Bed Friend

Bed Friend
Kekanak-kanakan


__ADS_3

Keesokan Harinya...


Dea turun dari kamarnya lalu berjalan ke arah meja makan sambil tersenyum menyeringai saat melihat Shakila yang sedang sarapan.


Dia kemudian duduk di samping Shakila. "Selamat pagi Kak Shakila," sapa Dea. Shakila lalu mengangkat wajahnya dan tersenyum pada Dea. 'Kau sekarang boleh sombong padaku Kak Shakila, tapi setelah ini kau akan tahu akibatnya kalau bermain-main denganku Kak,' batin Dea di dalam hati.


Shakila melirik ke arah Dea yang sedang asyik menikmati sarapan. 'Kau pikir kau bisa menang Dea, hari ini juga aku akan membongkar identitasmu yang sebenarnya, dan jangan coba-coba berharap kalau kau akan menikah dengan Devano. Karena Devano hanya milik adikku, Luna. Luna, Sachi yang sebenarnya, dan tidak akan kubiarkan kau merebut sesuatu yang sudah menjadi milik adikku. Adikku sudah terlalu lama menderita dan tidak akan kubiarkan dia kembali menderita karena ulahmu,' batin Shakila.


"Bagaimana keadaan Oma, Kak?"


"Dia sudah sadarkan diri."


"Maaf, aku belum sempat menjenguk Oma."


"Tidak apa-apa," jawab Shakila singkat.


Keduanya lalu melanjutkan sarapan mereka dalam keheningan dan larut dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba, sebuah suara memecah keheningan diantara mereka berdua.


"Selamat pagi," sapa sebuah suara yang ada di samping Shakila.


"Selamat pagi Kak Deren," jawab Shakila dan Dea bersamaan. Deren lalu duduk di kursi yang ada di meja makan tersebut, tepat di samping Shakila.


Dea kemudian melirik pada Darren. 'Tampan sekali kekasih Kak Shakila, semoga saja Devano juga tampan seperti dirinya. Memang aku sudah melihat fotonya, tapi bukankah biasanya foto itu sedikit berbeda dengan kenyataan? Dan kuharap Devano bisa jauh lebih tampan dibandingkan yang ada di foto itu,' batin Dea kembali.


"Aku sudah selesai Kak Darren, ayo kita pergi sekarang!" ujar Shakila pada Darren.


"Iya kita pergi sekarang."


"Dea, kami pergi dulu," ucap Deren pada Dea. Sedangkan Shakila hanya tersenyum kecut.


"Iya kalian hati-hati di jalan," jawab Dea. Dia melihat kepergian Shakila dan Darren sambil tersenyum menyeringai. 'Mampus kau Kak Shakila,' batin Dea.


Sementara itu, Shakila yang saat ini sudah ada mobil tampak tersenyum bahagia pada Darren. "Kenapa kau terlihat bahagia sekali Shakila sayang?"


"Bagaimana tidak bahagia Kak, hari ini aku akan membongkar siapa Dea sebenarnya. Akan kubuat dia kembali ke tempat asalnya, tempat dimana dia semestinya berada," ujar Shakila.


"Kau tidak boleh bicara seperti itu Shakila, bagaimanapun juga ini bukan kesalahan Dea sepenuhnya."

__ADS_1


"Memang Kak, tapi dia sangatlah menjengkelkan dan aku tidak suka sifatnya, kalau saja sifatnya tidak seperti itu, mungkin aku akan mempertimbangkan agar dia tetap tinggal bersama kami."


"Iya iya sayang, kita pergi sekarang?"


Shakila menganggukkan kepalanya, kemudian Deren mulai mengemudikan mobilnya. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah Rahma. Namun, beberapa saat yang lalu sebelum mereka sampai, Kayla sudah lebih pergi dulu pergi ke rumah sakit untuk membawakan kebutuhan yang dibutuhkan oleh Rahma dan Arka.


Shakila dan Derren turun dari mobil lalu bergegas ke arah pintu rumah itu. Beberapa kali mereka mengetuk pintu rumah itu tapi rumah itu tampak sepi.


"Kak Deren, bagaimana ini? Kenapa rumah ini terlihat sepi sekali?"


"Iya Shakila, sepertinya mereka semua sedang pergi."


"Astaga, apa yang harus kita lakukan Kak?"


