
"Tunggu," ucap Shakila lirih.
Delia dan Dimas lalu menghentikan langkahnya. Mereka kemudian membalikkan tubuhnya lalu melihat ke arah Shakila yang masih menangis di atas ranjang.
Aini lalu menganggukan kepalanya, memberi kode pada Dimas dan Delia untuk mendekat. Mereka pun mendekat kembali ke dekat Shakila.
"Berat, dan ini bukanlah hal yang mudah bagiku," ucap Shakila saat mulai membuka suaranya kembali.
Delia kemudian menganggukkan kepalanya sambil memejamkan matanya. "Kami tahu, Shakila. Kami tahu, itulah alasannya kami tidak akan memaksamu untuk mengakui kami sebagai orang tuamu."
"Tapi bagaimanapun juga kalian tetep orang tuaku. Meskipun seribu kali hati ini menyangkal, kalian tetap orang tuaku, meskipun bibir rasanya ingin sekali menolak, tapi nyatanya aku adalah darah daging kalian. Dan ini benar-benar bukan hal yang mudah bagiku. Sejak aku kecil hingga dewasa, yang kutahu orang tua kandungku adalah Papa Roy dan Mama Aini, mereka sangat menyayangiku. Bahkan sampai aku tidak curiga jika mereka bukanlah orang tua kandungku," ucap Shakila sambil tersenyum kecut.
Dia kemudian memejamkan matanya lalu memegang dadanya yang kini terasa begitu sesak. "Dua puluh tahun kemudian, aku dihadapkan kenyataan jika mereka bukanlah orang tuaku. Rasanya sangat sakit, jika membayangkan selama dua puluh tahun ini aku hidup dalam kebohongan. Meskipun aku akhirnya bisa memahami alasan mereka menitipkanku pada Mama Aini dan Papa Roy. Namun, tak dapat kusangkal jika menerima kedua orang tuaku itu bukanlah hal yang mudah. Menerima kehadiran mereka dan masa lalu mereka itu benar-benar tidak mudah bagiku," ucap Shakila dengan begitu terisak.
Fitri kemudian mendekap tubuh Shakila kembali ke dalam pelukannya. "Aku mengerti, kami mengerti bagaimana perasaanmu Shakila. Itulah alasannya kami tidak menuntut ataupun meminta pengakuan darimu. Kami juga tidak memintamu untuk memanggil kami dengan sebutan Mama ataupun Papa, karena kami tahu, hal itu juga sangat sulit bagimu, Shakila."
"Iya Shakila, benar apa kata ibumu. Hari ini kami hanya ingin memberitahu kebenaran ini padamu. Bukan untuk mendapatkan pengakuan darimu. Kami hanya ingin kau tahu kami lah kedua orang tua kandungmu. Itu cukup, dan kami tidak meminta lebih dari itu."
Shakila kemudian memejamkan matanya kembali. "Beri aku waktu, beri aku waktu untuk bisa menerima kalian. Aku tidak akan membenci kalian berdua, hanya saja aku belum bisa sepenuhnya menerima kalian berdua. Aku butuh waktu, aku butuh waktu," ulang Shakila.
Delia dan Dimas lalu saling bertatapan, mereka pun tampak tersenyum hingga sebuah butiran bening lolos begitu saja dari sudut mata Delia. "Terima kasih, Shakila," ucap Delia.
Shakila lalu menganggukan kepalanya. Delia kemudian mendekat ke arah Shakila lalu duduk di tepi ranjang itu.
"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Delia sambil terisak.
Shakila lalu bangkit dari pelukan Fitri, kemudian menatap lekat Delia yang kini ada di hadapannya.
"Maaf, aku tidak akan meminta apapun darimu, Shakila," ucap Delia. Namun, saat baru saja menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Shakila sudah berhambur memeluk Delia dan menangis dalam pelukannya.
"Kenapa? Kenapa kau jahat sekali padaku, Ma? Dua puluh tahun kau membiarkan aku hidup dalam kepalsuan tanpa mengetahui orang tuaku yang sebenarnya. Kenapa Ma? Kenapa?" isak Shakila.
__ADS_1
"Maafkan Mama, Nak."
"Tahukah kau, apapun keadaan kalian berdua, aku akan tetep menerima kalian berdua karena kalian adalah orang tua kandungku. Meskipun itu tidak mudah bagiku, tapi aku akan tetep menganggap kalian sebagai orang tuaku. Jadi tolong jangan tinggalkan aku lagi, tolong jangan tinggalkan aku," teriak Shakila dalam pelukan Delia.
