Bed Friend

Bed Friend
Ungkapan Cinta


__ADS_3

Alvaro sebenarnya merasa terkejut dengan pertanyaan Laurie. Dia pun hanya terdiam, sambil menatap Laurie dengan tatapan kosong. Alvaro pun bingung harus menjawab apa, sebenarnya dia ragu tentang isi hatinya. Sejujurnya dia tidak ingin kehilangan Laurie, tapi dia tidak yakin jika yang dirasakan oleh hatinya itu disebut dengan cinta. Entah mengapa dia takut tidak bisa membahagiakan seorang Laurie yang begitu sempurna di matanya.


Laurie cantik dan kaya, tidak sebanding dengan dirinya yang hanyalah dokter biasa. Apalagi dia pernah mengalami penolakan berulang kali oleh Luna yang membuatnya merasa sedikit trauma jatuh cinta, lebih tepatnya trauma harus kecewa karena cinta. Alvaro kemudian mengambil nafas lalu menghembuskannya perlahan. Namun, saat akan menjawab pertanyaan Laurie, tiba-tiba posel Laurie berbunyi. Laurie yang merasa putus asa karena tidak kunjung mendapat jawaban dari Alvaro kemudian mengangkat panggilan telepon itu, yang ternyata dari Nala.


[Halo Nala.] jawab Laurie, Nala yang sebenarnya hanya sekedar iseng menelepon Laurie karena penasaran dengan apa yang dilakukan Laurie dengan Alvaro pun merasa sedikit gugup.


[O-oh iya, Laurie. Apakah aku menggangumu?]


[Tentu saja tidak Nala, memangnya ada apa?]


[Emh, aku hanya ingin menanyakan kabarmu saja Laurie. Tadi aku menelepon Tante Olivia dan dia mengatakan kalau kau pergi dengan Alvaro untuk menghindar dari Zack.]


[Iya Nala, saat itu aku merasa sangat bingung ketika kau memberi tahu kami kalau Zack mengurungkan niatnya untuk pergi ke Macau. Lalu, tiba-tiba Alvaro menawarkan bantuannya untuk menemaniku pergi menjauh dari Zack.]


[Oh, memangnya kemana kalian pergi?]


[Ke kampung halaman Papanya Alvaro, jauh dari ibu kota. Dan saat ini kami cukup aman.]

__ADS_1


[Syukurlah Laurie, tapi bukankah Zack sudah mau melepaskanmu bahkan dia juga mengajukan proses cerai padamu, Laurie?]


[O-oh iya, aku tahu itu Nala. Tapi kami memang memutuskan untuk berlibur beberapa hari di sini. Mungkin selama satu minggu, setelah itu kami juga pulang ke kota.]


[Oh iya Laurie selamat bersenang-senang.]


[Terima kasih, Nala.]


[Aku tutup dulu teleponnya Laurie, sebentar lagi aku harus pergi dengan teman-temanku.]


[Iya Nala.]


Rasanya seharian terus menerus menangis terasa begitu melelahkan baginya. Belum lagi, kalau Zack sampai tahu dia menangis, pasti mafia itu akan membentak Nala kembali yang semakin membuatnya merasa sedih. Setelah menutup telepon itu, Nala kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruangan Zack, sesekali dia melirik Zack yang saat ini juga sedang terlelap setelah dia makan siang dan minum obat. Ya, meskipun acara makan siang itu penuh kekacauan karena dia terlalu dalam menyuapkan makanan ke dalam mulut Zack yang akhirnya membuat Zack tersedak dan memuntahkan makanannya. Tak berapa lama, Nala pun terlelap di atas sofa itu. Tepat di saat dia mulai terlelap, Zack tampak membuka matanya, lalu melihat Nala yang kini tidur di atas sofa.


Melihat Nala yang kini terlelap Zack lalu perlahan turun dari atas brankar dan mendekat ke sofa tempat Nala tidur, meskipun dia turun dengan begitu bersusah payah sambil membawa infus di tangan kirinya. Zack kemudian duduk di samping Nala, menatap wajah wanita cantik itu yang sedang terlelap lalu menarik kedua sudut bibirnya.


"Dasar wanita siluman! Semakin mengenalmu lebih jauh, aku merasa semakin penasaran siapa dirimu sebenarnya. Kau orang miskin? Benarkah seperti itu? Kalau kau benar-benar orang miskin, kau tidak mungkin semanja ini. Kau juga tidak mungkin tidak bisa menyuapkan makanan pada orang lain. Lihat dirimu, kau bahkan begitu manja dan percaya diri! Tidak ada orang miskin yang begitu manja dan penuh percaya diri seperti dirimu. Kau benar-benar aneh, tapi kau lihat saja suatu saat nanti aku pasti akan tahu jati dirimu yang sebenarnya," ujar Zack.

__ADS_1


Dia kemudian menyelimuti tubuh Nala yang kini mulai terlihat menggigil karena tidur di bawah AC. Setelah itu, Zack kembali lagi ke brankar di ruang perawatan itu.


***


Sementara itu, Laurie yang baru saja menutup panggilan telepon dari Nala, kemudian menatap Alvaro kembali.


"Siapa yang meneleponmu?"


"Apa urusanmu? Apa pentingnya bagimu? Bukankah kita hanya sebatas dokter dan pasien?"


Alvaro pun tersenyum. "Aku mendengar suara seorang wanita, apa itu Tante Olivia? Apa dia menanyakan keadaanmu?"


"Bukan, itu bukan mama. Tapi sepupuku yang cantik dan seksi itu."


"Maksudmu Nala?" tanya Alvaro sambil tersenyum. Melihat senyum di wajah Alvaro, entah mengapa hati Laurie merasa begitu panas, apalagi saat mengingat beberapa hari yang lalu, dia sempat melihat Nala tengah menggoda Alvaro.


"Kau kenapa? Kenapa setelah aku menyebut nama Nala tiba-tiba raut wajahmu berubah ceria seperti itu? Apa kau rindu pada Nala?"

__ADS_1


"Laurie, aku mau jujur padamu, agar kau tidak salah paham, apalagi Nala adalah saudara sepupumu. Aku juga ingin menjelaskan perasaanku yang sebenarnya. Beberapa hari yang lalu memang ada ungkapan cinta..."


"Apa? Ungkapan cinta? Baiklah Alvaro, aku sudah tau jawabannya!" bentak Laurie sambil berlari meninggalkan Alvaro masuk ke dalam kamarnya.


__ADS_2