Bed Friend

Bed Friend
Tunggu Aku


__ADS_3

"Sa... Sachi kenapa kau berkata seperti itu, Nak? Ini mama, Nak."


"Kau bilang Mama? Mama yang sudah meninggalkanku di dalam gerbong kereta api? Itu yang kau maksud dengan Mama?"


"Sachi, bukankah mama sudah bilang padamu, kondisinya tidak seperti yang kau pikirkan, Nak. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu begitu saja. Saat itu, situasinya tidak seperti yang kau pikirkan, Nak. Sungguh, mama tidak pernah bermaksud buruk padamu. Kalau mama tidak menginginkanmu, tidak merindukanmu, mama tidak mungkin mencarimu, Nak."


"Bohong! Kau mencariku setelah 20 tahun kan? Apakah itu masih pantas disebut dengan orang tua?"


"Maafkan Mama, Sachi. Memang mama baru mencarimu setelah dua puluh tahun. Tapi, mama punya alasan melakukan semua itu, Nak."


"Alasan apa? Kalau kau benar-benar kehilangan diriku, saat kau sadar jika aku hilang, kau pasti akan segera mencariku! Bukannya mencariku setelah 20 tahun lamanya! Apa kalian tidak pernah berfikir bagaimana sulitnya aku menjalani hidup yang sulit ini selama 20 tahun, dan kalian datang dengan begitu tiba-tiba lalu mengatakan jika kalian adalah orang tua kandungku? Orang tua macam apa itu?"


"Sachi, kau jangan berkata seperti itu pada Mamamu karena itu tidak seperti yang kau pikirkan! Dia memiliki alasan yang belum kau ketahui, Sachi!" ujar Dimas sambil memeluk Delia yang kini begitu terisak.


Dea lalu tersenyum kecut. "Heh, kau juga sama saja, kan? Kau mengatakan jika kau juga papaku, kau juga sama saja seperti wanita itu! Kau juga sama-sama tidak mau mencariku, kan? Sebenarnya orang tua macam apa kalian ini? Kalian memang benar-benar orang tua yang tidak punya hati!"


"Sachi!!!"


"Ma, jangan Ma," ujar Cleo yang melihat Vallen mulai mendekat ke arah Dea dan Delia serta Dimas.


"Sachi! Saat aku bertemu Ibu Panti, aku yakin dia adalah wanita baik yang lembut dan penyayang. Aku yakin, Ibu Panti pasti juga telah mengajarkan kebaikan, kasih sayang, dan juga adab yang baik pada para anak asuhnya. Tapi, sayangnya apa yang diajarkan oleh Ibu Panti, sepertinya tidak bisa kau amalkan dengan baik! Lihat, aku bahkan sangat malu melihat kau berkata seperti ini pada kedua orang tuamu!"

__ADS_1


"Nyonya, sebaiknya anda tidak usah ikut campur!"


"Heiii enteng sekali kau berkata seperti itu padaku! Tentu saja aku harus ikut campur karena orang tuamu adalah teman dekatku!"


"Nyonya, kalau mereka teman dekat anda, kenapa saat mereka kehilangan anaknya, anda tidak menasehati teman anda untuk langsung mencari anaknya? Bukan setelah dua puluh tahun datang padaku begitu saja tanpa rasa berdosa!"


"Apa tadi kau tidak dengar saat papamu mengatakan jika mereka punya sebuah alasan baru bisa mencarimu sekarang! Asal kau tahu, Sachi! Dua puluh tahun terakhir bukanlah hal yang mudah bagi kedua orang tuamu! Bagiku, mereka adalah orang-orang luar biasa! Dan kau tidak pantas mengatakan seperti itu pada mereka."


"Cih, jika mereka luar biasa, mengapa mereka meninggalkanku selama dua puluh tahun? Apa pantas itu disebut dengan luar biasa? Bagiku mereka hanyalah orang yang tidak bertanggung jawab karena telah menelantarkan aku begitu saja!"


"Sachi! Bukankah sudah kukatakan jika kau tidak pantas berkata seperti itu pada kedua orang tuamu?"


"Mereka punya alasan tidak mencarimu selama 20 tahun ini, Sachi!"


"Alasan apa? Jika mereka benar-benar punya alasan, mereka seharusnya sudah mengatakan semua itu padaku, bukannnya diam dan menangis seperti orang tidak berdosa! Alasan apa? Cepat katakan alasan apa hingga kalian begitu tega padaku?" teriak Dea.