Delia kemudian menganggukkan kepalanya, sementara Dimas juga mendekat ke arah Delia dan Shakila kemudian memeluk mereka berdua.
Fitri dan Aini yang melihat ketiganya larut dalam kebahagiaan yang diselimuti dengan keharuan kemudian saling berpandangan dan tersenyum. Air mata juga mulai jatuh dari sudut mata mereka.
"Penantian yang panjang, Tante. Penantian yang panjang dalam merajut kebahagiaan akhirnya terbalas sudah."
"Iya Aini, semoga mereka bisa hidup bahagia."
"Ya, semoga saja."
"Lalu bagaimana dengan, Sachi? Apakah sudah ada kabar darinya?"
Fitri kemudian menggelengkan kepalanya. "Belum, masih gelap."
"Iya Aini."
"Lalu, bagaimana dengan perjodohan itu?"
"Dua minggu lagi, Aini. Dua minggu lagi aku akan memperkenalkan Shakila dengan Devano."
"Apa Tante yakin dengan Devano?"
"Dia laki-laki yang baik, Aini. Keluarga kami juga sudah terikat janji untuk menjodohkan masing-masing cucu pertama kami. Jadi aku tidak mungkin mengingkari perjodohan itu. Shakila tetap akan dijodohkan dengan Devano."
"Aku setuju jika menurut Tante itu baik."
"Terima kasih, Aini."
__ADS_1
Aini pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Sementara itu Shakila yang kini masih menangis dalam pelukan kedua orang tuanya tampak menatap langit yang masih berselimut mendung. Hujan yang sejak tadi turun dengan derasnya pun sudah berhenti, berganti dengan cahaya temaram sinar matahari yang masih bersembunyi di balik awan.
'Semesta, mengapa kau seringkali bercanda padaku? Kau hadirkan pertanda begitu saja tanpa aba-aba. Kau turunkan hujan di saat duka menyelimuti hatiku, lalu saat aku kembali merasakan kebahagiaan, langit di atas pun kembali cerah seperti sedang tersenyum padaku. Semesta, tolong sampaikan padanya, aku sungguh merindukannya. Aku hanya ingin bertemu dengannya, aku hanya ingin dia pulang sebagai doa yang selalu kupanjatkan dan hati yang selalu kurindukan. Tahukah kau Kak, cinta kita tidak pernah salah. Aku berhak memiliki hatimu, jiwamu, dan semua tentangmu. Tolong pulang, Kak,' batin Shakila sambil menatap awan yang mulai berarakan.
***
Darren duduk di atas rumput di sebuah taman sambil menatap langit sore yang begitu cerah. "Shakila, apa kau sudah bertemu dengan jodohmu? Tahukah kau jika aku begitu tersiksa karena rindu ini? Sekarang aku tahu kenapa Tuhan menciptakan sebuah rindu. Tuhan hanya ingin mengajarkan bagaimana agar kita lebih menghargai sesuatu sebelum dia menjauh. Kau tidak akan pernah tahu jika setiap saat aku selalu merindukanmu. Semua tentangmu selalu aku rindukan, entah itu tentang kamu, kita, ataupun kisah kita yang telah usai."
Bersambung...
NOTE:
Yang belum baca Salah Kamar, jadi Shakila itu hasil One Night Stand Delia sama Dimas ya, terus mereka melakukan kesalahan yang sama sebelum Dimas dipenjara, satu minggu sebelum Dimas dan Delia menikah, dan nama anak kedua mereka adalah Sachi. Dimana Sachi? Tunggu kejutan dari othor 🤣🤣🤣ðŸ˜ðŸ˜
Mampir juga ya ke karya bestie othor, novelnya Kak Nirwana Asri, judulnya Click Your Heart. Dijamin ceritanya keren dan seru abis deh.
Blurb:
Click Your Heart
Cindy adalah seorang mak comblang yang mencintai kliennya, Devon Danz Smith seorang CEO muda yang kaya raya. Bak gayung bersambut Devon juga mencintai Cindy. Mereka pun menjalin hubungan.
Tapi pada suatu hari Devon salah paham pada Cindy. Ia mengira Cindy selingkuh dengan tetangganya bernama Tommy. Lalu Devon mengabaikan Cindy. Cindy kembali ke kampung halamannya karena ia harus mengembalikan fasilitas yang diberikan Devon padanya.
Namun, Cindy harus menerima kenyataan pahit karena nenek yang merawatnya sedari kecil meninggal setelah mendengar cucunya hamil di luar nikah.
Lalu bagaimana nasib Cindy selanjutnya?
Siapkan tissu karena cerita ini mengandung bawang. Ada banyak kejutan di dalamnya.
__ADS_1