
❣️ Dua Tahun Kemudian ❣️
Seorang wanita tampak berdiri di balkon apartemennya sambil menatap indahnya menara Eiffel, meskipun jauh dari tempatnya berdiri tapi cahaya dan kekokohan menara itu tetap terlihat menawan, menara yang melambangkan sebuah romansa akan kisah cinta dua insan manusia semakin membuat hatinya kini semakin terasa begitu sesak. Dia lalu mengambil benda pipih yang ada di tangannya, lalu dengan lincah membuka akun sebuah media sosial dan mengetikkan sebuah nama.
"Kenapa aku tidak pernah bisa menemukan akun media sosialmu? Juga dengan wanita pecu*dang itu? Apa kalian menutup diri setelah kalian mengetahui aku tahu yang sebenarnya tentang hubungan kalian berdua? Atau kalian tidak ingin aku tahu tentang skandal kalian di belakangku? Kalian memang benar-benar pasangan munafik."
Wanita itu kemudian meneteskan air matanya. 'Astaga, kenapa aku harus memikirkan mereka lagi? Ini sudah dua tahun dan aku masih tidak bisa melupakan masa laluku? Come on, you must go on. Mereka pasti sudah hidup bahagia, aku juga pasti bisa hidup bahagia. Kenapa aku masih saja seperti ini?' gumam wanita itu sambil meneteskan air mata.
'Kenapa aku harus menangis lagi? Oh tidak, please don't cry.'
'Come on you must go on.'
'Come on, you can do it,' gumam wanita itu sambil menghapus air matanya, hingga tiba-tiba sebuah pelukan pun menempel di tubuhnya.
"I love you," bisik seorang lelaki yang kini sedang memeluknya.
"Oh.. E... Nathan."
"I love you, Cleo."
"Maaf Nathan, tolong lepaskan pelukanmu."
"Oh... Maaf," ucap Nathan lalu melepaskan pelukannya dari Cleo.
"Kau kenapa? Apa kau sedang menangis?"
"Oh.. E.. Ya."
"Memikirkan laki-laki itu lagi?"
__ADS_1
Cleo lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak Nathan, aku tidak pernah memikirkan laki-laki br*ngsek itu lagi."
"Lalu kenapa kau menangis?"
"Papa... Adikku Alvaro, dia tahu akun media sosial baruku, dua hari yang lalu dia mengatakan jika kesehatan papa memburuk dan sudah dua kali masuk rumah sakit dalam beberapa bulan terakhir ini."
"Jadi kau sedang bingung karena itu?"
Cleo pun mengangguk. "Jadi kau ingin pulang ke Indonesia?"
"Ya, aku sangat merindukan kedua orang tuaku tapi aku tidak mau bertemu dengan laki-laki bre*gsek itu."
Nathan pun tersenyum lalu mengambil sebuah kotak cincin di saku celananya. "Will you marry me?" tanya Nathan yang hanya dijawab dengan sebuah senyuman.
"Come on Cleo, sudah cukup penolakan yang selalu kau lakukan, hampir dua tahun kau selalu menolakku. Apa kau tidak pernah bisa jatuh cinta padaku? Atau kau takut aku tidak bisa menjadi ayah yang baik bagi Shane? Apa kau sudah lupa siapa yang selalu menemanimu selama kau hamil? Siapa yang menemanimu saat kau melahirkan? Siapa yang selalu ada di sampingmu saat kau menangis? Itu semua kulakukan karena aku menyayangi kalian berdua, aku bahkan sudah menganggap Shane sebagai anak kandungku saat masih berada di dalam kandunganmu. Apa semua itu masih belum cukup menunjukkan betapa besarnya rasa cintaku padamu?"
"Baik, tapi bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Ya, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Pertemuan kita ini sebuah kebetulan atau sebuah kesengajaan?"
"Apa maksudmu Cleo?"
"Beberapa hari setelah aku sampai di Paris, tiba-tiba kau menjadi tetangga apartemenku, lalu setelah itu aku mendapatkan pekerjaan yang tidak memandang statusku yang sedang hamil, dan ternyata pemilik perusahaan itu adalah salah satu temanmu saat kuliah di London. Maaf jika aku harus bertanya seperti ini padamu, tapi aku rasa ini bukan seperti sebuah kebetulan. Maaf Nathan, aku bukannya menuduhmu tapi ini rasanya sedikit aneh bagiku."
