Bed Friend

Bed Friend
Golongan Darah


__ADS_3

"Mama, aku tidak melakukan apapun Ma!"


"Tapi kenapa tiba-tiba Sachi pingsan seperti ini?"


"Aku tidak tahu, saat kami sedang mengobrol tiba-tiba dia pingsan begitu saja."


"Tapi dia tidak mungkin tiba-tiba pingsan seperti ini tanpa alasan yang jelas."


"Aku juga tidak tahu, Ma. Mungkin dia kelelahan."


"Kau benar, mungkin dia kelelahan. Shakila, sekarang cepat kau bantu Mama angkat tubuh Sachi ke kamar!"


"Kita berdua Ma?"


"Tentu saja, Sayang... Bukankah kau tahu Papa sedang membantu Oma menyelesaikan urusan bisnisnya?"


'Dasar kurang ajar kau Dea! Aku tahu saat ini kau pasti sedang berpura-pura!' batin Shakila. Dia kemudian terpaksa mengikuti perintah Delia.


Dengan bersusah payah, mereka kemudian mengangkat tubuh Dea ke dalam kamar. Saat akan menaruh tubuh ramping tersebut, tiba-tiba sebuah pikiran nakal pun muncul di benak Shakila. Dia tampak tersenyum menyeringai kemudian mencubit tangan Dea.


"AWWWWW!" pekik Dea setelah Shakila mencubitnya.


"Sachi, kau sudah sadar?" tanya Delia saat melihat Dea yang tiba-tiba membuka matanya sambil berteriak.


'Dasar ulat bulu! Kau benar-benar licik Dea! Aku harus berhati-hati menghadapi wanita menjijikan seperti dirimu!' batin Shakila.


Sementara Dea menatap Shakila dengan tatapan nanar yang dibalas tatapan tajam oleh Shakila.


"Dea, kau sudah siuman?" tanya Shakila smabil tersenyum kecut.


"Sudah, Kak. Terima kasih banyak sudah membawaku ke kamar."


Delia kemudian mengelus wajah Dea. "Sachi, kau kenapa? Kenapa kau tiba-tiba pingsan, Nak? Apa kau masih tidak sehat?"


Dea menyunggingkan senyum tipisnya. "Mama, mama tahu kan kalau aku menderita penyakit jantung bawaan sejak kecil? Kondisi kesehatan tubuhku tidaklah seperti orang-orang pada umumnya, Ma. Saat aku mendapatkan sedikit tekanan ataupun sesuatu hal yang menggangu perasaanku, kondisiku langsung menurun."


"Astaga, kasihan sekali. Sachi sayang, sebaiknya kau istirahat saja..." Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba Shakila sudah memotong perkataan Delia.


"Ma, coba Mama ingat-ingat kembali, apakah saat Mama mengandung Dea, dokter kandungan yang memeriksakan kandungan Mama apa pernah mengatakan kalau janin yang Mama kandung menderita suatu kelainan? Kelainan jantung seperti yang Dea alami saat ini?"


Delia pun tampak mengerutkan keningnya. 'Kak Shakila memang benar-benar brengsek!' batin Dea.


"Emh Kak Shakila bukankah saat di dalam kandungan kelainan pada organ tubuh akan sangat sulit untuk dideteksi?"


"Kata siapa Dea? Oh mungkin kau tidak tahu saat pertama kali seorang wanita memeriksakan kandungan, yang diperiksa adalah organ jantungnya? Baik itu pemeriksaan lewat USG atau dengan menggunakan alat pendeteksi detak jantung sederhana. Jadi, saat ada kelainan jantung pada janin yang diperiksanya, seorang dokter kandungan akan langsung tahu jika janin yang diperiksanya ada suatu kelainan."


'Dasar brengsek!' umpat Dea kembali di dalam hati.


"Mama, coba Mama ingat-ingat, apa dulu saat Mama mengandung Dea, dokter pernah mengatakan kalau janin di dalam perut Mama menderita kelainan jantung?"


Delia pun tampak mengerutkan keningnya kembali. "Sepertinya tidak," ucap Delia lirih.


"Jadi... "


"Awww Mamaaaa!" pekik Dea, saat Shakila belum menyelesaikan kata-katanya.


"Sachi, kau kenapa Nak?"


"Sakit, sakit Ma," jawab Dea sambil memegang dadanya.


"Shakila, sebaiknya kau tidak usah bertanya hal-hal seperti ini, Nak. Mungkin saja dulu kelainan itu belum terdeteksi oleh Dokter saat Sachi di dalam kandungan Mama."

__ADS_1


Dea pun tersenyum sinis saat Delia membelanya. "Awww Ma, sakit Ma!" pekik Dea kembali.


"Sachi, sebaiknya kau istirahat saja, Sayang. Jangan berfikir yang terlalu berat. Dan kau Shakila, kau tolong jangan ganggu adikmu dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya tertekan."