"Sebaiknya kita tunggu saja di sini Shakila, mungkin saja mereka hanya pergi sebentar."


"Iya Kak kita tunggu saja di sini," jawab Shakila. Mereka kemudian duduk di bangku yang ada di depan rumah itu.


***


Viona tampak berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya. Dia terlihat begitu cemas sambil beberapa kali melihat ponselnya.


Viona tampak menautkan alisnya. "Tapi bukankah aku kemarin sudah memberi peringatan pada wanita itu? Apa dia belum pergi juga dari kehidupan Devano? Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan! Lebih baik aku sekarang pergi ke rumah mereka, dan akan kuberi peringatan lagi pada mereka berdua! Terutama kepada wanita sialan itu!"


Namun saat Viona akan melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu, tampak Dea sudah berdiri di depan rumah itu sambil menyunggingkan sebuah senyuman yang begitu manis.


"Selamat pagi Tante Viona," ucap Dea.


"Se-Selamat pagi Sachi," jawa Viona terbata-bata karena terkejut melihat Dea yang kini sudah ada di hadapannya.


"Tante rapi sekali, apa Tante mau pergi?"


Viona pun tampak begitu gugup. Kenudian, tiba-tiba di saat itulah Viona mendapatkan sebuah ide. 'Mumpung aja Sachi di sini, aku manfaatkan saja keberadaannya,' batin Viona.


"Kenapa Tante Viona?"


"Aku tidak apa-apa Sachi. Emh, begini Sachi maukah kau membantuku?" tanya Viona dengan sedikit ragu-ragu.

__ADS_1


"Tentu saja apa yang bisa kubantu Tante Viona?"


"Begini, maukah kau membantuku untuk membuat Devano datang ke sini? Dari kemarin ponselnya sangat susah dihubungi, pasti dia sangat sibuk dengan pekerjaannya, sehingga mengabaikanku begitu saja."


"Apa? Devano mengabaikan Tante?"


"Emh sebenarnya Devano anak yang baik, hanya saja kalau dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dia bisa saja melupakan tante, karena dia merasa dia itu sudah besar dan bukan anak mami itu maksud tante."


"Oh seperti itu?"


"Iya, Devano sangatlah mandiri. Dia tidak mau diurusi oleh orang tuanya lagi, dia juga anak yang sangat manis dan berbakti pada kami. Kau pasti tidak menyesal memiliki suami sebaik Devano. Kalian pasti akan jadi pasangan yang sangat cocok."


"Tante bisa saja."


"Iya, itulah kenyataannya Sachi. Kau mau kan membantuku?"


"Memangnya apa yang harus kulakukan Tante?"


"Emh begini," jawab Viona dengan membisikkan sesuatu di telinga Dea yang membuat dia tersenyum.


"Bagaimana kau mau kan?"


Dea kemudian mengangguk. "Iya tante."


"Bagus Sachi, akan kupastikan hari ini juga kau bertemu dengan Devano."


"Terima kasih, Tente."


'Dan takkan kubiarkan Devano pergi dari rumah ini. Setelah Devano datang, tak akan kubiarkan Devano pergi dari rumah ini, dan menemui wanita sialan itu lagi karena Devano harus menikah dengan Sachi secepatnya. Hahaha,' batin Viona dalam hati.


***


Sementara itu Devano yang saat ini yang tengah sibuk di kantor tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah suara di ponselnya. Devano pun hanya berdecak sebal, namun ponsel tersebut berulang kali berbunyi. Akhirnya, Devano pun terpaksa mengambil ponsel itu dan melihat sebuah pesan yang dikirimkan oleh nomor tak dikenal yang merupakan nomor dari Dea.


Pesan itu berisi foto yang memperlihatkan Viona sedang terbaring di atas tempat tidur dengan tangan yang terluka, dan dipenuhi dengan darah.


"Astaga apa-apaan apa-apaan ini?" ujar Devano yang kini mulai terlihat panik. Dia kemudian membaca pesan yang di yang ada di bawah foto tersebut.

__ADS_1


"Devano, mamamu melukai dirinya sendiri. Tolong kau pulang dan temui mamamu sekarang."


"Astaga Mama memang kekanak-kanakan dan memalukan sekali," ujar Devano sambil berjalan keluar dari ruangannya.


__ADS_2