Nathan pun kemudian tersenyum. "Setelah aku lulus kuliah aku memang berencana pergi ke Paris untuk melebarkan bisnis orang tuaku di bidang kuliner karena kembaranku memang berniat hidup di Prancis bersama calon suaminya, dan aku benar-benar tidak menyangka jika ternyata kita bisa tinggal di apartemen yang sama. Lalu mengenai kau yang bisa bekerja di sebuah perusahaan tanpa memandang statusmu itu memang keberuntunganmu, Cleo. Kau tahu sendiri pandangan orang Eropa dan Indonesia tentang sebuah ikatan pernikahan itu berbeda, jadi asal kau memiliki kriteria yang sesuai untuk bekerja di perusahaan mereka, statusmu bukankah sebuah masalah bagi mereka. Apa kau tidak sadar semua kebetulan ini menunjukkan jika aku sebenarnya adalah jodohmu? Lalu kenapa kau masih menolakku, Cleo?"
Cleo pun hanya tersenyum kecut. "Come on Cleo, menikahlah denganku. Ayo kita pulang ke Indonesia, kau bisa bertemu dengan orang tuamu, dan tidak perlu cemas menghindar dari laki-laki itu karena kau sudah menjadi milikku. Jika dia bisa hidup bersama wanita lain, kenapa kau tidak? Kau juga harus bisa menunjukkan kalau kau bisa hidup bahagia tanpa dirinya, apa kau mengerti?"
__ADS_1
Cleo pun perlahan menganggukkan kepalanya. "Lalu apa kau mau menerima cintaku?" tanya Nathan sambil membuka kotak cincin di depan Cleo.
"Ya."
"Terimakasih Cleo!" teriak Nathan kemudian memeluk Cleo.
"Maaf Nathan tolong jangan memelukku seperti ini."
"Kenapa?"
"Bukan muhrim."
"Oh, baiklah," jawab Nathan sambil tersenyum.
'Akhirnya aku bisa memilikimu, Cleo. Lihat saja, suatu saat kau pasti bisa jatuh cinta padaku, semua sudah kulakukan untuk mendapatkanmu termasuk memata-matai semua yang terjadi di hidupmu. Aku sudah memperkirakan sesuatu yang buruk pasti sedang terjadi di hidupmu saat aku tahu kau sedang bertengkar dengan seorang wanita di lobi apartemenmu dulu, lalu kejadian saat kau melarikan diri setelah kau selesai wisuda hingga aku bisa tahu tempat tinggalmu di sini dan memberikan pekerjaan padamu, itu karena aku memata-mataimu, dan itu bukan hanya sebuah kebetulan semata. Bukankah aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk bisa mendapatkanmu dengan berbagai cara.' gumam Nathan sambil tersenyum kecut.
🍒🍒🍒
Seorang wanita tampak mengamati laki-laki yang kini sedang berdiri sambil memandang sebuah rumah yang ada di samping rumahnya dengan tatapan kosong.
"Kak Aleta, apa kita bisa pulang sekarang?" ucap sebuah suara yang membuyarkan lamunannya.
"Oh ya kita pulang sekarang saja, sebentar lagi kau berangkat kerja, maaf jika aku sudah merepotkanmu."
"Tidak apa-apa Kak, kakak jadi seperti ini juga karena bekerja demi aku dan mama kan?" jawab adiknya sambil mendorongnya kursi roda yang dinaiki oleh Aleta.
Aleta pun hanya tersenyum.
'Bukan itu adikku, aku jadi seperti ini karena obsesi dan keegoisanku yang membuat hidupku dan hubungan sepasang dua orang yang saling mencintai hancur, dan inilah yang kudapat. Kelumpuhan dan cacat fisik di separuh bagian tubuhku karena sebagian saraf di tubuh ini rusak, aku bahkan tidak mendapatkan apapun dari obsesi dan keegoisanku, kecuali hukuman dari Tuhan. Hukuman yang kurasa memang pantas bagiku.'
__ADS_1