
"Clarrisa, maafkan aku. Maafkan aku Clarissa, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu tapi ini semua terjadi di luar kendaliku. Maafkan aku, Clarissa."
"Pergilah Kak, kau bukan milikku lagi, pergilah pada istrimu!"
"Kenapa kau berkata seperti itu Clarissa? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkan aku, bahkan janji itu baru saja terucap dari bibirmu tapi kenapa kau harus menyuruhku untuk meninggalkanmu, kenapa kau begitu kejam padaku Clarissa? Tak bisakah kau memberikan kesempatan padaku? Kenapa kau harus ikut menghukumku atas kemalangan yang baru saja terjadi di hidupku? Kemana pelangi itu? Kenapa pelangi itu juga harus ikut pergi meninggalkan aku di saat aku kembali terjatuh? Tidak bisakah kita melewati semua ini bersama-sama, bukannya menyerah pada keadaan? Apa kau tidak ingin memperjuangkan cinta kita, Clarissa?"
"Aku bukannya tidak ingin memperjuangkan cinta kita, Kak. Tapi kita tidak boleh egois, ada hati yang lain yang harus kau jaga, dan itu sudah menjadi kewajiban bagimu, sedangkan aku? Aku bukanlah siapa-siapa, aku hanya butiran debu yang pernah hinggap lalu harus terbang kembali tertiup oleh angin."
"CUKUP CLARISSA! CUKUP! APAPUN YANG KAU KATAKAN, TIDAK PERNAH AKAN MENGUBAH KEPUTUSANKU UNTUK MEMPERTAHANKAN HUBUNGAN KITA!"
Nathan lalu mengusap wajahnya dengan kasar. "Bukankah tadi sudah kukatakan padamu jika aku dan Sharen memiliki kesepakatan untuk menjalani pernikahan ini selama satu bulan saja, satu bulan. Tidak lebih! Kenapa kau harus berkata seperti itu padaku? Kenapa kau harus mempersulit hubungan kita? Apa kau tidak bisa menungguku? Kenapa kau harus menyerah pada keadaan? Apa kau tidak ingin sama sekali mempertahankan hubungan kita?"
"Aku bukannya tidak mau mempertahankan hubungan kita Kak, aku hanya tidak ingin egois, aku hanya memikirkan bagaimana perasaan Kak Sharen, dia istrimu tapi dia tidak mendapatkan hak apapun darimu, bahkan kau tidak menemaninya saat dia terpuruk. Seharusnya kau ada bersamanya, bukannya bersama denganku."
"Clarissa, sekarang kutanyakan padamu, apakah Sharen juga menginginkan kehadiranku? Bukankah kita menikah karena paksaan dan keadaan, bahkan bagiku ini tidak pantas disebut sebagai pernikahan. Memangnya kau pikir Sharen tidak tahu aku sedang bersama dengan dirimu? Sharen sudah tahu jika aku sudah memiliki calon istri yang sangat kucintai, bahkan dia juga memahami keadaanku untuk tidak bisa menyentuh dirinya."
"Benarkah? Benarkah dia sudah tahu tentang hubungan kita?"
"Tentu saja, sejak awal sebelum kami melangsungkan ijab qabul, aku sudah menceritakan keadaanku padanya, bahkan pada Tante Inara dan Om Abimana. Mereka mau memahami keadaanku karena itulah pernikahan ini hanya berlangsung selama satu bulan saja, pernikahan ini untuk menyelamatkan harga diri kami saja karena saat itu kami tidak memiliki pilihan, jika kami tidak melakukannya, mereka akan memenjarakan kami, Clarissa. Bahkan Om Abimana dan Tante Inara juga tahu dua bulan lagi kita akan menikah. Mereka memahami semua itu, jadi tolong Clarissa, tolong kau juga pahami keadaanku. Tolong jangan tinggalkan aku saat aku sedang terpuruk seperti ini, Clarrisa. Tolong jangan tinggalkan aku, Clarissa," ucap Nathan sambil menangis tersedu-sedu.
Clarissa kemudian menatap Nathan yang kini menangis di depannya. "Tapi bagaimanapun juga dia adalah istrimu, tidak seperti diriku," jawab Clarissa dengan begitu terisak.
"Kau adalah yang utama di dalam hatiku, Clarissa. Kau yang utama!"
"Tidak, karena status Kak Sharen tetap yang utama! SHE IS YOUR WIFE! AND I? I JUST YOUR BED FRIEND! JUST YOUR BED FRIEND!" teriak Clarissa. Mendengar teriakkan Clarissa, Nathan pun menatap tajam padanya.
"Baik jika itu yang ada di pikiranmu! Ikut aku sekarang juga!"
__ADS_1
Nathan kemudian mencengkram tangan Clarissa, dia lalu menarik tangan itu hingga membuat tubuh Clarissa terangkat dari sofa kemudian keluar dari apartemen menuju ke mobilnya.
"Kita mau kemana, Kak?" tanya Clarissa saat berada di dalam mobil.
