
SRETTTT
"Astaga, kertasnya robek!" pekik Shakila panik. Sedangkan Dea tampak tersenyum menyeringai. Namun, Shakila tak kunjung berputus asa. Dia kemudian mencoba merapikan kertas sobekan itu dan mengamati hasil tes darah tersebut.
"Mama, bukankah golongan darah Mama O?" tanya Shakila.
"Dan golongan darah Papa, A?"
"Iya, memangnya ada apa Shakila? Apa ada yang salah?"
"Tentu saja Ma, lihat ini! Meskipun kertas ini sobek, tapi masih jelas terlihat kalau hasil tes darah tersebut menunjukkan kalau golongan darah Dea B!" teriak Shakila.
"Tidak! Golongan daraku A, Ma. Sama seperti Papa."
"Kau jangan mengada-ada, Dea. Lihat ini! Lihat golongan darahmu B! Meskipun sobek, tapi masih sangat jelas tertulis kalau golongan darahmu B! Kenapa golongan darahmu berbeda dengan Papa dan juga Mama, Dea?"
Delia yang melihat perdebatan diantara keduanya lalu mengambil kertas itu. Saat melihat kertas yang ada di tangannya, matanya pun terbuka lebar. Dia kemudian menutup mulutnya sambil berujar lirih.
"Golongan darah Sachi, B?"
***
Sementara itu, Luna tampak sedang duduk di dalam kamar, dan mengamati sebuah foto yang ditemukan oleh Devano kemarin. Sebuah foto dirinya saat masih bayi.
"Kenapa kalau aku merasa semuanya begitu aneh? Kenapa foto ini ada di rumah Dokter Vallen? Aku yakin keberadaan foto ini di rumah Dokter Vallen bukan karena hanya sebuah kebetulan," ujar Luna. Dia kemudian memejamkan matanya sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, matanya pun kembali terbuka. "Aku baru ingat, bukankah kemarin di rumah Dokter Vallen ada tamu? Apa kemungkinan tamu tersebut ada hubungannya dengan foto ini? Apa ada salah seorang dari mereka yang membawa foto ini? Kalau benar salah seorang ada yang membawa foto ini, pasti salah seorang dari mereka tahu masa laluku. Bahkan mungkin mereka adalah bagian dari masa laluku? Atau bahkan keluargaku?" ujar Luna sambil mengerutkan keningnya.
"Ah sebaiknya aku tanyakan saja pada dokter Vallen, mungkin aku bisa tahu teka-teki dari semua ini."
Luna kemudian beranjak dari tempat tidurnya, lalu keluar dari kamar itu. Saat Luna sedang menaiki tangga suara bel pun terdengar.
TET TETTT
"Siapa yang datang? Apakah Devano sudah pulang? Ada-ada saja kalau sampai siang ini dia pulang ke rumah hanya untuk menyelesaikan sarapan pagi hari," gerutu Luna. Dia lalu berjalan kearah pintu dan membuka pintu tersebut. Namun, betapa terkejutnya Luna saat membuka pintu tersebut dan ternyata Viona yang berdiri di depan pintu itu. Viona tampak mengamati Luna dari ujung rambut sampai ujung kaki sambil menyunggingkan senyum menyeringai
"Ma-Mama..." ucap Luna terbata-bata.
Mendengar sapaan Luna, Viona lalu mendecih pelan. "Cih, apa kau bilang? Mama? Yang benar saja!" bentak Viona.
Luna hanya tersenyum mendengar perkataan Viona. "Dengarkan baik-baik! Aku tidak sudi kau memanggilku dengan sebutan mama! Camkan baik-baik kalau sebenarnya aku tidak pernah mengakui mu sebagai menantuku! Aku melakukan semua ini hanya karena Devano, dan paksaan dari dokter lucknut itu. Jadi, jangan pernah berfikir kalau aku mau menganggapmu sebagai menantuku! Kau seharusnya sadar kalau kita berbeda, dan kau tidak akan pernah pantas menjadi menantuku!"
Luna hanya tertunduk mendengar perkataan Viona, hatinya sebenarnya terasa begitu sedih, tapi dia mencoba untuk tegar dan tetap tersenyum dihadapan Viona.