"Awwww Ma, sakit!"


Melihat tingkah Dea, Shakila pun tersenyum kecut. 'Lihat pembalasanku!'


"Emh Mama, sepertinya sakit jantung Dea semakin bertambah parah. Mama, aku tidak mau sesuatu terjadi pada Dea. Apalagi sebentar lagi dia akan menikah dengan Devano. Apa Mama mau Dea tidak bisa melayani suaminya karena kondisinya semakin tidak memungkinkan? Coba Mama pikir, apa kata keluarga Devano kalau istri dari seorang Devano ternyata sakit-sakitan?"


"Shakila tolong kau jangan bersikap seperti itu. Kenapa kau malah semakin menakut-nakuti adikmu?"


"Mama, justru aku sedang mencari jalan keluar dari masalah ini. Bukankah Mama juga ingin Dea bisa sembuh dan melakukan aktifitas seperti manusia normal yang lain?"


"Tentu saja, Shakila. Mama juga ingin Sachi bisa sembuh tanpa harus merasakan sakit lagi. Memang apa yang harus kita lakukan, Shakila?"


"Transplantasi jantung, Ma. Hanya itu yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan Dea."


"Astaga, kau benar juga Shakila. Kau benar! Hanya itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk menyembuhkan Sachi."


Mendengar perbincangan Shakila dan Delia, Dea pun tersenyum. "Sachi, kau mau kan melakukan operasi transplantasi jantung?"


"Iya Ma, aku mau," jawab Dea disertai dengan raut wajah bahagia.


'Bagus,' batin Shakila.


"Kalau begitu, ayo kita ke rumah sakit sekarang!"


"Ke rumah sakit sekarang?" tanya Delia.


"Iya Ma. Bukankah sebelum melakukan transplantasi perlu dilakukan pemeriksaan terlebih dulu untuk mendapatkan data agar bisa menemukan donor jantung yang cocok untuk Dea?"


"Kau benar juga Shakila. Sachi, sebaiknya kita ke rumah sakit sekarang, Nak."


"Golongan darah? Untuk apa, Kak?"


"Bukankah saat seseorang melakukan operasi, biasanya ada salah satu pihak keluarga yang diperlukan sebagai cadangan donor darah jika terjadi hal yang tidak diinginkan? Misalnya kehilangan darah terlalu banyak. Emh begini Dea, golongan darah Papa A, sedangkan golongan darah Mama O. Golongan darahmu apa? Seperti Papa atau Mama?'


DEG


Jantung Dea pun seakan berhenti berdetak. 'Golongan darah Papa A? Dan golongan darah Mama O? Sedangkan aku? Golongan darahku B? Astaga jadi benar aku bukan anak kandung dari mereka? Oh tidak! Aku bukan anak kandung dari mereka?' batin Dea kembali. Tubuhnya kini bergetar, wajahnya terlihat memucat, keringat dingin pun mulai keluar dari tubuhnya.


"Dea, kenapa kau diam, Dea?" tanya Shakila.


"Sachi ayo kita ke rumah sakit sekarang!" tambah Delia. Namun Dea hanya diam membisu.


'Tidak, ini tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh membawaku ke rumah sakit. Itu sama saja membongkar jati diriku sendiri kalau ternyata aku bukan anak kandung dari mereka. Rasanya sungguh menyesakkan dada, aku bukan bagian dari keluarga ini?'


"DEAAAA!" panggil Shakila kembali dengan sedikit berteriak.


"Oh eh iya, Kak."


"Ayo kita ke rumah sakit sekarang!"


"Oh, emh, e, aku tidak... "


"Tidak apa? Ayo Dea. Kita ke rumah sakit sekarang!" ujar Delia sambil menuntun tubuh Dea keluar dari kamarnya.


'Brengsekkk aku harus mencegah mereka agar tidak membawaku ke rumah sakit'


Shakila terkekeh melihat Dea yang kini terlihat panik. "Ayo cepat Dea! Jangan lupa cocokkan golongan darahmu dengan Papa dan Mama ya!" ledek Shakila yang kini menuntun Dea.

__ADS_1


'Brengsekkkk! Sekarang apa yang harus kulakukan?'


NOTE:


mampir juga ya ke karya besti othor punya Kak Arandiah dijamin ceritanya keren abis.



Blurb:


Derry Ghazanvar, seorang pria dewasa berusia 28 tahun. Selama 13 tahun hidup dalam pengasingan, akhirnya ia bisa kembali untuk mewarisi dunia bawah dari sang Ayah, Deva Ghazanvar. Menjadi pemberontak dalam keluarga, membuat Derry terpaksa harus melawan ayahnya dan berusaha menculik sang ibu untuk melindunginya. Pertarungan pun tak terelakkan, hingga membuat Derry hilang karena kecelakaan.