"Bukankah yang ada dipikiranmu kau adalah teman tidurku saja? Sekarang akan kubuktikan if you're just not bed friend! You are my soul, you are my soul, Clarissa!" teriak Nathan yang membuat Clarissa terdiam.
🍒🍒🍒
Leo tersenyum saat pintu yang ada di depannya terbuka dan melihat Calista yang kini berdiri di depannya.
"Selamat malam, istriku sayang. Maaf, penerbanganku sedikit terlambat."
"Tidak apa-apa, Leo. Ini juga masih sore baru pukul tujuh malam."
"Tapi kau jadi sendirian kan? Anak manja itu pasti sudah pergi ke Bandung untuk menemui kekasihnya itu."
Mendengar perkataan Leo, Calista pun tersenyum kecut. "Aku tidak sendirian, Leo. Ada seseorang yang menemaniku," jawab Calista.
"Bukan Vansh, tapi dia," jawab Calista sambil menunjuk Sharen yang sedang duduk di atas sofa.
Melihat kedatangan Leo, Sharen pun tersenyum lalu menyalaminya. "Kau putri dari Abimana kan?"
"Iya Om," jawab Sharen.
"Kami masuk ke kamar dulu, Sharen."
"Iya."
__ADS_1
Leo lalu menarik tangan Calista ke dalam kamar. "Calista! Apa yang sebenarnya telah terjadi selama kepergianku? Kenapa tiba-tiba anak dari Abimana ada di sini!"
"Leo, tenangkan dirimu. Leo, dia adalah istri dari Nathan."
"APPAAAA BAGAIMANA SEMUA ITU BISA TERJADI? BUKANKAH NATHAN MENYUKAI CLARISSA? KENAPA DIA YANG HARUS MENJADI ISTRI DARI NATHAN!"
"Leo, tenangkan dirimu. Sebuah musibah telah dialami oleh putra kita saat kau memintanya untuk pulang ke rumah."
"Musibah? Musibah apa Calista? Kenapa kau membiarkan dia menjadi menantu kita? Bukankah sudah pernah kukatakan jika aku tidak mau dia menjadi menantuku, Calista!"
"Tenangkan dirimu, Leo. Aku terpaksa melakukan semua itu karena saat itu kami tidak memiliki pilihan."
"Apa maksudmu sebenarnya? Cepat ceritakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi?"
Dengan penuh rasa takut, Calista lalu menceritakan kejadian malam itu pada Leo.
"BR*NGSEK! BRE*GSEK! JADI ADA YANG MENJEBAK NATHAN! BAJINGAN! AKAN KUBUNUH ORANG ITU SEKARANG JUGA! LALU KENAPA KAU TIDAK MENYURUH NATHAN LANGSUNG MENALAK GADIS ITU SETELAH MEREKA MENIKAH? BUKANKAH NATHAN BISA LANGSUNG MENCERAIKAN GADIS ITU? TAPI KENAPA KAU HARUS MEMBIARKAN PERNIKAHAN ITU BERJALAN SELAMA SATU BULAN? BENCANA APA YANG AKAN KAU BUAT CALISTA!"
"Sabar Leo, sabar. Kita harus menyelidikinya terlebih dulu. Maafkan aku, aku merasa sangat sungkan jika Nathan langsung menceraikan Sharen pada saat itu juga karena dia merasa sangat terpukul setelah kejadian itu, kondisi psikologisnya juga tidak baik karena itulah dia tinggal di rumah ini untuk menghindari tekanan yang dia alami."
"Akan kuselidiki sekarang juga lalu kusiksa orang itu sampai dia mati karena sudah berani mempermainkan putraku dan membuat hidupnya hancur!"
"Leo, tolong tenangkan dirimu!" .
"Bagaimana aku bisa tenang Calista, hidup putraku saat ini hancur! Dan kesalahan terbesarmu adalah menikahkan Nathan dengan Sharen, bukankah sudah pernah kukatakan padamu jika aku tidak menginginkan gadis itu menjadi menantuku! Kau benar-benar telah melakukan kesalahan yang begitu besar Calista! Kau telah melakukan kesalahan yang begitu besar! Jika saja aku ada di sini maka aku akan mengobrak-abrik kantor kelurahan itu dan tidak akan kubiarkan putraku menikahi gadis itu!"
Calista pun hanya bisa terdiam sambil menundukkan wajahnya tak berani melihat kemarahan Leo yang begitu menakutkan. Di saat itulah tiba-tiba ponsel Leo pun berdering. Dia kemudian mengambil ponsel yang ada di saku jasnya.
__ADS_1
"Rayhan?" ucap Leo. Leo kemudian mengangkat panggilan telepon itu sambil berjalan menjauhi Calista. Calista pun hanya melihat raut wajah Leo yang tampak begitu tegang, dia kemudian mendekat ke arah Calista lalu menarik tangannya.
"Ikut aku, kita harus ke rumah Rayhan dan Amanda sekarang juga!"