"Alasan kami tidak mencarimu selama 20 tahun karena kami berada di dalam tahanan, Sachi! Apa kau puas? Kami adalah bekas narapidana! Kami sama-sama dipenjara selama dua puluh tahun! Aku telah melakukan sebuah kesalahan dan terlibat perkelahian dengan seseorang yang mengakibatkan nyawa orang itu meninggal! Begitu pula dengan mamamu! Dia juga bermaksud untuk membelaku, tapi dia malah dilecehkan begitu saja oleh penjahat itu, dan dengan terpaksa mamamu membela diri yang menyebabkan penjahat itu kehilangan nyawanya! Itulah alasannya kami dipenjara, Sachi. Itulah alasannya kami dipenjara! Dan saat itu, Mamamu berniat membawamu dan Shakila kakakmu ke rumah Aini, untuk menitipkan kalian agar kondisi psikologis kalian tidak terpuruk saat mengetahui kami seorang tahanan. Tapi karena pikiran mamamu sedang kacau, dia tidak sengaja meninggalkanmu begitu saja di dalam gerbong kereta api! Itulah alasannya saat orang yang mengantarmu ke panti ini mengatakan jika saat memanggil mamamu, dia tidak menyahut, bahkan seperti tampak sedang kebingungan! Itu karena pikirannya sedang kacau, Sachi!"


Dimas lalu mengambil menghembuskan nafasnya dengan kasar sambil terus menggengam tangan Delia yang kini semakin terisak.


"Kami sengaja tidak mengatakan semua itu karena kami takut kau malu memiliki orang tua seperti kami! Sekarang apa kau puas? Hinalah kami lagi sesukamu! Kami memang bukan orang tua yang pantas bagimu!" sambung Dimas lagi.

__ADS_1


Sementara Dea yang mendengar penjelasan Dimas, kini begitu terisak. "Sachi, maafkan kami. Jika kau malu punya orang tua seperti kami, kami tidak akan memaksamu, Nak. Bertemu denganmu dan melihat kau tumbuh dewasa itu sudah cukup bagi kami. Maaf jika semua yang kami lakukan sudah terlambat bagimu, tapi asal kau tahu. Kami sangat menyayangi mu. Kami sangat menyayangimu, Sachi."


Dea masih terdiam, namun air mata masih mengalir deras membasahi pipinya. Vallen kemudian menggenggam tangan Delia.


"Delia, sebaiknya kita pulang sekarang. Lihat kondisimu, aku tidak mau kau sakit, bukankah sebentar lagi Darren dan Shakila juga akan menikah? Kau tidak boleh seperti ini. Mungkin, Sachi butuh waktu untuk berfikir," ujar Vallen.


"Benar apa yang dikatakan Vallen, lebih baik kita pulang sekarang Delia. Mungkin Sachi butuh waktu untuk berfikir," sambung Dimas.


Delia kemudian menganggukan kepalanya. "Ya."


Delia mendekat pada Dea lalu berdiri di depannya. "Bolehkah aku memelukmu sekali lagi?"


Dea hanya terdiam, hanya suara isak tangis dan butiran bening yang kini menghiasi wajahnya. "Baik, jika kau belum mau menerimaku sebagai orang tuamu, aku terima itu. Sachi, mama pulang dulu. Terima kasih sudah mau bertemu dengan kami," ujar Delia seraya berjalan meninggalkan Dea yang masih terisak.


Dia kemudian mendekat pada Dimas dan Vallen. Mereka lalu berpamitan pada Ibu Panti, dan pulang dari panti tersebut. Sedangkan Ibu Panti, kini menggenggam tangan Dea yang masih menangis.


"Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi bagaimanapun juga mereka orang tuamu, dan aku yakin, 20 tahun terakhir itu bukanlah hal yang mudah bagi mereka. Tolong maafkan mereka, kau anak yang baik Dea. Kau pasti bisa memahami kondisi kedua orang tuamu." Namun, Dea hanya terdiam.


Sementara itu, Delia yang kini sedang berjalan ke arah mobil dengan langkah gontai, tiba-tiba dikejutkan dengan suara derap langkah kaki yang sedang berlari mendekat padanya. Delia kemudian membalikkan tubuhnya dan melihat sosok wanita muda yang berlari ke arahnya sambil terisak.


"Mama, tunggu aku, Ma!"

__ADS_1


__ADS_2