Sebuah Obsesi dimulai saat Derry menjadikan seorang wanita yang sudah menolongnya sebagai tawanan. Edrea Chandara, wanita malang yang hidup dalam penjara cinta sosok pria kejam, yang bisa membunuhnya kapan saja. Hidup dalam tekananan obsess sang suami, membuat ia tidak tahan dan ingin melarikan diri. Bahkan, Edrea tak sungkan untuk membunuh suaminya.


Apa penyebab Derry ingin menculik ibunya dan memisahkannya dari sang ayah? Lalu, bagaimana kah rencana Edrea untuk melarikan diri dari obsesi gila suaminya?


CUPLIKAN BAB:


Selamat membaca ...


****************


Dorr!


Dorr!


Dorr!


Terdengar suara tembakan di jalanan yang sepi. Seorang pria tampan tengah menembakkan timah panas ke arah mobil yang sedang mengejarnya di belakang. Dengan lihai ia menembak sambil mengemudi. Tak peduli suara isak tangis sosok wanita paruh baya yang ada di sampingnya yang terus berusaha menghentikan aksi sang putra.


“Nak, apa yang kau lakukan? Cepat berhenti dan lepaskan Mommy,” pinta sosok wanita yang tak lain adalah Davina.


Ia sedih karena merasa penculikan yang dilakukan oleh putranya, mengingatkan ia pada kejadian beberapa puluh tahun yang lalu. Saat Deva menculik dan menghancurkan hidupnya. Namun, putranya yang tak lain adalah Derry tetap teguh dan tak mengindahkan permintaan sang ibu.


“Nak kau salah paham pada Daddy mu. Bukankah kau tahu dia begitu mencintai kita semua,” ucap Davina lagi berusaha memberi pengertian pada sang putra yang sangat keras kepala.


Dorr!


Dorr!


Dorr!


Mobil dari arah belakang pun, yang tak lain adalah Deva, tak mau kalah dan menembakkan timah panas itu ke arah mobil yang dikendarai oleh putra yang sedang menculik sang istri, Davina.


“Bedebbah! Aku tidak pernah berpikir jika putraku sendiri menjadi pemberontak dan ingin melawan ku. Bahkan anak kurang ajar itu ingin membawa istri yang sangat aku cintai. Sepertinya Daddy terlalu memanjakan mu nak, hingga kau berani membawa istriku pergi. Maka jangan salahkan Daddy jika aku memberikan mu pelajaran karena sudah membawa wanita yang kucintai tanpa izin dariku,” geram Deva yang masih lihai mengendarai mobil dengan menggunakan senjata api, dan terus melajukan kendaraannya mengejar mobil putranya.


Derry Ghazanvar, seorang pria dewasa berusia 28 tahun. Selama 13 tahun hidup dalam pengasingan, akhirnya ia bisa kembali untuk mewarisi dunia bawah dari sang Ayah, Deva Ghazanvar.


Memiliki paras yang tampan dan juga manis, tak menjamin jika sosok penguasa kegelapan itu berhati lembut. Tubuhnya yang tegap dan kekar, alis yang lebat dan mata bagaikan elang, membuat ia jadi idaman para wanita yang belum tahu sifatnya yang kejam. Ia bahkan memilik wajah yang menenangkan dan juga kejam dalam satu waktu.


Tentu saja hal itu sangat menguntungkan baginya untuk mengecoh lawan. Putra pertama Deva dan Davina, yang menjadikan ia sebagai pewaris pertama dalam keluarga Ghazanvar. Ia bekerja sebagai pemimpin di sebuah perusahaan besar dan dunia bawah sindikat obat terlarang dan senjata ilegal, sesuai pekerjaan sang ayah.


Ia baru saja memimpin semua yang diwariskan oleh sang ayah. Tiba-tiba merasa terkejut dan kecewa pada sosok pria yang ia sayangi, dan juga sangat ia percaya sebagai pelindung. Ia tak menduga jika ia bisa menemukan sebuah kenyataan pahit, di mana sang ibu adalah korban tawanan ayahnya.


Ia kecewa dan terpukul atas kematian kakek, nenek, dan juga pamannya yang sudah dibunuh oleh sang ayah. Seketika ia malu karena mempunyai seorang ayah pembunuh keluarga sendiri. Apalagi ayahnya sudah menyiksa sang ibu dengan sangat keji.


“Nak, Momm--.”


“Cukup Momm! Aku hanya ingin memberikan pelajaran pada Daddy. Mommy sudah dibutakan oleh cinta, dan selalu diam saat Daddy terus menyakiti mu! Sekarang Mommy tidak perlu takut, karena sudah ada aku yang akan melindungi Mommy,” sela Derry yang terus bersikukuh membawa pergi sang ibu dari ayahnya.


Ia tak peduli suara tembakan dari arah luar yang berasa dari Deva, dan tak menghiraukan suara tangisan Davina.

__ADS_1


****************


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


__ADS_2