
❣️ POV Darren ❣️
Cantik dan manis, itulah yang kulihat dari adikku yang saat ini sudah beranjak dewasa. Entah kapan tepatnya aku mulai mengaguminya, aku pun tak tahu. Mungkin rasa ini mulai hadir saat kami masih duduk di bangku SMA. Saat aku berada di dekatnya, perhatianku selalu tidak bisa lepas darinya.
Bagiku, tidak hanya tentang wajahnya atau fisik dari Shakila yang menurutku terlihat seksi yang terkadang membuatku enggan berkedip saat melihat kemolekan tubuhnya. Tapi sikap dan perilaku yang sopan sekaligus menyenangkan darinya, dan sialnya aku benar-benar menyukainya. Aku menyukai adikku sendiri, meskipun dia bukan adik kandungku tapi adik tiriku. Dan di saat aku benar-benar merasa jika aku telah jatuh cinta padanya, aku berusaha mengubur rasa ini dengan menghindar darinya.
Bahkan selama satu tahun terakhir aku berusaha membatasi komunikasi dan interaksi dengannya. Aku sangat jarang bicara dengannya, dan selalu bersikap dingin padanya. Namun, ternyata usahaku sia-sia. Setiap melihat wajahnya ataupun mendengar suaranya, aku langsung menggila. Ingin rasanya kupeluk tubuhnya dan kulummat bibirnya saat berada di depanku.
Perasaanku bahkan makin kacau saat orang tua kami berpamitan untuk pergi ke Jogja. Ke rumah orang tua dari Mama Aini yang merupakan ibu tiriku yang sudah sangat menyayangiku sejak lahir.
Inilah pertama kalinya kami ditinggal berdua saat aku sudah merasakan jatuh cinta padanya. Sebenarnya sangat sulit bagiku untuk menahan rasa yang begitu berkecamuk di dalam hatiku. Sangat sulit rasanya untuk menahan bibir ini untuk tidak bicara padanya. Aku pun berusaha menghindar dengan pulang larut malam agar aku tetap bisa menjaga hati dan nafsuku.
Malam ini, menjelang tengah malam, aku baru pulang ke rumah. Seharian aku mencari ketenangan untuk mengendalikan hati ini karena perasaanku padanya semakin menjadi. Aku membuka pintu rumah dengan perlahan, lalu bergegas masuk ke dalam rumah.
Namun, saat aku melewati ruang tengah, kulihat Shakila tengah tertidur dengan kepala yang dia rebahkan di atas meja, di atas tumpukan draf tugas miliknya dengan laptop yang masih menyala. Susah payah aku menahan gejolak di hatiku selama satu hari ini, lalu semuanya hancur saat melihat Shakila yang saat ini ada di depanku.
__ADS_1
Aku kemudian duduk di sampingnya, kuraba setiap inchi wajahnya dengan perlahan. Bulu mata yang begitu lentik, hidung yang mancung, dan bibir yang tipis, semua begitu menggoda bagiku. Argh, aku pun tersadar dari lamunanku. Aku kemudian mematikan laptopnya lalu membawa laptop dan tumpukan draf tugas miliknya ke dalam kamarnya dan menaruhnya di atas meja.
Setelah itu, aku kembali ke ruang tengah tempat Shakila tertidur lalu menggendong tubuhnya ke dalam kamarnya. Aku tahu, jika dia tidur dia akan sangat sulit bangun jadi aku tidak perlu merasa khawatir jika dia terbangun saat aku mengangkat tubuhnya ke dalam kamar.
Namun saat aku masih menggendong tubuhnya, tiba-tiba aku melihat sesuatu yang begitu menggoda naluri kelaki-lakianku karena piama yang dikenakan olehnya terbuat dari bahan satin yang tipis. Buah dadanya yang kini menempel di dadaku pun semakin membuat naluri kelaki-lakianku bergejolak. Apalagi saat aku menaiki tangga.
'Shhhhiittt! Dia tidak memakai bra!' gumamku saat buah dadanya menempel di dadaku yang membuat juniorku mulai bereaksi. Aku pun menelan salivaku dengan kasar sambil menahan hasrat yang semakin menggebu-gebu.
Aku kemudian bergegas masuk ke dalam kamar Shakila dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menahan nafsuku. Namun, saat aku baru saja akan melangkahkan kakiku. Tiba-tiba jiwa nakalku kembali merasuk ke dalam hatiku.
Akhirnya, aku pun memundurkan tubuhku, dan langsung bergegas menuju ke kamarku mencoba untuk memejamkan mataku meskipun rasanya begitu sulit, sangat sulit mengendalikan hati ini hingga membuatku tidak bisa tidur selama semalaman.
Aku tak tahu entah berapa lama mata ini terbuka di atas ranjang, saat menyadari cahaya matahari telah masuk melalui celah gorden, aku pun bergegas bangkit dari atas ranjang lalu menuju ke meja makan karena perutku sudah merasa sangat lapar.
'Untung Shakila belum bangun,' batinku saat melihat seisi rumah yang kini tampak sepi. Aku kemudian duduk di atas kursi dan mengambil selembar roti tawar dan selai. Namun, saat aku baru saja akan memakan sarapanku, sosok Shakila datang dan menghampiriku.
__ADS_1
'Siaaal dia belum memakai bra!' umpatku dalam hati saat melihat tubuh moleknya yang kini berjalan mendekat ke arahku dengan buah dada yang begitu terlihat di balik piama tipisnya.
"Selamat pagi Kak," sapa Shakila.
Aku hanya terdiam, bukannya aku sombong tapi aku sedang mengendalikan hatiku, mengendalikan hasrat dan nafsuku melihat wanita cantik yang ada di hadapanku. Aku pun hanya bisa menatapnya dengan tatapan tajam, menikmati makhluk paling indah yang pernah kutemui sambil menahan rasa yang begitu bergejolak di dalam hatiku.
"Ada apa, Kak?" tanya Shakila kembali. Dengan mengumpulkan keberanianku, akhirnya aku pun membuka mulutku.
"Apa kau tidak pernah mengenakan bra saat kau sedang tidur Shakila?" ucapku sambil mengalihkan pandanganku sebelum aku benar-benar semakin tidak bisa mengendalikan hasratku.
NOTE:
Shakila emang seksi ya, kayak Delia ibunya. Masih inget kan Firman bapaknya Cleo dulu sempet tergoda saat diberi obat perangsang sama Dimas gara² liat tubuh moleknya Delia.
Yang penasaran Dimas sama Delia itu kemana besok² juga othor ceritakan. Sabar ya 🤭
__ADS_1