Bed Friend

Bed Friend
Maafkan Putriku


__ADS_3

Vansh kemudian merebahkan tubuhnya kembali di atas ranjang. 'Liontin itu, sepertinya aku tidak asing dengan liontin itu. Tapi dimana? Ah mungkin hanya perasaanku saja,' gumam Vansh sambil menghembuskan nafas panjangnya. Tak berapa lama, Sharen pun masuk ke dalam kamar itu lagi.


"Permisi, Kak. Aku mau mandi."


"Silahkan, Sharen."


Share kemudian masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Vansh kini duduk di atas ranjang dengan perasaan yang begitu berkecamuk. "Queen, sebenarnya kebenaran apa yang kau tutupi di masa lalu? Kenapa kau meninggalkanku dengan begitu banyak rahasia? Apa yang sebenarnya telah terjadi, Queen? Kenapa kau merasa sangat bersalah jika mengingat masa lalu tentang kita?" ucap Vansh sambil menatap foto almarhum istrinya di ponselnya.


CEKLEK


Pintu kamar mandi pun terbuka. Vansh lalu menatap wajah Sharen yang sambil mengerutkan keningnya. Sharen yang melihat Vansh menatapnya, kini terlihat begitu salah tingkah.


"Ada apa Kak?" tanya Sharen. Vansh pun tersenyum.


"Jangan berpura-pura membasuh wajahmu untuk menutupi air matamu, karena air mata itu hanya bisa dihapus dengan keikhlasan. Cobalah untuk berdamai dengan takdir meskipun begitu banyak air mata yang mengalir, mungkin air mata itu adalah cara untuk mencapai ikhlas di dalam hatimu."


"Terimakasih banyak, Kak Vansh. Kau sangat baik padaku, kau dan Tante Calista tidak pernah memandang sebelah mata padaku meskipun kalian tahu kesalahanku begitu besar pada kalian semua."


"Tidak ada yang memandang sebelah mata padamu, Sharen. Semua orang menyayangimu dan memberimu semangat untuk memperbaiki masa lalu."


"Tidak Kak, tidak semua. Nathan dan Papa bahkan sangat membenciku."

__ADS_1


"Yang mereka butuhkan hanya waktu, Sharen. Seiring berjalannya waktu, mereka pasti akan menerimamu kembali."


"Aku juga berharap seperti itu, meskipun rasanya begitu sakit, dan aku memilih diam karena tidak semua orang mengerti apa yang kurasakan. Kesalahan terbesarku adalah mencintai seseorang hingga tidak tahu bagaimana caranya berhenti, dan bodohnya aku dia selalu menjadi alasanku untuk tidak mencintai yang lain, padahal aku sudah tahu hatinya sudah menjadi milik yang lain."


"Sudahlah Sharen, sekarang bukan waktunya untuk menyesali itu. Bukankah tadi aku mengatakan padamu agar terus berjuang keluar dari jerat masa lalumu? Aku yakin, kau pasti bisa Sharen."


"Iya Kak Vansh."


"SHAREN! VANSH!" Teriak sebuah suara dari arah bawah.


"Itu suara Mama Inara, ayo kita turun. Pasti makan malam sudah siap."


"Iya Sharen. Ayo kita mulai lagi!"


"Apa kau sudah lupa kau harus berpura-pura menjadi istriku?"


"Hahahaha, ini benar-benar lucu."


Vansh pun tersenyum melihat Sharen yang tertawa. "Bagaimana rasanya tertawa setelah begitu banyak air mata?"


"Menyenangkan, sekali lagi terima kasih, Kak."

__ADS_1


"Ya, ayo kita turun sekarang."


Sharen lalu menganggukan kepalanya kemudian berjalan mengikuti Vansh di belakangnya.


...***...


"Menyebalkan sekali Tuan Muda Dingin itu, semoga setelah mengembalikan jaket ini, aku tidak bertemu dengannya lagi," gerutu Maya.


"Bagaimana jika aku membuat kue saja untuknya besok, akan kutunjukkan jika kue buatanku pun tak kalah lezatnya dengan kue yang dijual di toko kue bermerek milk artis-artis itu," gerutu Maya. Dia kemudian beranjak dari tempat tidurnya lalu melangkahkan kakinya ke arah pintu. Namun saat akan membuka pintu kamar itu, tiba-tiba ponsel Maya pun berdering.


Maya kemudian membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah tempat tidurnya kembali. Dia kemudian mengambil ponsel itu dan melihat sebuah nomor tanpa nama di ponselnya.


"Nomor siapa ini? Ah mungkin saja milik Tuan Dingin itu, lebih baik kuangkat saja," ucap Maya. Dia kemudian mengangkat telepon itu.


[Halo.] jawab Maya.


[Halo, benarkah saya berbicara dengan Maya?] tanya sebuah suara di ujung sambungan telepon.


'Suara wanita? Jadi ini bukan nomor Tuan Dingin itu?' gumam Maya.


[Ya, saya Maya. Apa ada yang bisa saya bantu?]

__ADS_1


Namun tidak ada jawaban, yang terdengar hanya suara isakan. Lalu, sebuah suara serak pun mulai terdengar.


[Maya, apa kau sudah lupa padaku? Aku Tante Reni, mamanya Queen. Maya, tolong maafkan putriku, tolong maafkan Queen.]


__ADS_2