"Kenapa kau menunduk? Angkat wajahmu cepat! Bukankah wajahmu itu sangat cantik?"
Luna kemudian mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Viona. "Mama, lebih baik kita bicara di dalam. Silakan masuk ke dalam rumah, Ma."
"Di sini saja aku tidak mau berlama-lama bertemu denganmu! Aku hanya ingin memberi peringatan padamu kalau hari ini adalah hari terakhirmu memanggilku dengan sebutan Mama, karena sebentar lagi kau harus bersiap-siap meninggalkan Devano!"
"Tapi Ma, aku sedang mengandung anak Devano."
"Itu bukan urusanku karena sebentar lagi Devano juga akan menikah dengan wanita lain! Wanita yang sudah dijodohkan dengannya dan wanita yang sederajat dengan kami! Tidak sepertimu yang tidak jelas asal-usulnya!"
"Tapi Devano sudah janji untuk tidak meninggalkan aku, Ma. Dia janji untuk memutuskan pertunangan itu dan lebih memilihku dan anak yang ada di dalam kandunganku."
"Hahaha jangan bermimpi dasar wanita bodoh! Kau mau saja ditipu oleh Devano!"
"Ma aku percaya pada Devano. Setelah semua yang kami lalui, aku sangat percaya pada dia, Ma. Aku tahu Devano sangat mencintaiku."
"Apa sangat mencintaimu? Jangan pernah bermimpi, Luna. Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kalau Devano hanya menginginkan tubuhmu dan tertarik pada kecantikan wajahmu! Itu saja, tidak lebih!"
"Aku percaya pada Devano Ma."
"Hahaha percaya daripada Devano? Sekarang kau bisa mengatakan seperti itu, tapi mungkin kau akan berubah pikiran setelah melihat foto ini," ucap Viona sambil memperlihatkan sebuah foto pada Luna.
Di foto itu tampak Devano sedang duduk di ruang tamu sebuah rumah mewah. "Kau lihat ini baik-baik dan perhatikan tanggal di foto ini! Tadi pagi Devano pergi ke rumah tunangannya. Dia ingin bertemu dengan tunangannya, dan menginginkan pernikahan mereka untuk dipercepat. Jadi, jangan pernah berfikir kalau Devano sudah memilihmu!"
Luna pun hanya terdiam sambil menahan perasaannya yang begitu berkecamuk. Sedangkan Viona mulai tersenyum saat melihat Luna yang saat ini mulai terlihat kebingungan. "Mungkin saja Devano pergi ke rumah itu untuk memutuskan pertunangan mereka."
"Hei, lancang sekali kau berkata seperti itu! Kalau kau tidak percaya, lihat ini pesan dari orang tua tunangan Devano, kalau hari ini dia pergi kesana untuk membicarakan pernikahan mereka!" ujar Viona sambil memperlihatkan sebuah pesan percakapannya dengan Delia. Namun, Luna tidak melihat nama pengirim pesan tersebut, hanya melihat percakapannya. Pada pesan itu, tertulis kalau Devano mulai tertarik pada tunangannya.
Retina Luna pun tampak berembun, hatinya terasa begitu hancur. "Kenapa kau harus menangis? Bukankah sudah kukatakan agar kau jangan terlalu berharap banyak pada putraku? Dia hanya menginginkan tubuhmu yang montok itu. Jadi lebih baik kau terima saja nasibmu! Putraku menikahimu karena ancaman dari dokter itu, tidak lebih Luna! Ingat putraku tidak pernah mencintaimu, jadi lebih baik sekarang kau pergi dari rumah ini! Karena cepat atau lambat kalian pasti akan berpisah! Devano tidak mungkin selamanya menjadi suamimu, karena dia pun sadar kau bukan wanita yang pantas untuknya!" bentak Viona yang kini meninggalkan Luna yang masih menangis.
__ADS_1
Perasaan Luna begitu hancur, dia hanya menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai. Rasanya tubuh itu terasa begitu lemah, menanggung beban yang saat ini dirasakan oleh hatinya.
Bersambung...